Novemberain

Novemberain
Gagal Lagi



Di sepanjang jalan, Bunda Ila banyak cerita dan Naila pun hanya diam mendengarkan. "Bunda gak nyangka loh, Nai. Kalau orang tua Alfa itu baik banget, ramah juga sama Bunda. Apalagi Jeng Arini, dia wanita yang sangat lembut. Dan ternyata Alfa itu putra mereka satu-satunya, jadi Alfa itu anak kesayangan mereka dan yang akan jadi penerus usaha mereka kelak," ujar Bunda Ila.


Memang Alfa itu hanya putra satu-satunya di keluarga itu, karena Alfira hanya wanita, dan dia merupakan putri satu-satunya juga di kelurga itu.


"Katanya kamu itu cewek pertama yang Alfa suka, Nai. Sangat di sayangkan sekali, kamu sudah punya pacar, Bunda lihat Alfa itu orangnya baik, walaupun dalam keadan seperti itu, namun Bunda bisa merasakan jika dia itu sangat baik sekali, apalagi keluarganya juga ramah dan lembut, sangat beruntung wanita yang nanti akan jadi istrinya, karena mendapatkan suami yang baik, dan mertua yang baik. Semuanya baik, jadi gak akan ada cerita istri di aniaya, atau mertua yang kejam atau ipar yang suka ikut campur, karena mereka ngerti agama dan bukan dari keluarga toxic," lanjut Bunda Ila, ia masih menceritakan betapa baiknya keluarga Alfa itu.


"Semoga Kak Alfa nanti dapat jodoh yang baik, Bun. Tapi aku harap jika Alfa itu berjodoh dengan Rani sih, soalnya mereka sama-sama baik," ujar Naila.


"Gimana kalau kamu besok aja Rani ke sana, Nai. Siapa tau dengan begitu, mereka akan semakin dekat," tutur Bunda Ila.


"Baiklah, besok akan aku coba datang ke sana bareng Rani."


"Baiklah, apa perlu Bunda yang akan mengantar kalian berdua?"


"Enggak usah, Bun. Aku mau naik sepeda motor aja," ujar Naila dan Bunda Ila pun tak memaksanya.


"Oh ya, kita mau beli apa Nai buat menyambut kedatangan mereka?" tanya Bunda Ila mengingatkan.


"Astagfirullah, aku lupa Bun. Tapi Mas Marfel nelfon pas aku di ruangan Kak Alfa, tapi aku matikan, lalu aku janji akan nelfon dia balik. Tadai hpnya langsung aku matikan datanya, biar gak ada gangguan," ucap Naila sambil menghidupkan datanya. Dan benar saja sudah ada beberapa pesan dari Marfel.


Naila pun segera membacanya.


"Sayang, maaf ya nanti aku gak bisa ke sana. Nenekku meninggal. Aku sebenarnya ingin melamar kamu, sangat ingin. Tapi aku juga gak bisa untuk tidak datang di hari pemakaman nenekku sendiri. Mamaku juga sedari pingsan terus, dan jika sadar, Mama akan menangis histeris, sekarang keluargaku sedang berduka. Aku, Mama dan Papa lagi perjalanan menuju rumah Nenek. Aku minta maaf, karena sudah ingkar janji."


"Sayang, semoga kamu mau memaafkan aku. Maaf sudah mengecewakan kamu."


"Aku pasti akan datang melamar kamu, tapi tidak bisa hari ini. Aku harap kamu mau mengerti posisi aku."


"Sayang, I love you."


"Ada apa, Nai?" tanya Bunda Ila.


"Bun, Mas Marfel dan orang tuanya gak bisa datang hari ini," ujar Naila.


"Kenapa?" tanya Bunda Ila mengerutkan dahi.


"Neneknya Mas Marfel meninggal, dan Tante Maria sampai pingsan, dan menangis histeris setiap kali sadar jika Ibunya sudah tiada," ujar Naila memberitahu.


"Innalillahi. Apakah kita harus ke sana, Nai?"


"Enggak usah, Bun. Lagian aku ini kan masih calon, belum ada status apapun, akunya gak enak sendiri. Tapi Bunda gak marah, kan, soalnya dua kali Mas Marfel gagal, kemaren pergi keluar kota karena kerjaan, dan sekarang, gak bisa datang karena Neneknya meninggal."


"Bunda gak marah, Nai. Lagian itu musibah, siapa yang akan menyangka, jika Neneknya akan meninggal hari ini. IYa, kan?"


"Iya sih, Bun."


"Iya sudah jangan di fikirkan, kalau urusah mereka sudah selesai, pasti mereka akan datang buat melamar kamu. Nah karena Marfel belum tau, kapan dia akan datang melamar. Jadi Bunda akan berangkat besok aja ke Bali."


"Yahhh .... padahal Bunda janji mau seminggu di sini."


"Ya mau gimana, Nai. Bunda janji, karena kan kamu ada yang mau melamar, dan karena ini gak jadi, mending Bunda balik ke Bali kan. Karena masih ada yang harus Bunda urus di sana."


"Ya udah deh, gak papa."


"Jangan cemberut dong. Bunda janji, kalau urusan Bunda selesai, Bunda akan segera pulang, atau jika kamu libur lama, kamu bisa nyusul Bunda ke sana."


"Iya, deh." Naila pun hanya bisa pasrah, karena ia tau kesibukan sang Bunda yang emang gak bisa di abaikan gitu aja. Dan walaupun ia sedikit kecewa sama Marfel, tapi ia juga tak bisa menyalahkan karena memang musibah ini, tidak direncanakan dan Naila akan mencoba mengerti itu.