Novemberain

Novemberain
Keromantisan Di Pagi Hari



Naila menyelesaikan nulis ceritanya jam dua pagi, setelah itu, ia pun menaruh Hpnya di atas meja, mematikan tivinya. Dan menghampiri Marfel yang ternyata sudah tertidur pulas. Naila mengambil selimut tebal dan menyelimuti Marfel sampai sebatas dadanya.


"Cepat sembuh ya," bisik Naila di telinga Marfel, ia juga mengelus rambut Marfel yang cukup tebal itu. Setelah puas, dia berjalan ke sofa panjang dan tidur di sana. Tak butuh waktu lama, Naila pun langsung terlelap.


Jam setengah lima pagi, Marfel terbangun karena suara adzan yang berbunyi dari Hp Naila. Sedangkan Naila masih tertidur pulas, berbeda dengan Marfel, yang sudah tak lagi merasa mengantuk.. Dengan tertatih-tatih, dia bangun dari atas brankar, kepalanya masih terasa pusing sekali. Sekujur tubuhnya juga terasa sangat sakit sekali. Kemaren bahkan tak sesakit ini.


Sambil memegang infusnya, Marfel pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil, cuci muka dan sikat gigi. Untungnya Naila membawa perlengkapannya, sehingga ia bisa menumpang pakai sabung dan pasta giginya. Naila juga membawa dua sikat gigi yang masih baru.


Setelah selesai, ia mengambil wudhu sebisanya, lalu ia menghampiri Naila.


"Naila, bangun. Sudah shubuh," ucap Marfel, ia membangunkan Naila tanpa menyentuh, karena ia sudah mengambil wudhu.


"Aku lagi halangan, Mas," jawabnya dengan mata tertutup. Mendengar hal itu, Marfel pun menganggukkan kepala. Lalu ia pun sholat sambil duduk, karena ia agak kesusahan jika sholat sambil berdiri karena tangannya yang tengah di infus. Selesai sholat, ia menghampiri Naila yang terngah tertidur pulas.


Marfel mengelus pipi Naila yang lembut itu, lalu mengecup pipi itu dengan pelan. Karena jika Naila sampai bangun, dia pasti akan marah padanya, karena sudah menciumnya.


"Kamu pasti capek banget ya," ujar Marfel berbicara sendiri. Tadi malam, ia tak bisa menahan ngantuk hingga akhirnya ia memilih untuk tidur lebih dulu.


Marfel terus manatap wajah Naila, jarang-jarang ia bisa berduaan dengan Naila dan bisa tidur satu ruangan. "Aku gak tau apakah aku harus bersyukur atau gak atas musibah yang menimpa diriku. Tapi jujur aku bahagia, walaupun sekujur tubuhku terasa remuk semua, setidaknya aku bisa lebih dekat denganmu," gumam Marfel sambil menggenggam tangan Naila.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, ada seseorang yang mengetuk pintu. Marfel pun membuka pintunya.


"Sudah bangun?" tanya Pak Atmaja, sambil membawa rantang.


"Iya, Mama mana?" tanya Marfel.


"Dia gak ke sini, kan kamu tau sendiri, kemaren mamamu alasan mau pergi keluar kota, kalau dia ikut datang, nanti malah ketahuan dong, kalau Mamamu bohong," jawab Pak Atmaja terkekeh.


"Naila belum bangun?" tanya Pak Atmaja melihat Naila yang masih tertidur pulas. Ia menaruh rantang itu di meja samping brankar.


"Iya, lagian dia lagi halangan, jadi sholatnya libur. Jadi aku biarkan aja dia tidur. Aku juga kasihan, karena tadi malam, Naila harus lembur karena nulis cerita."


"Nulis cerita?" tanya Pak Atmaja tak mengerti. Ia duduk di kursi samping brankar, karena lelah berdiri terus. Sedangkan Marfel ia kembali duduk di sofa samping Naila.


"Iya, tadi malam sehabis ngerjakan tugas MTK dan Bahasa Inggris, dia langsung ngerjakan pekerjaannya yang berhubunganan dengan Restorannya. Terus lanjut ngetik. Entah dia tidur jam berapa, karena aku memilih tidur lebih dulu karena sudah gak tahan rasa ngantuk."


"Kasihan banget dia, tapi rasa semangatnya sangat luar biasa, patut di acungi jempol."


"Iya, Pa. Dia gak pemalas, gak kayak perempuan lainnya. Aku akan sangat beruntung sekali dapat dia."


"Papa doakan, semoga kelak kamu dan Naila bisa berjodoh."


"Aamiiin."


"Tapi lebih baik kamu bangunin aja, dia kan harus siap-siap berangkat kerja, terus harus sarapan pagi juga. Nanti bisa telat loh."


"Iya, lima belas menit lagi aku bangunin. Aku lihat dia masih pulas, jadi gak tega."


"Ck ... kamu mah. Iya sudah, Papa mau berangkat dulu."


"Loh ini masih pagi?'


"Ya gak papa dong, sebagai kepala sekolah, Papa kan harus kasih contoh yang baik."


"Iya juga sih."


"Iya udah, Papa berangkat dulu ya, jangan lupa di bangunin. Kasihan nanti kalau sampai telat, sampai sekolah malah dapat hukuman. Papa gak akan bisa bantu, walaupun dia calon menantu Papa."


"Iya, Pa."


Dan setelah itu, Pak Atmaja pun berangkat lebih dulu. Sedangkan Marfel, ia membangunkan Naira karena tak ingin jika Naila telat sekolah.


"Nai, bangun. Sudah hampir jam setengah tujuh loh," ujar Marfel.


"Nai." Marfel menepuk-nepul lengan Naila. Dan benar saja, tak lama kemudian, Naila pun membuka mata.


"Eh Mas Marfel." Naila tersenyum sambil mengucek matanya. Marfel langsung memegang tangan itu.


"Jangan di kucek kayak gitu, nanti matanya sakit."


Naila tak menjawab, dan hanya menganggukkan kepala.


"Jam berapa?"


"Jam enam lewat lima belas menit."


Naila pun segera bangun dari tidurnya, ia duduk di sofa untuk menghilangkan rasa ngantuknya. Lalu matanya tak sengaja melihat ada rantang di atas meja.


"Itu rantang, dari siapa?"


"Oh tadi Papa ke sini, nganterin sarapan pagi buat kita."


"APA!" Naila terkejut sampai tak sengaja ia berteriak. Marfel pun tampak kaget dengan reaksi Naila yang terlalu berlebihan itu.


"Astaga, santai dong, Nai. Aku bisa jantungan nih," ujarnya sambil mengusap telingannya yang berdengung.


"Hehe maaf. Jadi tadi Pak Atmaja ke sini."


"Iya."


"Kenapa aku gak di bangunin, Mas. Ya ampun, aku malu banget. Pasti Pak Atmaja melihat aku yang tertidur dong. Aish, beliau pasti mengira aku ini pemalas, karena jam segini baru bangun," keluh Naila malu dan juga tak enak hati.


"Aku sudah jelasin kok ke Papa, kalau kamu itu tadi malam tidurnya malam banget, karena nulis cerita. Dan Papaku memakluminya kok. Lagian kan kamu lagi datang bulan, jadi buat apa bangun shubuh."


"Tapi aku gak biasanya bangun jam segini,"


"Mungkin karena tidur kamu pulas banget, jadinya gak denger alarm. Sudahlah, kamu cepetan mandi gih, ini sudah jam berapa. Kamu juga harus sarapan pagi, kan," ujar Marfel.


Sambil menunggu Naila mandi, Marfel mengambil rantang itu dan menaruhnya di meja lebar deket sofa. Ia membuka rantang itu dan melilhat isinya yang banyak. Ada nasi, ayam bakar pedas manis, sambal, lalapan timun, oseng-oseng kangkung, telur mata sapi dan tahu tempe.


Setelah menata semua makanan tiu, Marfel berjalan mengambil dua piring dan dua sendok. Tak lupa ia juga menyiapkan minumannya yang ia ambil dari kulkas.


"Loh sudah di tata, Mas. Maaf ya, aku mandiya lama," ujar Naila sambil menaruh handuk ke hanger dan mengangtungnya di samping lemari.


"Santai aja kali, Nai. Kamu makan dulu apa gimana?"


"Aku mau make up dulu, Mas."


Marfel pun menganggukkan kepala. Ia melihat Naila yang tengah memakai make upnya, dan terakhir ia menyemprotkan parfum di tubuhnya. Setelah selesai, barulah ia duduk di samping Marfel.


"Ini banyak banget,"


"Ya gak papa, kan yang makan berdua. Kalau kamu pengen bawa bekal, kamu bisa bawa sebagian."


"Enggak udah deh, nanti siangnya aku makan di kantin aja."


"Iya sudah."


Naila mengambil nasi, dan lauk pauknya.


"Mas mau aku suapin apa gimana?" tanya Naila sambil bangun lagi dan mencuci tangannya di wastafel. Karena ia pengen makan pakai tangan aja.


"Emang kamu mau nyuapin aku?" tanyanya.


"Mau."


"Kalau gitu, aku pengen di suapin aja."


Naila pun menganggukkan kepala. Lalu ia menyuapi dirinya sendiri dan menyuapi Marfel.


"Kita kayak suami istri ya," ujar Marfel senang.


"Iya, hehe. Tapi kalau sudah suami istri, pasti lebih romantis dari pada ini," balas Naila.


"Pastinya dong," jawab Marfel terkekeh.


Mereka makan berdua dan menghabiskan hampir separuh makanannya.


"Seharusnya kalau orang sakit itu, makannya dari rumah sakit, bukan malah makan enak gini."


"Enggah ah, makanan di rumah sakit gak enak, hambar."


"Hmmm. Ini mah kamu seperti orang gak sakit aja, makannya lahap bener."


"Itu karena kamu yang nyuapin aku, makannya aku bisa makan enak gini."


Setelah selesai makan, Naila mencuci tangannya dan mencuci piring yang kotor. Lalu ia menata sisa makanan yang ada, siapa tau nanti Marfel lapar lagi dan bisa makan sisa yang masih banyak ini. Lagian tadi Naila mengambilnya pakai sendok kok, jadinya aman dan masih bisa di konsumsi.


Setelah selesai, Naila mengambil tasnya dan tak lupa membawa HPnya dan menaruhnya di saku.


"Jangan lupa sepatunya di pakai," ujar Marfel melihat Naila masih menggunakan sandal.


"Haha, hampirr aja lupa." Naila segera memakai kaos kaki dan sepatunya.


"Aku pergi dulu ya, Mas Marfel baik-baik ya di sini. Nanti pulang dari sekolah, aku mau ke resto bentar, baru ke sini lagi."


"Iya, kamu juga hati-hati di jalan."


"Siap."


Naila mengadahkan tangannya. "Ada apa?" tanya Marfel bingung.


Naila menggelengkan kepalanya, ia meraih tangan Marfel dan menciumnya.


"Anggap aja lagi praktek, biar nanti kalau sudah jadi suami istri, gak gugup lagi," goda Naila. Marfel pun hanya terkekeh mendengarnya, tapi entah kenapa jantungnya berdebar kencang. Sepele, tapi mampu membuat Marfel merasa berdebar-debar.


"Aku berangkat dulu ya, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Dan setelah itu, Naila pun segera berangkat, sambil berjalan keluar rumah sakit. Naila memesan taxi online. Sedangkan Marfel, ia memegang dadanya. " Ya Tuhan, seperti inikah rasanya kalau punya istri," gumam Marfel dalam hati.


Tak lama setelah Naila pergi, tiba-tiba Mamanya datang.


"Cie ... yang lagi grogi," goda Ibu Maria. Ia tadi melihat adegan Naila yang tengah mencium tangan Marfel. Karena kebetulan tadi pintunya gak tertutup rapat. Awalnya Ibu Maria gak mau ke sini, tapi karena khawatir dengan keadaan Marfel, ia pun akhirnya memilih datang. Tapi ia menyamar, dan ketika Naila pergi, barulah ia berani masuk dan menengok Marfel yang ternyata sudah baik-baik aja. Emang ya kalau orang lagi jatuh cinta itu, cepat banget sembuhnya


"Ish Mama. Mama dari kapan ada di sana?" tanya Marfel sambil menutup pintu kembali. Setelah mamanya masuk ke kamar inapnya.


"Dari tadilah."


"Katanya Papa, Mama gak mau ke sini."


"Awalnya sih gitu, tapi karena Mama kangen sama kamu dan ingin lihat keadaan kamu, makanya Mama ke sini tanpa sepengatahuan Papa kamu."


"Hemm untung Naila gak tau,"


"Ya gak akan taulah, Mama kan sudah menyamar dari tadi. Gimana keadaan kamu?"


"Sudah baikan, cuma tinggal pusing aja, sama seluruh tubuh aku, kayak remuk redam, kayak habis di pukul orang sekampung."


"Ya wajar, kamu kan baru kemaren kecelakaan dan pasti rasa sakitnya akan terasa saat bangun pagi," balas Ibu Maria sambil duduk di sofa.


Mereka pun mengobrol santai. Ibu Maria akan menemani putranya itu sampai setengah hari, dan setelah itu dia harus pergi sebelum Naila datang.