Novemberain

Novemberain
Kejutan Yang Membuat Shok



Sepulang sekolah, Naila segera pulang dengna naik taxi online. Sesampai di rumah, ia segera mandi dan bersih-bersih rumah. Lanjut dia mengambil baju dari dalam lemari, mengambil baju dan hijab warna pink, rok lipit penuh warna hitam dan juga daleman. Sebenarnya bisa aja Naila mengambil celana, hanya saja ia lebih nyaman memakai rok ketimbang celana, karena lekuk tubuhnya gak akan kelihatan, terutama bagian kakinya.


Setelah memasukkan ke dalam tas, Naila segera menghidupkan sepeda motornya, mungkin karena lama gak di pakai, jadi gak langsung hidup, namun untungnya setelah hampir lima belas menit, sepeda motornya hidup. Naila memanasi sepeda motornya dengan membiarkan hidup untuk beberapa menit, sambil nunggu ia memastikan semua jendela tertutup rapat, setelah selesai ia mengunci pintunya dan menaruh kunci itu di dalam tasnya biar gak hilang.


Lalu ia pun segera menaiki sepeda motornya, tak lupa memasang helm. Dan setelah itu, ia pun segera pergi menuju rumah sakit. Awalnya langsung mau pergi ke resto, tapi karena Marfel tengah marah padanya, jadi ia memilih untuk ke rumah sakit aja. Namun Naila tak memberitahu tentang hal ini, karena ingin memberikan kejutan.


Saat di toko kue, Naila membeli kue mochi dengan varian rasa. Naila membeli cukup banyak untuk dirinya dan Marfel.


Sesampai di depan rumah sakit, Naila segera memarkirkan sepeda  motornya, dan membuka helmnya. Lalu ia segera berjalan menuju kamar Marfel. Ia berjalan dengan terburu-buru agar tak membuang-buang waktu.


Tanpa  mengetuk pintu lebih dulu, ia langsung membuka pintu. "Assalamualaiku," ucap Naila sambil menutup pintu itu kembali, tanpa menyadari ada dua orang yang menatap ke arah Naila dengan wajah kaget.


Saat Naila membalikkan tubuhnya, betapa terkejudnya dia melihat Mamanya Marfel tengah duduk santai di sova bersama Marfel.


"Loh Tante, Tante sudah pulang dari luar kota?" tanya Naila sambil menghampiri Ibu Maria. Ibu Maria yang ditanya seperti itu pun merasa gugup, pasalnya ia tak keluar kota, bahkan setiap hari ia yang menjenguk, menjaga dan menemani putranya seharian sampai Naila pulang.


"Eh, Iya. Kamu baru pulang, Nak?" tanya Ibu Maria, menutupi kegugupannya.


"Iya, Tan. Sebenarnya sih sudah dari tadi pulang sekolah, cuma Naila mampir ke rumah dulu, ambil baju sekalian mandi. Oh ya, Tan. Ini tadi Naila beli Kue Mochi." Naila menaruh bungkusan itu di atas meja, lalu membuka kantong kreseknya. Ada kotak persegi panjang.


Naila membuang kresek itu ke kantong sampah dan membuka kotak persegi panjang itu. Dan terlihatlah berjejer kue Mochi dengan varian rasa. Ada dua puluh mochi di sana.


"Makan dulu, Tan. Naila ambil minum ya," Naila mengambil tiga botol air dalam kulkas dan menaruhnya di meja.


"Makasih ya, Nak Naila," ucap Ibu Maria melihat Naila yang langsung melayani dirinya, tanpa duduk lebih dulu.


"Sama-sama, Tan," sahut Naila tersenyum ramah.


"Duduk dulu, Nai. Kamu pasti capek," tutur Marfel, sejujurnya ia takut, takut jika kebohongannya terbongkar karena Naila mengetahui mamanya yang tengah ada di kamar inapnya.


"Iya, Mas." Naila menaruh tas itu di sampingnya.


"Tante kapan pulang dari luar kota?" tanya Naila menyapa calon mama mertuanya itu.


"Tadi pagi dan langsung ke sini, soalnya Tante kangen sama Marfel," jawab Ibu Maria sambil makan kue mochinya, ia lagi-lagi terpaksa berbohong. Kalau bukan karena demi putranya yang tengah memperjuangkan wanita cantik yang kini ada di hadapannya itu, tak mungkin sudi berbohong seperti ini, karena rasanya gak nyaman dan gugup sekali.


"Oh, Mas seharusnya bilang sama aku. Biar aku pulang cepet," ujar Naila ke Marfel, ia melihat Marfel yang tengah gugup.


"Maaf," ucap Marfel menunduk.


"Gak papa, aku malah seneng kalau Mas Marfel ada temannya buat  ngobrol, setidaknya aku gak kefikirn. Soalnya kalau Mas Marfel sendiri, aku sering kefikiran dan gelisah. Karena takut Mas Marfel kesepian. Apalagi temannya itu Mama, aku makin tenang," tutur Naila tersenyum.


"Kamu gak marah?"


"Kenapa harus marah? Gak lah, Mas. Ada-ada aja," balas Naila terkekeh. Lalu ia menatap ke arah Ibu Maria.


"Oh ya, Tan. Mumpung Tante di sini, Naila nitip Mas Marfel ya. Soalnya ntar lagi Naila mau ke resto. Sekalian nanti malam, Naila mau mengujungi teman Naila yang tengah ulang tahun. Sebenarnya sih Naila gak mau datang, tapi gak enak sama teman-teman Naila yang lain. Karena setiap mereka ngajak Naila jalan-jalan, nongkrong dan lain sebagainya, Naila selalu nolak, dan kali ini Naila gak bisa nolak permintaan mereka karena gak mau mengecewakan teman-teman Naila terutama Rifa yang kini ulang tahun," ujar Naila ke Ibu Maria.


Mendengar penjelasan Naila, Ibu Maria pun menganggukkan kepala.


"Baiklah, biar hari ini Tante yang jaga putra Tante. Kamu pulangnya jangan malam-malam ya, apalagi kamu itu perempuan."


"Siap, Tante. Sebenarnya aku janji sama Mas Marfel akan pulang jam delapan, tapi masalahnya jam delapan, acaranya baru di mulai, Tan," sahut Naila sedih.


Melihat hal itu, Marfel dan Ibu Maria tak tega.


"Ya sudah, kamu pulang jam sembilan gak papa. Tapi ingat, gak boleh lebih dari itu," ujar Marfel seperti suami yang posesif.


"Siap," jawab Naila tersenyum ceria. Ia mengambil kue mochinya dan memakannya. Marfel pun ikut-ikutan ngambil dan makan.


"Iya sudah, Naila. Berangkat kerja dulu ya," Naila menaruh tas sekolahnya ke dalam lemari, dan hanya membawa tas kecil yang berisi bajunya, nanti ia akan ganti di resto aja, untungnya Naila punya ruangan privasi sendiri, sehingga bisa leluasa untuk ganti baju dan lain sebagainya.


"Loh, kamu gak capek, paling gak istirahat dulu," ucap Ibu Marita tek tega.


"Baiklah, kamu hati-hati ya di jalan."


"Iya, Tan."


Setelah itu, Naila pun mencium tangan Ibu Maria dan tangan Marfel.


"Mas jaga diri ya, jangan lupa makan dan minum obatnya," ucap Naila mengingatkan.


"Iya, Nai. Itu kamu bawa apa?" tanya Marfel melihat Naila menenteng tas kecil.


"Oh ini, baju aku. Soalnya temen-temen aku sepakat untuk pakai baju sama,"


"Baju apaan?"


"Ini baju pink sama jilbab pink, sama ada rok juga. Sebenarnya anak-anak pakai celana jeans. Cuman aku gak suka, dan gak nyaman karen lekuk kakinya kelihatan, aku malu. Makanya aku pakai rok aja," ucap Naila menjelaskan.


"Oh gitu, iya sudah, nanti kalau sudah sampai, chat ya."


"Iya, Mas."


"Tante, Naila pergi dulu ya. Naila titip Mas Marfel. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Tante Maria dan Marfel bersamaan.


Setelah kepergian Naila, Marfel hanya bisa menghela nafas. "Naila masih kecil, tapi dia sudah punya banyak beban yang harus dipikulnya," ujar Marfel merasa sedih karena Naila yang seharusnya seneng-seneng sehabis pulang sekolah, tapi dia masih harus kerja.


"Iya padahal dulu, saat Mama seusia Naila. Mama hanya fokus belajar, tidak mikir pekerjaan. Kasihan dia, kamu gak boleh menenkan batinnya, gak usah minta yang aneh-aneh, gak usah merajuk seperti anak kecil. Beban dia masih banyak, harus sekolah masih harus kerja, belum lagi mikirin kamu. Dia pasti capek, pulang sekolah, masih harus pulang ke rumahnya untuk bersih-bersih rumah, terus masih sempat-sempatnya ke sini jengukin kamu dan bawain kamu kue. Setelah itu harus ke resto, belum lagi restonya ada dua cabang, pasti dia akan bolak-balik ke sana kemari. Apalagi Mama denger tadi, ada masalah di restorannya. Belum lagi, nanti di saat lelah-lelahnya, dia masih harus datang ke acara temannya, waktu yang seharusnya untuk istirahat, harus dia tahan dulu demi teman yang ulang tahun," ujar Ibu Maria tak tega dengan kesibukan menantunya itu.


"Iya, belum lagi pulang dari sana, masih harus mengerjakan tugas. Kadang masih harus nulis cerita untuk menambah uang tabungannya. Dia sangat-sangat berbeda dari wanita lain," imbuh Marfel yang juga gak tega dengan kesibukan calon ibu dari anak-anaknya itu.


"Laki-laki yang menikahinya pasti akan bangga punya istri seperti Naila, karena dia cantik, sholehah, baik, mandiri, pekerja keras, di siplin, tidak suka menghambur-hamburkan uang, tidak suka pergaulan bebas dan pinter masak. Naila adalah wanita yang super komplek mah. Beruntung suaminya nanti," puji Ibu Maria.


"Dan suami beruntung itu, adalah Marfel. Putra Mama sendiri."


"Haha, semoga aja. Mama doakan, kamu dan Naila bisa bersatu. Mama sudah jatuh hati sama Naila dan Mama ingin dia segera menjadi bagian dari keluarga kita."


"Aamiin semoga aja. Hanya saja Marfel sekarang punya banyak saingan, Ma?"


"Benarkah siapa?"


"Stefan dan Alfa."


"Kamu tau dari siapa?"


"Ya aku lihat sendiri, Ma. Kadang juga Naila cerita ke aku, karena juga merasa risih karena didekatin mereka."


"Berarti Naila itu jujur sama kamu, buktinya dia mau cerita ke kamu, siapa aja cowok yang berusaha mendekatinya."


"Ya, Naila emang jujur. Mungkin dia takut, kalau aku salah faham."


"Kamu beruntung dapat Naila, Nak. Dia selalu mengedepankan kamu dan memikirkan perasaan kamu. Jika kamu menikah dengannya, dia pasti lebih mengutamakan kamu ketimbang dirinya sendiri. Sekarang aja, dia sudah mau merawat kamu, yang bahkan statusnya aja masih abu-abu, apalagi nanti jika jadi istrinya."


"Aku harap Naila bisa segera lulus SMA, biar aku bisa melamar dia. Aku gak akan melarang dia untuk menggapai impiannya, malah aku akan mendukung dia untuk menggapai semua impiannya."


"Semoga aja, Naila mau ya."


"Aamiin."


Anak dan Ibu itu mengobrol santai, berbeda dengan Naila yang kini sudah sampai di resto dan mulai bekerja.