
Naila pulang lebih dulu, karena Rani masih ingin berada di sana bersama keluarga Alfa. Yah, Rani memutuskan untuk pulang sore aja, karena ia ingin menjaga Alfa bersama keluarganyanya. Naila pun tak mempermasalahkan, terlebih ia melihat Rani sudah akrab dengan keluarga Alfa. Naila malah berharap, dengan Rani berada di sana, bisa membuat hati Alfa luluh nantinya. Ia ingin orang yang pertama Alfa lihat saat sadar nanti itu Rani, dengan begitu Alfa akan berfikir jika Rani adalah sosok yang tepat untuk berada di sampingnya. Walaupun Alfa belum mencintai Rani, tapi ada harapan di hati Naila untuk mereka berdua. Yaitu sebuah rasa cinta yang sama hingga terciptanya hubungan yang halal.
Naila pulang menuju rumahnya, toh mau ke resto juga percuma, karena dua-duanya lagi tutup dan itu akan berlangsung untuk beberapa hari ke depan. Sesampai di rumah, Naila langsung mandi dan sholat dhuhur. Lalu lanjut memasak untuk makan siang. Naila hanya masak nasi, sambel dan telur mata sapi karena di kulkas sudah tak ada sayuran, hanya ada daging dan telur. Dan jika masa daging, pasti butuh waktu lama, jadi Naila hanya masa telur mata sapi aja sebanyak dua biji.
Setelah selesai masak, dan makan siang. Naila kembali ke kamar, ia melihat Hpnya yang mati dan langsung mengecasnya. Sambiil nunggu baterai penuh, ia membuka laptopnya dan mengisi cerita untuk ia upload hari ini.
Tak terasa dua jam berlalu, ia melihat bateri hp sudah penuh. Naila pun mematikan laptopnya dan menghidupkan hpnya. Dan baru saja hidup, beberapa detik kemudian ada banyak pesan dari Marfel dan teman-teman yang lain, serta pesan dari Bunda dan pesan dari karyawan di resto. Ada pesan pribadi dan pesan yang tercantum di grup. Tapi lebih banyak di grup, bahkan ada seribu pesan lebih di grup Lala's Resto. Entah apa yang mereka bicarakan sejak kemaren sampai banyak pesan yang numpuk di grup chatnya.
Naila membuka chat grup lebih dulu, untuk memastikan ada yang penting apa gak, karena gak ada yang penting dan hanya orbrolan biasa, ia pun langsung membuka pesan yang lain dan membalasnya satu persatu, ia juga membalas pesan sang Bunda dan memberitahu alasan kenapa hpnya mati sejak tadi malam.
Setelah itu, membalas pesan Marfel yang sudah ada seratus lebih pesan. Entahlah kenapa Marfel mengirim pesan beberapa menit sekali membuat Naila menghela nafas sambil membaca satu persatu pesan yang masuk.
Karena malas balas pesan lewat chat, dia pun langsung menelfon Marfel dan benar saja baru masuk dering kedua, langsung di angkat oleh Marfel.
"Kemana aja sih, Nai? Dari tadi malam gak aktiv, aku sampai seperti orang gila seperti ini karena memikirkan kamu!" semprot Marfel, bahkan ia tak memberikan Naila kesempatan bicara.
"Kamu kalau marah ke aku, jangan kayak gini. Aku sudah minta maaf, tapi kenapa kamu masih harus nyuekin aku kek gini. Gak ada kabar, menghilang, hp gak aktiv sejak kemaren. Kamu tau gak sih, aku khawatir," ucap Marfel dengan nada tinggi membuat Naila takut.
"Kamu tega tau gak! Aku di sini seperti cacing kepanasan sejak tadi malam, aku terus menghubungi kamu, bahkan semalaman aku gak bisa tidur karena terus mikirin kamu. Kalau kamu emang gak suka sama aku, benci sama aku, bilang sama aku, jangan kek gini. Capek tau gak. Di giniin sama kamu," ucap Marfel kesal, ia bahkan mengomel tiada henti. Memang sejak tadi malam ia gak bisa tidur karena terus memikirkan Naila, belum lagi ia harus mikirin mamanya yang masih saja dalam kondisi terpuruk karena ditinggal oleh Nenek. Mana pekerjaan banyak menanti, tapi gak bisa ia kerjakan karena fikirannya yang kacau. Dan itu semua di sebabkan oleh Naila yang seakan begitu nyantai, tanpa memikirkan perasaan Marfel di sana.
"Kenapa diam?" tanya Marfel karena tak mendengar suara Naila sedari tadi.
"Gimana gak mau diam, kalau Mas Marfel dari tadi ngomong terus," jawab Naila, di dalam hati, ia merasa bersalah sudah mengacaukan hari-hari Marfel dan membuat dia kelimpungan sendiri di sana.
"Ya sudah sekarang aku diam dan kamu bisa bicara." ujar Marfel.
"Aku tuh kemaren ada masalah, Mas."
"Masalah apa?"
"Resto aku bersamalah, petani dan peternak ikan dan ayam yang biasanya menyuplai barang ke resto, tiba-tiba mendadak pada demo. Awalnya sih petani yang suka nyuplai di tempat aku, ingin harga tinggi, tiga kali lipat. Akunya gak mau, karena jika itu terjadi, bisa-bisa resto Bunda bangkrut dong. Akhirnya aku memilih untuk berhenti kerja sama dengan mereka, dan dua resto yang aku kelola, aku tutup beberapa hari ke depan. Soallnya apa coba yang mau di jual, masak cuma daging doang, kan gak enak, kalau yang di jual cuma itu-itu aja, tanpa ada ikan, sayuran dan yang lainnya. Sedangkan yang paling di minati kan tongkol bumbu kuning, tongkol cabai hijau, cakalang santan pedas, cakalang bakar rica, tuna bumbu kuning, fillet tuna goreng tepung, steak kakap, kakap saus padang, pepes ikan kembung kemangi, kembung asam pedas, tenggiri woku, tenggiri asam pedas, tenggiri masak tauco, salmon lodeh, rice bowl salmon sambal kecombrang, mangut lele, lele sambal kemangi, gurame cobek, gurame goreng teung saus asam manis, teri tumis bacai bawang. Dan semua itu terbuat dari ikan semua, bayangkan, kalau peternak ikannya tiba-tiba demo minta harga tinggi, akunya bisa apa.
Padahal kan, ikan, ayam dan lalapan itu kek menu utama di resto Bunda. Sedangkan daging sapi, kambing itu kek kurang di minati. Kalau cuma jual daging sapi dan kambing, pasti resto akan sepi. Karena itu bukan menu utama dan bagi mereka, harganya pun juga cukup mahal ketimbang ikan, ayam dan lalapan yang menjadi menu andalan resto. Sedangkan kalau cuma makanan pendamping aja atau makanan pembuka dan makanan tertutup, tentu gak akan laris juga. karena merkea mampir karena emang makanannya yang murah, enak dan bikin nagih. Awalnya sih petani sayur yang mogok, eh peternak ikan dan lele ikut-ikutan mogok. Apa gak pusing akunya. Dan sekarang aku bingung harus cari kemana. Tadi malam kepalaku pusing, jadi aku langsung tidur, dan tadi aku jemput Rani untuk ketemu seseorang dan meninggalkan Rani di sana.
Dan sesampai rumah, aku langsugn mandi, sholat, masak, makan, lalu cas hp karena hpku mati, dan setelah aku hidupkan. Eh banyak pesan dari Mas Marfel dan yang lainnya," ucap Naila menjelaskan. Memang sekarang di resto Naila itu banyak macam-macam masakan. Bahkan Naila juga mau menambahkan koki karena dua koki yang ada sering kali mengeluh karena tak ada waktu istirahat, bahkan satu koki sampai memegang dua kompor, dan di sana itu ada empat kompor untuk memasak semuanya agar lebih cepat. Dan sekali masak langsung banyak, agar tidak masak berulang-ulang. Untuk menghemat waktu juga.
Dan semua resep itu dari Bunda Ila, tapi ada resep dari koki juga, jadi sepreti berkalaborasi sehingga membuat masakan itu semakin lezat dan tampak menggunggah selera.
Sedangkan untuk minuman, di sana juga banyak macamnya, tergantung pembeli, mau mesen minuman apa.
"Jadi cuma karena itu kamu pusing sampai matikan Hpnya dan bikin aku di sini galau merana, dan frustasi seorang diri?" tanya Marfel sinis. Aku yang denger pun merasa geram, dia bilang CUMA, kalau CUMA, aku juga gak mungkin pusing tujuh keliling seperti ini.
"Mas itu masalah besar loh, bukan masalah kecil," ucap Naila tak terima.
"Bagiku itu masalah kecil, jika kamu bilang ke aku dari kemaren, mungkin kamu sudah menemukan solusinya, bukan malah pusing tujuh keliling sampai lupa ngabarin aku di sini," ujar Marfel yang ternyata masih belum terima dirinya tak di hiraukan karena masalah yang kini tengah di hadapi oleh Naila. Padahal jika Naila cerita, Marfel pasti akan membantunya, karena Marfel gak akan membiarkan Naila pusing sendirian. Sayangnya, Naila jarang mau terbuka dengannya, kalau bukan karena terdesak.
"Ya sudah jika emang itu masalah kecil, bantu dong. Jangan cuma ngomng doang," tantang Naila kesal.
"Beri aku waktu setengah jam, dan akan ada seseorang yang menghubungi kamu setelah ini," ujar Marfel dan Naila pun hanya bisa melongo mendengarnya.
"Okay," jawab Naila ragu, entah kenapa ia gak yakin Marfel menemukannya, karena mencari petani dan peternak yang jujur itu gak mudah.
"Hmm. Aku matikan dulu, setengah jam lagi aku telfon," pamit Marfel.
"Iya."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Dan setelah itu, Naila menaruh hpnya di meja. "Ish, tadi aja lupa ucap salam, sekarang baru ingat," gumam Naila karena saat nelfon tadi, jangankan salam, nanya kabar aja kagak. Langsunng di semprot gitu aja, tapi Naila juga gak akan bisa marah sama Marfel, karena ia sadar, dirinya juga salah karena sudah mengabaikan Marfel karena urusannya sendiri.