Novemberain

Novemberain
Menjadi Pusat Perhatian



Setelah menempun perjalanan tiga puluh menit lebih, akhirnya Naila pun sampai. Untugnya ada aplikasi maps, hingga ia tak sampai kesasar. Ia memarkirkan mobilnya, lalu turun dari mobil sambil membawa kado. Tak lupa, Naila menelfon Alexa untuk memberitahu kalau dirinya sudah ada di depan.


"Nai, kamu dimana?" tanyanya setelah telfon terhubung.


"Aku di depan rumah kamu," jawab Nai.


"Oke, aku otw keluar," jawabnya sambil mematikan hpnya.


Setelah menunggu beberapa menit, Alexa pun keluar menggunakan gaun warna maroon yang sampai di bawah lutut, namun membuat Alexa cantik.


"Ya Tuhan, ini beneran kamu, Nai?" tanya Alexa, sama seperti Bunda Ila, ia juga terpanah dengan kecantikan Naila.


"Yalah, emang siapa lagi. Acaranya sudah di mulai belum?"


"Sudah dari sepuluh menit yang lalu."


"Aku telat dong,"


"Gak papa, lagian acara intinya belum kok, ini baru pembukaan aja."


"Kayaknya banyak yang datang ya."


"Iya, cuma rekan bisnis Mama dan Papa aku, sama beberapa teman kakak aku serta keluarga besar aku," jawabnya membuat Naila makin gugup.


"Sudahlah, jangan gugup. Ayo masuk," Alexa menggandeng tangan Naila. Walaupun Naila sedikit risih, tapi ia memilih pasrah aja. Karena ia pun sebenarnya ingin pulang, andai saja, ia gak  mengingat jika Alexa yang sendiri yang mengundangnya dan memaksanya untuk datang ke acara ini.


 Saat Naila masuk, ternyata acara inti pun di mulai. Naila menunggu beberapa menit sampai akhirnya di puncak acara, barulah Naila dan Alexa masuk melangkahkan kakinya dan membawa Naila bertemu mama dan papanya.


Semua yang melihat ke arah Naila pun merasa kagum dengan kecantikan Naila, apalagi Naila terlihat sangat anggun sekali.


"Ma, Pa. Kenalin ini sahabat aku, Naila namanya," ujar Alexa setelah pemotongan kue selesai.


"Hallo, Nak. Terima kasih ya sudah datang," ujar Mamanya Alexa merasa senang dengan kedatangan wajah yang sangat cantik dan imut ini.


"Sama-sama, Tante. Ini ada hadiah dari Nai, semoga suka," Naila memberikan kado itu kepada Mamanya Alexa.


"Terima kasih ya. Tante dan Om pasti suka sama hadiahnya kamu," balas Mamanya Alexa yang mengambil hadiah itu dan memegangnya dengan pelan, takut jatuh karena ia gak tau isinya apa. Papanya Alexa pun juga mengucapkan terima kasih kepada Naila.


"Naila, kamu di sini?" tanya seseorang yang kenal dengan Naila.


"Loh Mas Adrian, kok Mas Adrian ada di sini?" tanya Naila kaaget.


"Kamu kenal sama Kak Adrian, Nai?" tanya Alexa.


"Iya, aku kenal. Dia sepupunya Kak Alfa," jawab Naila.'


"Kamu kenal Kak Alfa juga?" tanya Alexa kaget.


"Iya, karena Kak Alfa itu sahabatnya Kak Fahmi," sahut Naila.


"Ya ampun ternyata dunia ini sempit sekali ya. Kak Adrian ini kakakku Nai yang pertama, terus ini Kak Andre kakak kedua aku," ucap Alexa memperkenalkakn kedua kakaknya.


"Jangan ... jangan .... " Naila menoleh ke sekitar, dan benar saja. Ia melihat ada Alfa di sana. Bukan hanya Alfa, tapi juga ada Alfira (Adiknya Alfa), Arini (Mamanya Alfa) dan Antoni (Papanya Alfa).


Dan saat ia menoleh ke sekitar lagi, ia melihat Pak Atmaja dan Ibu Maria.


"Kenapa mereka kumpul semua?" gumam Naila yang masih di dengar oleh mereka.


"Karena mereka hadir buat memeriahkan anniversary orang tua aku, Nai," ucap Alexa terkekeh. Alex yang ada di sana pun ikut tersenyum mendengar ucapan Naila itu.


"Bentar ya, Lexa. Aku mau nyapa mereka dulu," ujar Naila namun sebelum itu, ia mengucapkan selamat dan doa untuk Mama dan Papanya Alexa.


Tak lupa ia juga menyapa dan pamit kepada Adrian dan juga Andre serta Alex. Sedangkan Alexa ia mengikuti langkah Naila yang ternyata menghampiri Arini.


"Om, Tante," sapa Naila sambil mencium punggung tangan mereka.


"Tante gak nyangka kita akan ketemu lagi, Nai," ujar Tante Arini terkekeh.


"Iya, Tan. Aku juga gak nyangka. Padahal tadi siang aku pergi ke Mall karena buat beli hadiah."


"Dan Tante pun sama," sahut Arini tersenyum.


Naila menyapa Alfira yang ada di samping mereka dan juga Alfa.


"Tau gitu, tadi Tante akan ngajak kamu berangkat bareng, Nai," tutur Arini.


"Hehe ya, Tan. Sayangnya kita gak tau, Tan," jawab Naila berusaha untuk meredam rasa gugup, dan yang lainnya.


"Kamu kenal sama Alexa?" tanya Alfa.


"Iya, Kak. Alexa sama Alex itu teman aku, bahkan kami satu jurusan dan satu kelas," jawab Naila.


"Oh," jawab Alfa.


"Kapan-kapan datanglah ke rumah Tante, Nai. Bawa temanmu yang satunya itu, siapa namanya?" tanya Arini pura-pura lupa.


"Rani, Tan. Kapan-kapan deh. Soalnya sejak kuliah, aku jarang bertemu Rani. Paling ya mentok chat aja, soalnya Rani sibuk sama kuliahnya sekarang," balas Naila.


"Kamu kok gak bilang dek, kalaul kenal sama Naila?" tanya Alfa ke adik sepupunya itu.


"Ck ... kamu itu."


Dan mereka pun mengobrol sebentar, lalu Naila pamit pergi menghampiri dua orang yang sangat ia kenal. Sedangkan Alexa masih mengobrol sama Alfa dan yang lainnya.


"Assalamualaikum, Om, Tante. Gimana kabarnya?" tanya Naila sambil mencium punggung tangan mereka bergantian.


"Waalaikumsalam. Tante dan Om baik, Nai. Kamu gimana?" tanya balik Ibu Maria. Dia sudah merindukan Naila dari dulu, sayanngya Marfel tak mengizinkan dirinya terlalu dekat dengan Naila. Karena Marfel ingin memberikan kejutan untuk Naila nanti, jika sudah waktunya. Walaupun Ibu Maria, waktu yang tepat itu kapan.


"Alhamdulillah, baik Tan," jawab Naila ramah.


"Sudah lama ya kita gak ketemu, Nai?" tanya Ibu Maria.


"Hehe ya, Tan. Maaf ya soalnya Nai sibuk banget sama kuliah dan bantu Bunda. Jadi gak sempat ke rumah Tante dan Om,"  sahut Naila mencari alasan, karena alasan utamanya adalah Naila dan Marfel sudah tak ada hubungan apa-apa lagi, tak mungkin Naila tetap ke rumah Ibu Maria, untuk apa. Naila gak mau malu karena dikira masih berharap pada Marfel, walaupun kenyataannya emang iya sih.


"Kalau sempat, datanglah ke rumah Nai. Tante kangen sama kamu. Sejak Marfel keluar negeri, Tante sering kessepian di rumah karna Om setelah pulang dari  sekolah langsung pergi ke kantor," ucap Ibu Maria. Memang benar, setelah Pak Atmaja, selaku kepala sekolah, pulang dari sana. Beliau langsung pergi ke kantor menggantikan posisi putranya yang memilih untuk lanjut sekolah di luar negeri dan buka cabang di sana.


"Baiklah, nanti Naila usahakan ke sana ya, Tan."


"Terimakasih ya, Nai. Kamu cantik banget malam ini. Tante sampai pangling,"


"Tante juga cantik banget," puji Naila.


"Boleh Tante foto sama kamu, Nai?" tanya Ibu Maria.


"Boleh, Tan. Boleh banget," jawab Naila.


Lalu Ibu Maria meminta tolong suaminya-Pak Atmaja untuk memfoto mereka berdua. Bukan hanya satu foto, tapi lebih dari sepuluh foto sampai membuat Naila malu sama ornag di sekitarnya yang memperhatikan tingkah Naila dan Ibu Maria. Namun ia gak bisa berbuat apa-apa, selain bisa menuruti calon mantan mertua nya itu.


"Makasih ya, Nai."


"Sama-sama, Tan," jawab Naila. Tanpa sepengetahuan Naila, Ibu Maria langsung mengirim semua foto itu ke Marfel. Dan untungnya Pak Atmaja itu pintar, ia juga mengambil foto Naila yang sendirian dan juga foto Naila bersama istrinya juga.


"Tante dan Om kenal sama Mamanya Alexa?" tanya Naila basa-basi.


"Kenal. Soalnya Pak Adi, Papanya Alexa itu rekan bisnis dan juga teman saat kuliah dulu," jawab Pak Atmaja yang sedari tadi diam.


"Dan Anisa-Mamanya Alexa itu teman arisan Tante," balas Ibu Maria.


"Oh, kamu kok kenal sama itu Pak Antoni dan Ibu Arini, Nai?" tanya balik Ibu Maria.


"Mereka itu orang tuanya Kak Alfa, Tan. Dan Kak Alfa itu sahabat Kak Fahmi. Aku dulu sama Kak Fahmi cukup dekat tapi setelah Kak Fahmi meniggal, aku dan Kak Alfa jadi teman." jawab Naila.


"Fahmi yang kata kamu dulu kena kanker itu?" tanya Ibu Maria yang masih ingat.


"Bener, Tan."


"Terus kok bisa kenal sama orang tuanya segala?" tanya Ibu Maria.


"Panjang ceritanya, Tan. Tapi aku kenal sama mereka itu saaat Kak Alfa sakit. Aku datang bersama Bunda ke sana. Karena Kak Alfa sakit gara-gara aku."


"Oh, gitu."


"Iya, Tante. Terus aku kenal sama Mas Adrian karena waktu itu Mas Adrian juga ada di rumah sakit, jenguk Kak Alfa. Jadinya kenalan deh, tapi siapa sangka kalau ternyata Mas Adrian itu kakak kandungnya Alexa, teman aku. Dan keluarga Kak Alfa, juga saudaranya Alexa. Jadinya ya kayak reunian," jawaba Naila terkekeh.


Ibu Maria dan Pak Atmaja pun ikut tersenyum.


"Kuliah kamu gimana, Nai?" tanya Pak Atmaja.


"Alhamdulillah, lancar jaya Om. InsyaAllah, Nai mau lulus cepat. Mau ambil tiga tahun setengah aja, sama coasnya satu tahun setengah. Biar cepat. Makanya Nai harus belajar lebih ekstra dari yang lain," jawab Naila memberitahu.


"Tapi jangan sampai kelelahan, Nai. Kasihan kondisi tubuh kamu," ujar Pak Atmaja.


"Iya, Om."


Dan ketika Naila asyik mengobrol sama mereka, Alexa datang. Alexa yang belum kenal, akhirnay Naila pun memperkenalkan mereka. Memang Nai tak kenal dengan teman mamanya itu atau teman papanya. Mungkin ada yang kenal, tapi gak banyak, hanya sebagian kecilnya saja..


Mereka pun berbincang dan acaranya baru selesai jam lima sore.


Naila pun pamit keorang tua Alexa, dia juga pamit ke Adrian, Andre, Alex dan Alexa. Lalu ia juga pamit ke Antoni, Arini, Alfira dan Alfa, karena mereka masih mau pulang nanti malam.


"Kamu ke sini naik apa, Nai?" tanya Ibu Maria yang juga mau pulang.


"Naik mobil, Tan," jawab Naila.


"Loh sudah bisa bawa mobil sendiri?" tanya Ibu Maria.


"Alhamdulillah sudah, Tan."


"Syukurlah, kamu hati-hati ya nyetirnya, gak usah ngebut."


"Iya, Tan. Kalau gitu Nai pulang dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Dan setelah mencium punggung tangan mereka. Naila pun masuk ke dalam mobilnya dan pualng dari sana, setelsah melambaikan tangan ke mereka. Setelah Naila pulang, barulah Ibu Maria dan Pak Atmaja masuk ke dalam mobil dan pulang juga karena acaranya sudah selesai. Ibu Maria juga sudah menyapa mereka dan memberikan hadiahnya, begitupun dengan Pak Atmaja.