
Marfel dan Naila tiba di rumah mewah milik mereka. Rumah berlantai dua yang di beli Marfel tiga hari lalu. Harganya pun cukup mahal yaitu 7,5M. Namun uang segitu, bagi Marfel sangatlah murah, karena untuk membahagiakan Naila, tentu sebanyak apapun uang yang ia keluarkan, tetap akan terasa sedikit. Jika pun kurang, Marfel akan kerja lebih keras lagi untuk membahagiakan Naila.
"Maaf ya, di sini belum ada asisten rumah tangga, nanti biar aku cari dulu," ucap Marfel merasa bersalah.
"Enggak perlu buru-buru, Mas. Santai aja. Lagian aku lebih suka berdua, tanpa ada orang asing di dalamnya. Masalah masak, nyapu, ngepel dan yang lainnya bisa kita kerjakan berdua jika ada waktu," jawab Naila, dan Marfel pun mengangguk setuju. Karena ia juga lebih suka hidup berdua dengan Naila tanpa ada orang lain yang menganggu. Sedangkan masalah satpam, Marfel juga merasa tidak perlu. Karena ini merupakan sebuah perumahan di mana, di depan perumahaan itu ada dua satpam yang bertugas. Dan ada satu satpam yang berkeliling setiap sejam sekali. Jadi di pastikan rumah ini aman. Di setiap jalan juga ada CCTV yang langsung terhubung di pos keamanan.
"Iya sudah, ayo masuk," ajak Marfel sambil menyeret dua koper miliknya dan milik Naila. Sedangkan Naila sendiri, ia membawa tas besar dan tas kecil miliknya. Maklum barang milik Naila emang lebih banyak ketimbang Marfel. Padahal jika Marfel mau, dia bisa membelikan yang baru tanpa harus membawa dari rumah. Marfel sendiri pun juga cuma membawa sebagian saja, yang menurutnya penting-penting aja.
Sesampai di dalam, Naila melihat lihat semua ruangan yang ada, dari ruang tamu, ruang tengah, ruang makan, dapur, taman belakang, taman samping rumah, di belakang juga ada kolam. Dan tempat cuci baju. Bahkan di samping kolam juga ada tempat jemuran di atasnya ada kaca, jadi misal hujan, gak akan bikin baju basah. Karena di lindungi kaca. Naila juga melihat ada dua kamar asisten rumah tangga yang tak jauh dari dapur. Ada mushola kecil di ruang keluarga samping taman. Ada tiga kamar di bawah, yang nantinya akan di biarkan kosong.
Lanjut di lantai dua, ada lima kamar. Di mana setiap kamar sudah ada kamar mandinya masing-masing. Bahkan termasuk kamar bawah sekalipun, mungkin memudahkan para penghuninya agar tidak masuk keluar kamar saat ingin mandi, cuciĀ muka atau buang air kecil sekalipun. Naila dan Marfel masuk ke kamar utama yang jauh lebih luas dari yang lain. Bahkan di sana juga ada balkon yang langsung mengarah ke taman. Naila membuka jendelanya dan pergi ke balkon. Udaranya sangat segar sekali, dan karena rumah ini paling ujung, jadi di di samping rumah Naila, adalah taman perumahan. Jadi misal hari Minggu taman itu pasti rame, karena anak-anak atau ibu rumah tangga memilih berjalan kaki ke sana sekalian olah raga dan liburan karena ada air pancur dan beberapa pohon yang tampak rindang. Serta ada bunga yang di bentuk nama, Taman Mutiara. Karena memang perumahan ini merupakan peruamahan Mutiara.
Naila juga melihat kamar mandinya yang cukup luas, bahkan ada bathupnya juga. Naila sangat puas dengan rumah yang di beli oleh suaminya itu.
Lalu ia berjalan ke Marfel yang tengah duduk santai di kursi samping tempat tidur dan sedang main hp.
"Iya, terima kasih ya, Mas. Sudah belikan aku rumah semewah ini," tutur Naila dan Marfel pun menganggukkan kepala.
"Jika kamu mau sesuatu, kamu harus bilang sama aku. Aku pasti akan usahakan," ucap Marfel. Ia memajukan kursinya hingga mereka saling berdekatan.
"Iya, Mas. Iya sudah sekarang bantu aku dulu yuk, masuk-masukin barang-barang kita di lemari," ujar Naila dan Marfel pun mengiyakan.
Mereka bekerja sama untuk memasukkan semua barang yang ada di koper ke dalam lemari sedangkan buku-buku taruh di rak, laptop hp di taruh di meja. Sedangkan koper yang sudah kosong di taruh di atas lemari. Meja belajar Naila, emang satu ruangan dengan tempat tidur, agar Marfel bisa menatap Naila setiap hari, bahkan di saat Naila sibuk belajar sekalipun. Jadi mereka gak akan pisah. Kalau di buatkan ruangan sendiri, pasti repot nantinya. Karena Marfel harus pergi ke ruangan itu jika ingin melihat sang istri.
Setelah selesai semua, Naila pun langsugn mandi, sholat dan ganti baju. Setelah itu, ia memesan makanan online karena di kulkas masih kosong. Jadi mungkin nanti malam, mereka akan belanja untuk mengisi isi kulkas dan yang lainnya. Kalau peralatannya sudah sangat lengkap sekali, hanya tinggal beli isinya aja, seperti buah-buahan, sayuran, daging, ikan, bumbu, camilan dan yang lainnya. Jangan lupa beras karena mereka gak akan kenyang jika tidak makan nasi.
Marfel sangat bahagia sekali, akhirnya setelah sekian lama, ia bisa bersatu dengan Naila. Hidup berdua di rumah mereka, melakukan aktivitas bersama, madi bareng, sholat bareng, makan bareng dan bersih-bersih bareng. Impian Marfel yang dulu sempat tertunda tapi kini Allah sudah mengabulkannya. Naila sendiri pun merasa bahagia dengan apa yang ia dapati saat ini, ia sangat bersyukur karena Tuhan sudah menyatukan dirinya dengan orang yang ia cintai.