Novemberain

Novemberain
Rani Aneh



Keesokan harinya, ia berangkat sekolah dengan naik sepeda motor. Sesampai di sekolah, ia langsung memarkirkan sepeda motornya. Dan pergi ke kelas, ternyata di sana sudah ada Rani yang duduk santai di kursi nya dengan wajah cemberut.


"Kamu kenapa Ran, pagi pagi dah cemberut aja?" tanya Naila sambil duduk di kursi samping Rani.


"Gak papa," jawabnya gak seantusias seperti biasanya.


"Lagi datang bulan tah?" tanya Naila lagi.


"Enggak," jawabnya lesu seperti ada masalah. Naila pun memilih diam karena bingung mau nanya apa lagi.


"Kemarin kamu ketemu Kak Alfa?" tanya Rani tiba tiba.


"Iya saat aku nutup pintu kafe tiba tiba aja Alfa datang. Kemana Ran?"


"Gak papa, aku cuma nanya aja. Kamu lama ngobrol dengannya?" tanya Rani lagi membuat Naila merasa ada yang aneh dengan sahabatnya itu.


"Bentar doang, karena waktu itu aku juga sudah mau pulang, capek juga setelah kerja. Jadi ngobrol nya cuma bentar doang," jawab Naila lagi.


"Oh, kamu punya nomernya?" tanya Rani lagi.


"Iya," jawab Naila.


"Aku minta dong," ujar Rani dengan wajah manisnya.


"Bentar," Naila mengeluarkan Hp nya lalu ia membuka chat wa lalu mengirim nomer Alfa.


"Makasih ya," ucap Rani dengan wajah manisnya, Naila yang melihatnya hanya geleng geleng kepala.


"Assalamualaikum kak, ini aku Rani, temen Naila. Kita sempat ketemu di makam kemarin," itulah isi pesan yang di tulis Rani.


Di tempat yang berbeda, Alfa yang memang lagi santai dan sedang main Hp, ia langsung mengernyitkan dahi saat ia membaca pesan dari wanita yang ingin ia hindari.


"Gila nih cewek, ngapain coba dia chat aku," ucap Alfa kesal.


Lalu Alfa pun chat Naila, "Assalamualaikum Nai, ini aku Alfa. Nai, kamu ngasih nomerku ke temenmu ya?"


Tak lama kemudian, Naila pun membalasnya, "Waalaikumsalam kak, ia kak, tadi dia minta. Aku gak enak yang mau nolak, maaf ya kak,"


"Iya, tapi lain kali nomerku jangan di sebar lagi, nomerku bukan untuk umum," balas Alfa.


Naila yang membaca pesan tersebut pun merasa gak nyaman, ia merasa bersalah tapi ia juga gak tau kalau Alfa akan semarah ini, ia juga gak enaj saat sahabatnya meminta nomer Alfa, ia gak punya alasan untuk menolaknya.


Lalu ia menoleh ke arah Rani yang seperti sedangmenunggu balasan dari seseorang, "Kenapa Ran?" tanya Naila.


"Gak papa," jawabnya dengan senyum terpaksa.


"Kenapa chatku gak di bales ya, padahal sudah di baca," gumam Rani dengab suara kecil namun masih terdengar oleh Naila.


"Apa dia sedang nunggu balasan dari Kak Alfa? Apakah dia langsung chat Kak Alfa setelah mendapatkan nomer Kak Alfa? Kayaknya iya, buktinya Kak Alfa langsung chat aku. Kira kira Rani chat apa ya sampai Kak Alfa marah sama aku?" tanya Naila dalam hati.


"Kak Alfa gak mungkin mau balas chat darinya, dia aja marah saat tau nomernya aku kasih ke Rani, sudah pasti Kak Alfa gak akan menghiraukan chat Rani, syukur syukur kalau gak di blok. Astaga, kenapa aku malah mikir masalah orang lain sih, kayak aku gak punya masalah aja. Tapi masalahnya, Kak Alfa marah gara gara aku memberikan nomernya kepada Rani dan aku gak nyaman akan hal itu. Aku juga merasa bersalah, seharusnya sebelum aku ngirim nomer itu ke Rani, aku harus izin dulu ke Kak Alfa, tapi nasi sudah jadi bubur, menyesal pun percuma," ucap Naila dalam hati.


Saat Naila bergelut dengan hati dan fikiran nya, tiba tiba bell masuk pun berbunyi, gak lama kemudian guru yang mengajar pagi ini pun masuk dengan membawa buku andalannya.