Novemberain

Novemberain
Makam Fahmi



Sore harinya, Naila dan Rani pergi ke makam Fahmi, hanya berdua dan mereka pergi naik sepeda kotor milik Naila dan Naila jugalah yang menyetir sepeda motornya.


Sesampai di makam Fahmi, Naila memakirkan sepeda motornya yang tak jauh dari makam.


"Ayo Ran," ajak Naila dan mereka pun berjalan beriringan menuju makam Fahmi yang ada di tengah tengah, karena hanya sisa lahan itu yang kosong.


Sesampai di makam Fahmi ternyata di sana ada Alfa.


"Kak Alfa," sapa Naila.


"Naila, kamu di sini juga?" tanya Alfa kaget sambil berdiri.


"Iya, Kak Alfa sudah lama di sini?" tanya Naila.


"Iya lumayan, sekitar setengah jam," ujar Alfa tersenyum.


Sedangkan Rani, ia langsung terpanah melihat ketampanan Alfa bahkan jantungnya berdebar saat melihat Alfa tersenyum manis ke arah Naila.


"Astaga, kenapa aku ini? Kenapa jantungku berdebar debar seperti ini? Apakah aku jatuh cinta dengannya?" tanya Rani dalam hati sambil terus memandang ke arah Alfa.


Alfa yang di tatap seperti itu pun merasa risih.


"Aku duluan ya Nai," ucap Alfa. Sebenarnya ia ingin lebih lama sama Naila, tapi perempauan di sampung Naila membuat dirinya ingin cepat cepat pergi dari sana.


"Gila tuh cewek. Aku tau, Aku tampan, tapi gak segitunya juga kali, bikin ngeri liatnya," gumam Alfa dalam hati sambil bergidik ngeri.


"Iya kak, hati hati ya di jalan,"


"Iya. Oh ya aku ada buku deary punya Fahmi, nanti aku kasihkan ke kamu ya, sekarang ketinggal di kosan, aku juga gak nyangka akan ketemu kamu di sini, kalau aku tau, pasti aku bawa,"


"Buku deary?" tanya Naila.


"Iya, kayaknya itu di tunjukkan khusus buat kamu deh," ujar Alfa.


"Oh gitu, iya sudah lain kali kalau ketemu lagi, jangan lupa di bawa,"


"Lah, aku kan gak tau kapan aku bisa ketemu kamu lagi, gak mungkin kan aku bawa itu buku ke sana kemari,"


"Okey, aku pamit dulu,"


"Iya," jawab Naila.


Setelah itu, Alfa pun pergi meninggalkan Naila, sedangkan Naila, ia langsung duduk di samping makam Fahmi.


"Nai, kamu kog gak kenalin aku ke temenmu itu sih," ujar Rani kesal


"Ya Allah maaf ya Ran, aku lupa," ucap Naila tak enak hati.


"Iya gak papa, lain kali jangan anggurin aku lagi ya," ujar Rani cemberut.


"Iya iya, aku janji. Iya sudah aku mau doain Kak Fahmi dulu ya, kamu mau duduk di samping aku atau terus berdiri kayak gitu,"


"Duduk aja deh, capek berdiri terus," ucap Rani lalu duduk di samping Naila.


Naila pun khusu' mendoakan Fahmi, selesai berdoa, ia pun berbicara dalam hati berharap Fahmi mendengar suara hatinya, walaupun itu sangatlah tidak mungkin.


"Kak, aku datang. Kak, aku rindu sama Kak Fahmi, sampai saat ini aku masih belum menyangka Kak Fahmi ninggalin aku untuk selamanya. Rasanya beraaaaaaaaaat banget. Walaupun aku berusaha untuk belajar ikhlas, namun ternyata itu gak semudah membalikkan telapak tangan.


Hatiku masih sakit setiap kali ingat Kak Fahmi. Rasanya kisah cintaku begitu tragis ya kak, baru pertama kali jatuh cinta, tapi sudah di tinggal seperti ini.


Maafin aku ya kak, maaf jika selama kita dekat, aku pernah menyakiti hati Kak Fahmi.


Kak, apakah kelak kita bisa bertemu lagi di surga Nya? Aku harap kita bisa bertemu lagi kak.


Agar aku bisa bertemu Kak Fahmi, aku sayang kakak. Aku pamit pulang dulu ya, jika ada waktu aku usahakan ke sini lagi," ucap Naila dalam hati.


"Ran, ayo pulang,"


"Emang sudah selesai doanya?" tanya Rani.


"Iya, ayo," ajak Naila dan mereka pun pulang bersama.