
Sebelum Naila pencet bell, pintu rumah langsung terbuka lebar. Dan betapa kagetnya dia melihat yang buka pintu itu Marfel. Setelah sekian lama, akhirnya Naila berjumpa lagi dengannya.
Naila masih menatap Marfel yang berdiri di hadapannya, saat ini kadar ketampanan Marfel berkali-kali lipat. Semakin putih terawat. Badan yang menjadi idaman kaum hawa, dan aish, dia benar-benar terlihat sempurna. Entah kenapa jantungnya berdetak cepat, perasaan suka dan cibta seakan mencuat kembali.
Marfel yang ditatap seperti itupun juga merasa gugup, tapi saat ia melihat Naila diantar mobil lain, membuat hati Marfel panas.
"Kamu di antar siapa?" tanya Marfel dingin. Bukannya nanya kabar atau mempersilahkan Naila masuk, dia malah nanya kayak gitu.
"Oh itu, aku di antar Mas Adrian tadi," jawabnya gugup karena melihat kemarahan di mata Marfel.
"Pacar kamu?" todongya.
"Eh .. Bu ... Bukan. Ta ... Tapi emang dia melamar aku sih barusan. Eh .... " Naila menutup mulutnya yang gak mau diajak kompromi. Bahkan Naila memukul kecil mulutnya itu karena gak bisa ngerem.
"APA! Kamu nerima lamarannya?" bentak Marfel membuat Naila ketakutan. Karena sangking takut dan gugup, tanpa sadar dia malah menganggukkan kepala. Padahal tadinya dia mau menggelengkan kepalanya.
"Gila kamu, Nai!" teriak Marfel membuat Ibu Maria yang ada di belakang langsung lari mendengar teriakan putranya itu.
Sedangkan Naila sudah menangis ketakutan karena kni pertama kalinya, ia melihat Marfel emosi dan membentaknya.
"Kamu itu kenapa sih, anak orang kok di bikin nangis," hardik Ibu Maria tak suka. Dia langsung menghampiri Naila dan memeluknya.
"Tanya aja sama dia," sinisnya lalu pergi dari sana. Awalnya ia ingin memberikab kejutan, siapa sangka malah dirinya yang terkejut.
Setelah kepergian Marfel, Ibu Maria langsung mengajak Naila untuk masuk dan duduk di sofa. Naila masih nangis tersedu-sedu. Ia masih takut, dengan sikap Marfel tadi.
Ibu Maria mengelus punggung Naila memberikan ketenangan. Ia tak menyangka, jika putranya itu tega menyakiti dan membentak Naila seperti tadi.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Ibu Maria pelan setelah Naila mulai bisa mengontrol emosinya.
"Sebenarnya ini salah aku, Tante," ucap Naila yang memilih menyalahkan diri sendiri.
"Tadi aku ke sini pakai gojek, dan ternyata sopirnya itu Mas Adrian. Itu loh anaknya yang orang tuanya anniversary. Ingat kan?" tanya Naila dan Ibu Maria mengangguk.
"Nah tadi di mobil Mas Adrian melamar aku. Jika aku mau, dia mau melamar nanti malam secara resmi." Mendebgar hal itu membuat Ibu Maria mulaj sesak.
"Terus kamu menerimanya?" tanya Ibu Maria dan Naila menggelengkan kepalanya. "Enggak, Tan."
Mendengar kata Enggak, Ibu Maria bernafas lega.
"Terus kenapa tadi Marfel marah?"
Dan Naila pun mencritakan kejadian tadi. "Aku tadi ketakutan, aku yang tadinya mau menggelengkan kepala, malah reflek menganggukkan kepala. Aku takut melihat kemarahan Mas Marfel tadi. Apalagi dia bentak aku gitu, bikin aku makin takut."
"Mungkin tadi dia sangat marah karena terlalu cemburu. Apalagi saat tau kalau ada cowok lain melamar kamu, jadi Marfel merasa kalah start."
"Emang Mas Marfel kapan pulangnya, Tan?"
"Tadi malam jam sepuluh. Terus saat tau kamu mau ke sini, Marfel nungguin sejak sejam yang lalu di ruang tamu. Mungkin dia lihat saat kamu turun dari mobil." Karena memang kacanya cukup gelap. Jadi dari dalam dia bisa melihat apa yang ada di luar. Sedangkan di luar gak akan tau, kalau kacanya gelap.
"Tapi kenapa Mas Marfel marah, bukannya aku dan Mas Marfel sudah gak ada hubungan ya Tan?" tanya Naila membuat Ibu Maria, bingung mau ngomong apa. Karena dia gak ikut menjalaninya, tentu dia gak tau apa-apa.
"Mending kamu ke kamar dia sana. Ceritakan kesalahfahaman tadi, pasti saat ini Marfel lagi emosi."
"Tapi aku takut, Tan."
"Dia gak akan nyakitin kamu. Kalau sampai dia bikin kamu terluka, Tante sendiri yang akan mukul dia sampai babak belur. Bagaimanapun kesalahfahaman ini harus segera diakhiri biar gak berlarut-larut."
Mendengar hal itu, Naila mengangguk setuju. Ia pun berjalan ke arah kamar Marfel untuk menjelaskan semuanya.