Novemberain

Novemberain
Marfel Menghibur Naila



Setelah Naila agak tenang, barulah Marfel melepas pelukannya karena ia takut jika ada yang melihatnya.


"Pak, bapak pernah patah hati gak?" tanya Naila setelah sekian lama diam.


"Jangan panggil pak, kalau cuma berdua. Patah hati ya, enggak juga, kenapa? Atau kamu lagii patah hati makanya nangis sampai segitunya?" tebak  Marfel dan Naila pun menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Astaga, siapa yang bikin kamu patah hati? Biar aku yang hajar dia," ujar Marfel kesal.


"Jangan hajar dia, dia sudah gak ada. Lagian dia gak pernah menyakiti saya, yang ada dia selalu memberikan saya kebahagiaan, kebahagiaan yang belum pernah saya dapatkan dari cowok lain selain ayah saya dulu, saat beliau masih hidup," ucap Naila, entah kenapa mendengar ucapan Naila membuat Marfel kesal karna Naila mengatakan bahwa tidak ada yang bisa memberikan kebahagiaan kecuali laki laki itu dan ayahnya. "Apa aku salah start?" tanya Marfel dalam hati.


"Maksud kamu dia sudah gak ada, emang dia udah meninggal?" tanya Marfel penasaran.


"Iya," jawab Naila dengan di iringi tangisan air mata yang keluar lagi.


"Kapan?" tanya Marfel penasaran.


"Kemarin huhu, aku cintaa sama dia, tapi dia ninggalin aku sebelum aku ngungkapin perasaanku," ujar Naila menangis lagi.


Lalu seperti air yang mengalir, Naila membicarakan saat pertemuan pertama dia sama Fahmi, dan perhatian Fahmi selama ini hingga akhirnya Fahmi meninggal.


Dia laki laki berbeda dengan yang lain, dia begitu tulus menyayangiku dan aku bisa merasakan hal itu. Dan aku menyesal karena aku tak mengungkapkan peraaanku padanya di saat saa terakhirnya, padahal dia sudah mengungkapkan apa yang ia rasakan. Aku emang gak peka huhu, saat ini hatiku sakit, Andai tuhan memberikan sekali aja kesempatan, aku pasti akan mengungkapkan betapa aku sangat menyayangi dan mencintainya dan aku ingin dia jadi milikku seutuhnya, aku ingin dia jadi pendamping hidupku walaupun aku tau, mungkin bunda akan menentangnya karena Bunda gak akan membiarkan aku menjalani hubungan sebelum aku bisa menggapai cita citaku.


Dan yah, mulai saat ini aku akan belajar keras agar aku bisa menjadi seorng dokter seperti yang Kak Fahmi inginkan, aku akan berusaha hiks hiks," ucap Naila menangis, saat ini hatinya sakit kembali.


"Ya Tuhan Nai, aku gak menyangka kamu mencintai laki laki itu sampai sebesar itu, bahkan aku lebih dulu mengenal kamu, tapi dia dengan mudahnya masuk ke dalam hidupmu dan menempati posisi terindah di hatimu.  Yah, mungkin dia selalu ada untumu, membuatmu nyaman selama ini, wajar sih jika dia bisa membuatmu jatuh hati sampai seperti ini, aku gak tau, apakah aku harus sedih atau senang. Sedih karena orang yang kamu cintai telah tiada dan senang karena akhirnya aku ada kesempatan buat bisa mengobati luka hatimu dan menggantikan posisi dia di hati kamu," gumam Marfel dalam hati.


"Sudahlah jangan di fikrikan, semua ini sudah takdir dari yang maha kuasa, kita tak bisa berbuat apa apa jika kematian sudah datang menjemputnya. Kamu harus belajar sabar dan ikhlas melepaskan dia pergi, biarkan dia tenang di sisi Nya. Dan kamu fokuslah mengejar cita cita kamu, dan menjadi seperti yang dia inginkan. Oh ya udah bell tuh, sana cepet masuk kelas," ucap Marfel berusaha untuk tenang, padahal ia cemburu karena saat ini hati Naila sudah terisi laki laki lain walaupun laki laki itu kini telah tiada.


"Iya, makasih ya pak udah mau dengerin aku curhat,"


"Iya sama sama, lain kali jangan panggil pak, kalau berdua. Entah berapa kali aku harus ingetin, tetep aja manggil pak mulu, padahal aku aja gak pernah merasa nikah sama ibukmu hem,"


"Hehe bapak ada ada aja, iya sudah aku mau masuk kelas," ucap Naila beruaha tersenyum lalu ia pun pergi meninggalkan Marfel.


"Nai, aku janji aku akan menjadi orang yang bisa mengobati luka hatimu, aku memang bukan orang pertama yang menempati hatimu, tapi aku pastikan aku akan menjadi yang terakhir yang bisa memiliki cinta dan hatimu dan setelah itu kita akan hidup bersama, bahagia selamanya," ucap Marfel sambil menatap kepergian Naila yang diam diam telah masuk ke dalam hatinya.