
Keesokan harinya, Naila berangkat sekolah tanpa sarapan pagi, matanya juga bengkak karena semalaman ia nangis, bahkan ia gak tidur semalaman. Naila juga gak bersih-bersih rumah, habis sholat cuma nangis lagi sampai jam enam pagi, lalu mandi dan berangkat sekolah, ia bahkan sudah tak lagi peduli dengan tampilannya itu.
Sesampai di rumah, semua sok melihat tampilan Naila yang acak-acakan. Rani dan teman-temannya langsung mendekati Naila.
"Kenapa kamu, Nai?" tanya Rani, mendengar itu, Naila langsung memeluk Rani dan menangis lagi, ia menangis sesegukan sampai teman-temannya pun merasa heran. Ini pertama kali melihat Naila sampai serapuh ini.
"Hiks hiks, aku jahat Ran. Aku jahat," ucap Naila dengan terbata-bata.
"Kenapa?" tanya Rani dengan suara pelan, namun cukup di dengar oleh mereka semua.
"Dia mutusin aku, Ran. Hiks hiks, padahal aku sayang banget sama dia, padahal dia mau lamar aku dan nikahin aku. Tapi sekarang, hancur. Dia benar-benar gak mau maafin aku hiks hiks. Aku harus gimana, hatiku sakit banget rasanya," ujar Naila sambil memeluk Rani. Yang lain pun yang ikut mendengar hanya bisa menghela nafas, mereka fikir Naila punya masalah serius, ternyata masalah percintaan.
"Emang kamu ada salah apa?" tanya Rani pelan dan lembut.
"Ini semua karena Kak Alfa hiks hiks." Mendengar kata Alfa, Rani menegang bahkan ia mengendurkan pelukannya itu.
"Emang kenapa dengan Kak Alfa?" tanya Rani berusaha kuat dan tegar.
"Beberapa hari lalu, Kak Alfa nelfon aku mabuk-mabuk, aku sudah cerita ke kamu kan, dan setelah itu dia menghilang gitu aja, akunya bingung. Aku takut Kak Alfa kenapa-napa, aku kefikiran terus, sampai melupakan pacar aku. Aku bukannya cinta sama Kak Alfa, aku cuma khawatir aja, karena dia sahabatnya Kak Fahmi, dulu saat Kak Fahmi sakit, Kak Alfa yang ada di dekatnya. Terlebih Kak Alfa mabuk-mabukan setelah dia bertemu akku dan calon suami aku. Dan itu membuat aku merasa bersalah banget. AKu gak mau cerita ke siapapun, karena aku takut bikin kefikiran yang lain, termasuk pacar aku. DIa itu posesif banget, super cemburu. Bahkan dia gak ngizinin aku ngobrol ma cowok lain, chatan atau apapun. Baginya aku ini miliknya. Aku pun juga mencintai dia, walaupun kadang aku kesel sengan sikap posesifnya itu.
Aku gak mau bertengkar sama pacar aku, apalagi dia mau melamar aku ke Bunda, aku capek kalau bertengkar terus. Makanya aku mililh diam dan merasahiakan semuanya dan saat aku tau keadaan Kak Alfa, aku merasa lebih baik. Aku juga ketemu sama Kak Alfa, di temani Bunda waktu itu, terus dua hari lalu, aku datang untuk jengukk sebentar sambil minta izin mau bawa kamu ketemu Kak Alfa, dan aku menepati janji aku kan. Aku membawa kamu ke sana, biar beban aku sedikit berkurang. Aku ingin Kak Alfa dekat sama kamu, Ran. Dan kalian bisa jalin hubungan, agar aku pun bisa tenang menjalani hubungan aku dengan pacar aku. Aku ingin membantu Kak Alfa lupain aku, dan aku sangat berharap dengan kehadiran kamu di sampingnya, bisa membuat Kak Alfa perlahan-lahan bisa menerima kamu dan mencintai kamu.
Tapi sayangnya niat baik aku itu malah bikin pacar aku berfikir negatif. Dia mutusin aku karena mengira aku ini gak setia dan mengabaikan dirinya, aku lebih memilih mementingkan Kak Alfa dari pada dia. Padahal bukan gitu maksud aku, aku gak cerita karena aku takut pacar aku itu nuduh aku yang gak-gak. Lagian sekarang aku juga gak akan jenguk Kak Alfa lagi karena sudah ada kamu yang jaga dia kan, jadi aku sudah stop di sini dan gak mau berurusan lagi dengan Kak Alfa, karena aku mempercayakan dia sama kamu. Kenapa sih, niat baik aku malah bikin aku hancur sendiri.," ujar Naila mengungkapkan perasaannya.
"Emang pacar kamu siapa sih, Nai. Jadi penasaran," ujar Puput yang sudah kepo dari tadi.
"Mas Marfel," cicit Naila, biarlah semuanya tau. Karena ia sudah malas main rahasia-rahasiaan.
"Pak Marfel maksudnya?" tanya Ayu dan Naila pun menganggukkan kepalanya.
"Pantesan waktu Kak Stefan ngasih coklat kamu ketakutan dan langsung ngasih ke Rifa, pasti kamu takut ketahuan Pak Marfel ya?" tanya Rahma.
"Sebenarnya Mas Marfel sudah tau, dan dia nyuruh buang. Akunya kan gak mungkin buang makanan dan aku ingat Rifa suka sama Kak Stefan, jadi aku kasih aja ke Rifa, karena aku gak mau menerima pemberian dari orang lain karena itu bisa membuat Mas Marfel marah sama aku," ucap Naila jujur.
"Pasti berat buat kamu jalani ini semua," tutur Firoh.
Naila menganggukkan kepalanya.
"Mas Marfel itu baik sebenarnya, keluarganya juga. Aku juga yakin dia cinta sama aku, hanya saja aku kurang menyuakai sikap posesifnya ini, lihatlah hanya karena hal sepele, dia langsung mutusin aku, tanpa mau denger penjelasan aku. Padahal juga aku gak cinta sama orang lain selain dia. Aku juga bukan type wanita selingkuh, aku ini setia. Cuma keadaan lah yang buat fikiran aku kacau kemaren," ucap Naila cemberut. Ia melepas pelukannya dari Rani dan menghapus air matanya.
"Sabar ya, Nai. Jika emang Pak Marfel itu jodoh kamu, dia pasti balik sama kamu. Lagian mungkin Allah sedang uji cinta kamu sama Pak Marfel, dan mungkin Allah nyuruh kamu fokus dulu sama sekolah kamu, lagian bentar lagi kita ujian setelah itu kita naik kelas tiga. Kelas tiga pun cuma sebentar, dan kamu harus rajin kan biar dapat nilai tinggi agar bisa masuk ke fakultas kedokteran. Bukannya kamu ingin jadi dokter, mungkin Allah ingin kamu fokus lagi sama cita-cita kamu itu dan gak mikir masalahl cinta-cintaan," ujar Ayu menasehati.
"Apa yang di ucapkan oleh Ayu itu benar, mending kamu fokus aja sekolah, kejar cita-cita dan impian kamu, dan buat Bunda kamu bangga, jika emang Pak Marfel itiu jodoh kamu, dia pasti akan datang lagi dan melamar kamu, suatu hari nanti," tutur Rahma dan mendengar itu hati Naila pun seakan terobati.
Mereka semua menasehati Naila dan memberikan saran yang baik. Kadang mereka juga buat candaan hingga membuat Naila lupa akan masalahnya. Naila beruntung punya mereka dan menceritakan masalahnya karena mereka mensuport Naila dan membuat hati Naila kembali tenang dan tak lagi merasa kalut.