Novemberain

Novemberain
Nasihat Ayu Untuk Naila



Sesampai di kelas, ia masih melihat Rani yang diam membisu, yang biasanya ceria, kini ia diam seribu bahasa.


"Aku gak bisa gini terus, aku harus ketemu Kak Alfa, dan membicarakan masalah Rani, kayaknya Rani terkena virus cinta, makanya ia jadi berubah 180 derajat. Yang biasanya ceria jadi murung gitu, jadi gak tega aku," ujar Naila.


Lalu ia pun duduk di dekat Rani, dan jika biasanya mereka ngobrol panjang lebar, kini mereka saling diam satu sama lain.


Puput, Rifa, Ayu dan Firoh menatap heran ke arah Naila dan Rani, karena gak biasanya mereka seperti itu.


"Kira kira Naila dan Rani kenapa ya?" tanya Ayu kepada ketiga temannya.


"Entahlah, kayaknya mereka bertengkar deh," ujar Puput.


"Kalau aku mikirnya, bukan bertengkar. Tapi mereka sedang selisih faham, makannya Rani marah ke Naila," ucap Firoh


"Aku sendiri mikirnya, Rani sedang banyak masalah jadi dia gak mau di ganggu. Bukannya saat kita sapa tadi, dia diem, gak mau jawab," tutur Rifa.


"Iya juga sih, apa kata Rifa, aku setuju dengan apa yang di utarakan Rifa. Kayaknya mereka gak ada masalah, hanya saja saat ini Rani ada masalah, coba deh kamu ajak Naila buat ngobrol berdua, aku yakin dia pasti jujur," ucap Ayu.


"Kenapa gak kamu aja yang nanya, kamu kan yang lebih akrab sama Naila," cakap Rifa.


"Baiklah aku yang akan nanya sama Naila," jawab Ayu mengalah.


Ayu melangkahkan kakinya menuju meja Naila, "Nai, aku butuh bantuan kamu," ucap Ayu.


"Aku gak bisa kalau saat ini," kata Naila.


"Ayolah Nai aku bener bener butuh bantuanmu," bujuk Ayu memohon.


"Plis, Nai. Kamu harus mau," batin Ayu.


"Baiklah," balas Naila dan ia pun mau membantu Ayu.


"Aku harus bantu kamu apa?" tanya Naila.


"Ayo ikut aku," tutur Ayu


"Tapi ...."


"Ayolah Nai," mohon Ayu.


"Iya ya, ayo," ucap Naila dengan setengah terpaksa. Pasalnya ia malas mau pergi kemana mana. Tapi melihat wajah memelas Ayu membuatnya tak tega.


Ayu dan Naila pun pergi ke ruangan lap ipa, dimana jam segini di sana sangat sepi sekali.


Lalu mereka duduk di kursi sambil berhadap hadapan.


"Nai, sebenanrnya aku membawa kamu ke sini, karena aku ingin bertanya, ada masalah apa kamu sama Rani? Karena gak biasanya kalian seperti itu," ucap Ayu pelan. Namun Naila seakan enggan untuk menjawabnya. Karena bagaimana pun ini masalah juga tak seharusnya orang lain tau.


Setelah menimang nimang, akhirnya Naila pun mau cerita.


"Sebenarnya dua hari yang lalu, aku mengajak Rani pergi ke makam seseorang, kamu gak perlu tau, makam itu milik siapa, karena akan panjang urusannya. Aku hanya akan cerita intinya saja," ujr Naila dan Ayu pun mengangguk setuju.


Lalu Naila pun melanjutkan ceritanya.


"Saat aku dan Rani tiba di makam, ternyata di sana ada Kak Alfa, dia sahabat Kak Fahmi yang meninggal beberapa hari yang lalu. Di sana aku menyapa Kak Alfa, karena kami memang kenal, dan aku lupa mengenalkan Rani ke Kak Alfa, dan dia sempat cemberut waktu itu.


Dan kemarin dia ngotot mau ikut aku ke sana dan aku pun tak bisa menolak karena Rani bersikeras mau ikut.


Sesampai di kafe, Rani memilih duduk di tempat makan, sedangkan aku memilih pergi ke ruanganku untuk bekerja.


Dan sebenarnya Kak Alfa kemarin itu datang namun ia pergi lagi, katanya sih ada urusan. Kebetulan Kak Alfa chat aku, dia tau nomerku dari Hp Kak Fahmi.


Dan tadi pagi, Rani tiba tiba aneh gitu, terus dia minta nomernya Kak Alfa, aku yang gak enak mau nolak, akhirnya aku mengiyakan dan memberikan nomer Hp nya. Tapi setelah Rani chat Kak Alfa, Kak Alfa langsunh chat aku dan dia marah sama aku karena nomer nya aku kasih ke Rani.


Sedangkan Rani sampai sekarang, terus menunggu balasan dari Kak Alfa. Gimana mungkin Kak Alfa mau bales, pertama Kak Alfa bahkan gak kenal sama Rani. Kedua, Kak Alfa gak suka bales sama nomer yang gak ia kenal. Malah ia marah sama aku karena aku memberikan nomernya ke Rani.


Dan tadi Rani sempat mengaku sama aku, kalau dia suka sama Kak Alfa. Sumpah aku bingung, Yu.


Rani aneh dan dia berubah jadi dingin sama aku. Aku ingin menyatukan Rani sama laki laki yang ia cintai, tapi masalahnya apa aku harus memaksa Kak Alfa, sedangkan aku gak terlalu kenal sama Kak Alfa, bahkan aku tau dia karena dia sahabat Kak Fahmi, hanya itu.


Aku jadi serba salah. Sekarang aku baru tau, kenapa kemarin Rani ngotot mau ikut aku ke kafe, karena dia tau kalau aku mau ketemuan sama Kak Alfa di kafe jam 3. Dan aku juga mikir, jangan jangan Kak Alfa gak jadi masuk ke kafe, karena ada Rani.


Karena sejak di makam, aku melihat Kak Alfa kayak risih gitu sama Rani karena Rani terus menatapnya.


Ya, tapi ini hanya perasaanku aja," ujar Naila menjelaskan.


"Ya, menurutku yang salah itu Rani. Dia jatuh cinta sama cowok hanya sekali lihat, bahkan Rani juga gak kenalan kan sama Kak Alfa itu. Jadi wajarlah Kak Alfa ilfil, jangankan Kak Alfa, aku aja yang dengernya juga infil. Misal kita, ketemu sama seseorang yang terus menatap kita, pasti kita jga risih kan. Dan lagi, gak ada hujan, gak ada angin, tiba tiba Rani chat dia yang bahkan temen bukan, kenalan bukan. Mana mungkim di bales. Kan aneh, aku aja kalau ada yang chat terus nomernya gak aku kenal, malah aku blok. Tanpa cari tau dulu.


Terus sekarang dia diemin kamu, ya biarin aja. Biar dia mikir, hanya karena laki laki yang bahkan gak kenal dengannya, yang belum jatuh cinta padanya, dia sampai mengabaikan kamu, sahabatnya sendiri. Apa itu gak kelewatan, kalau sama aku mending, masih temen dekat, belum jadi sahabat akrab, tapi kami bahkan kalian sudah seperti saudara.


Gak nyangka aku kalau Rani gitu hanya karena cinta," ucap Ayu sambil geleng geleng kepala.


"Aku juga bingung sekarang, aku mungkin akan ngajak Kak Alfa ketemuan dan memohon sama dia agar mau membalas pesan Rani, aku gak bisa membiarkan Rani merasa lesu gitu, kayak gak punya semangat hidup. Terus aja mandangin Hp yang jelas jelas gak mungkin di bales," tutur Naila.


"Ngapain kamu ngurusin Rani? Emang kamu mau ngatur hati seseorang, kalau Kak Alfa bale chat Rani, terus Rani mengira Kak Alfa juga suka padanya, apa itu gak tambah parah, sama aja kayak php Mending sakit di awal biar dia sadar, dia tolak sebelum berjuang. Dari pada nanti keburu baper ternyata Kak Alfa melakukannya hanya demi permintaan kamu, apa itu gak lebih menyakitkan," tukas Ayu.


"Iya juga sih," ujar Naila membenarkan ucapan Ayu.


"Sudahlah jangan ngurusin kehidupan Rani, jika memang dia mencintainyq, biar dia berjuang sendiri. Kamu jangan ikut campur, bukan melarang tapi ini demi kebaikan kamu dan Rani. Jangan sampai persahabatan kalian yang sudah terjalin lama, hanvur karena perasaan Rani ke temen kenalanmu itu," saran Ayu.


"Baiklah, aku mengerti. Terima kasih ya atas sarannya," ucap Naila tulus, kini ia lebih tenang.


"Iya sudah ayo masuk kelas, bel udah bunyi dari taei, kayaknya gurunya juga udah di kelas" ajak Ayu dan mereka pun kembali ke kelas bersama sama.