
Setelah mengelilingi rumah, Marfel membawa Naila ke ruangan sebelahnya, kamar yang tepat berada di kamar yang ditempati oleh Naila tadi.
"Ini kamar siapa?" tanya Naila sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
"Kamar aku."
"Terus kamar yang aku tempati barusan?"
"Kamar aku juga. Aku punya dua kamar, yang kamu tempati itu kamar utama aku, kamar pribadi. Sedangkan kamar ini, sebenarnya ruang kerja aku, tapi ada tempat tidurnya juga, jadi misal aku lelah, aku bisa tidur di sini. Dan jika dinding ini di buka," Marfel membuka dinding ini dan betapa terkejudnya Naila setelah tau isinya.
"Ini perpustakaanku. Jadi aku punya perpustakaan sendiri. Kalau tadi hanya segelintir buku-buku yang kerap aku baca, sedangkan ini segara buku yang aku suka, ada di sini semua. Ada beberapa novel juga, tapi belum aku baca. Kamu mau?" tanya Marfel. Dan Naila pun langsung menganggukkan kepala.
Marfel langsung mengambil novel yang masih dibungkus plastik itu, ia sebenarnya penasaran isinya apa, tapi belum sempat baca karena gak ada waktu.
"Ini buat kamu," ujar Marfel memberikan beberapa buku novel miliknya untuk Naila.
"Ini buat aku semua?" tanya Naila takut dirinya salah dengar.
"Iya," jawab Marfel membuat Naila tersenyum bahagia.
"Terima kasih, aku gak akan sungkan-sungkan untuk menolaknya. Aku juga akan menjaga buku ini, karena ini permberian Mas Marfel," ujar Naila. Dan Marfel pun menganggukkan kepalanya. Lalu Naila pergi ke kamar sebelah dan menaruh buku itu ke dalam kopernya agar saat ia pergi dari sini, bukunya gak ketinggalkan. Dan ia akan membaca buku novel itu, jika ada waktu luang nantinya.
Setelah puas lihat ruangan Marfel. Marfel pun mengajak Naila untuk duduk santai di ruang keluarga sambil nonton tivi. Tak lupa Marfel meminta Bibi untuk membuatkan minuman dan membawakan buah danĀ makanan ringan untuk mereka.
Bibi pun langsung dengan sigap membuatkan minuman buat majikannya itu. Sambil menunggu, Marfel mengajak Naila mengobrol sambil nonton tivi.
"Kalau hidup santai gini, berasa benar-benar hidup ya, Mas," ujar Naila membuat Marfel tak mengerti.
"Maksudnya?" tanya Marfel.
"Iya, kalau kita sibuk pagi, siang, sore, malam. Kita seperti robot. Kita lelah, ingin istirahat, tapi gak bisa. Pengen senang-senang tapi gak bisa. Pengen liburan tapi gak bisa. Ada banyak kerjaan yang harus menunggu, bahkan walaupun rasa ngantuk menyerang pun, harus tetap bertahan untuk membuka mata. Selelah apapun, sesakit apapun, kadang masih harus bekerja. Kadang iri lihat yang lain, benar-benar menikmati kehidupan mereka tanpa memikirkan banyak beban. Pulang sekolah, bermain sampai puas, setelah itu pulang, mandi dan nonton tivi. Lalu tidur. Bahkan mungkin mereka tak memikirkan hal-hal yang berat, seperti apa yang mau di makan besook, dan bagaimana agar usaha terus berjalan dan bagaimana menghasilkan banyak uang dan membangun banyak usaha, menciptakan banyak lapangan pekerjaan untuk orang-orang yang membutuhkan."
"Apakah kamu merasa gak adil?" tanya Marfel.
"Emang tujuan kamu apa?" tanya Marfel.
"Aku ingin mempunyai banyak uang dan membeli beberapa saham di perusahaan. Itulah kenapa aku bekerja keras tanpa kenal lelah. Aku ingin punya banyak saham dari berbagai perusahaan. Dan dari saham itu nantinya aku bisa menghasilkan banyak uang perbulannya. Dan aku akan terus membeli saham dari hasil saham yang aku dapatkan sebelumnya, begitulah intinya. Dan sekarang uangku masih belum cukup, masih jauh dari kata cukup. Untuk itu, aku ingin bekerja lebih keras lagi, lagi dan lagi. Aku juga mengerjakan dua resto, tentu aku juga bukan semata-mata bantu Bunda. Tapi aku juga dibayar oleh Bunda hehe. Dan uangnya aku kumpulkan jadi satu dengan hasil aku buat cerita selama ini. Dan nanti di saat aku punya banyak uang dan saham, aku duduk santai sambil menikmati hidup, aku cukup melihat perkembangan naik turunnya saham sambil fokus mengurus anak dan suami. Bukankah itu menyenangkan, Bunda nanti juga bisa duduk santai menemani cucunya jika sudah punya banyak cabang dan menemukan orang kepercayaannya untuk mengelola usaha yang Bunda bangun dari nol. Bunda juga bilang, dia akan pensiun setelah punya tujuh cabang, karena Bunda juga gak mau selamanya bekerja. Ada kalanya Bunda juga lelah dan ingin duduk santai sambil main sama cucu. Itulah kenapa aku dan Bunda benar-benar bekerja keras tanpa mengenal lelah. Karena aku dan Bunda sudah sama-sama punya tujuan," ujar Naila dan Marfel pun mengangguk-anggukkan kepala.
"Tapi kalau kamu punya suami kaya, kamu kan juga bisa duduk santai menikmati hidup."
"Beda rasanya, Mas. Uang hasil jerih payah sendiri, dan uang hasil pemberian suami. Dan lagian kita gak tahu bagaimana masa depan nantinya. Bukannya aku mau mendoakan yang buruk-buruk, tapi misalkan Mas jatuh bangkrut, setidaknya aku punya tabungan untuk bisa bantu Mas untuk bangkit kembali. Bagaimanapun untuk bangkit pasti butuh modal yang cukup besar. Tapi aku percaya, usaha yang Mas dirikan pasti akan maju dan berkembang pesat," ujar Naila. Ia tahu jika Marfel punya usaha, punya pekerjaan lain selain hanya seorang guru pengganti di sekolahnya.
"Aku ingin jadi istri yang berguna buat Mas nantinya," imbuh Naila. Dan itu membuat hati Marfel menghangat. Ia tak menyangka, jika Naila berfikir untuk masa depan mereka kelak.
Tanpa sepengetahuan Naila dan Marfel, Pak Atmaja dan Ibu Maria mendengar obrolan mereka. Pak Atmaja sudah pulanag setengah jam yang lalu dan langsung masuk kamar. Dan saat ia dan sang istri mau keluar dari kamar, mereka malah mendengar suara Naila yang tengah mengobrol dengan putra mereka.
Mereka terenyuh dengan apa yang di ucapkan oleh Naila, betapa dia sudah memikirkan semaunya dari sekarang. Tak banyak orang yang bisa punya pemikiran seperti itu. Dan mereka sangat-sangat bangga, jika bisa mempersunting Naila untuk jadi menantu mereka.
Saat Marfel dan Naila mengobrol santai, Bibi datang membawakan jus buah dan juga ada buah yang sudah di cuci bersih serta pisau buah di samping piring itu. Bibi juga membawakan kue kering untuk camilan.
Setelah menaruhnya di meja, Bibi itu pun segera pergi dari sana.
"Wah, lagi pada ngobrol apa nih?" tanya Ibu Maria yang keluar dari persembunyiannya dan bergabung sama mereka. Begitupun dengan Pak Atmaja.
"Cuma ngobrol santai aja, Tan," sahut Naila tersenyum ramah.
"Bagaimana keadaanmu, Nai?" tanya Pak Atmaja.
"Sudah baikan, Om. Malah sangat baik. Tadinya saya mau kerja, tapi Mas Marfel malah melarangnya," jawab Naila.
"Ya lebih baik kamu libur kerja dulu, sampai keadaanmu benar-benar fit, paling gak, untuk hari ini aja, kamu harus benar-benar memanfaatkan waktu untuk istirahat," sahut Pak Atmaja.
Mereka pun mengobrol santai, Bibi yang melihat ada Tuan besar dan Nyonya besar, langsung sigap membuatkan jus tanpa disuruh. Ia membuatkan jus untuk Pak Atmaja dan Ibu Maria.