
Mama Marfel yang dapat kiriman dari Marfel pun merasa senang, lalu ia memamerkan foto itu kepada suaminya.
"Pa, liat deh putra kita, pagi pagi sudah nongkrong di rumah calonnya. Dia lagi duduk santai di dapur sambil minum teh, dan calonnya deh pa, cantik banget kan, bahkan walaupun dengan baju santai dan hijab santai pun, namun kecantikan nya sangat terlihat. Bahkan dia terlihat begitu lihai saat sedang memasak. Pantas putra kita menyukainya. Dia emang beda ya pa dengan wanita lainnya, mama bangga deh, jadi gak sabar mama buat jadiin dia mantu mama, " ujar Mama yang terus merocos sedangkan papa yang melihat calon menantunya lagi memasak juga merasa senang, wanita yang di sukai putranya itu juga sangat menutup aurat walaupun ada di dalam rumah, bahkan ia juga terlihat cantik walaupun tanpa make up.
Lalu tiba tiba keingat dengan wanita yang waktu itu pernah datang ke ruang guru membawakan buku Bu Dista, guru wali kelas.
"Papa pernah lihat dia, kayaknya dia yang sering di bicarakan sama guru guru sana, karena memang anaknya sangat ramah, sopan dan juga pintar," ujar Pak Atmaja memberitahu.
"Wah papa beruntung sudah pernah lihat dia secara langsung, mulai sekarang kalau ketemu calon menantu kita, papa harus lebih ramah ya, sapa kalau perlu. Jangan di liatin doang. Papa juga harus menjaga nya agar tidak ada yang mendekati nya, bisa bisa nanti anak kita patah hati, " ujar mama membuat Pak Atmaja hanya geleng-geleng kepala saja.
"Sudahlah jangan di bahas terus, papa mau sarapan ini. Sudah masak belum?" tanya Pak Atmaja yang sudah selesai mandi dan sudah berpakaian rapi.
"Sudah dong pa, ayo kita sarapan bersama," ajak mama dan akhirnya mereka pun pergi ke ruang makan untuk sarapan pagi.
Sedangkan di tempat yang berbeda, Naila yang selesai masak langsung menyajikan nya di atas meja lalu tak lupa ia mencuci tempat penggorengan dan wadah yang buat masak barusan.
Setelah selesai barulah, ia pamit mandi dulu bentar.
"Mas, aku mandi dulu ya bentar soalnya udah siang ini, atau mas mau makan dulu?" tanya Naila ramah.
"Aku nungguin kamu aja," jawab Marfel.
"Oh ya udah, tunggu bentar ya," ucap Naila lalu pergi ke kamarnya untuk mandiia gak bituh waktu lama hanya 15 menit ia sudah kembali dengan penampilan yang berbeda kali ini ia sudah memakai seragam lengkap dengan tas dan kaos kakinya.
Marfel yang melihatnya pun merasa kaget, gak nyangka bisa secepat ini. Karena yang ia tau kalau cewek itu butuh waktu sejam lebih baru selesai, tapi Naila emang beda sama yang lain.
"Maaf lama ya?" tanya Naila sambil mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk lalu menaruhnya di depan Marfel, tak lupa segelas air putih.
Lalu ia mengambil untuk dirinya sendiri.
"Hehe padahal aku merasa ini sangat lama, semoga kamu suka ya sama masakanku," ujar Naila.
"Aku pasti suka, apapun yang kamu masak, pasti akan aku makan," ucap Marfel serius.
"Hem mas ada ada aja, iya udah ayo makan, nanti telat," ujar Naila lalu mereka pun makan bersama.
"Astaga, andai aku bisa makan bersama dengannya setia hari, betapa bahagianya aku," gumam Marfel dalam hati.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka pun selesai makan.
"Mas, mas mau bawa bekal, soalnya ini eman kalau di buang,"
"Terus kamu makan siangnya gimana?" tanya Marfel.
"Aku kan habis sekolah ke kafe mas, jadi aku makan di sana," ujar Naila.
"Oh ya udah gak papa, biar ini bawa aku aja buat makan siang nanti," tutur Marfel.
"Iya udah, aku ambil tempat bekalnya dulu," ujar Naila.
Lalu ia mengambil bekal makanan dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk, setelah selesai ia menaruh bekal makanan itu ke tas kain.
"Ini mas, jangan lupa di bawa dan jangan lupa di makan juga," ujar Naila mengingatkan.
Lalu ia mengambil piring dan baskom kotor dan mencucinya biar gak numpuk.
Setelah selesai barulah mereka berangkat sekolah bersama.