Novemberain

Novemberain
Naila Kesel Karena Marfel Keterlaluan



Sepulang sekolah, Marfel menunggu Naila di parkiran mobil. Sedangkan Naila ia mengendap endap berjalan dan langsung masuk ke dalam mobil Marfel. Walaupun swpi, tak menutup kemungkinan, ada anak anak yang melihat dirinya masuk ke mobil Marfel.


"Hais, aku kayak pencuri saja, harus ngendap ngendap jalannya," gerutu Naila.


"Lagian kamu, ngapaian ngendap ngendap, padahal lagi sepi,"


"Walaupun sepi kita harus hati hati," ujar Naila.


"Iya sudahlah, kita langsung ke rumah aku atau gimana nih?"


"Anterin aku pulang dulu, aku mau ganti baju, masak iya ketemu mama kamu pakai seragam sekolah, aku kan malu," ucap Naila.


"Ngapain harus malu sih, wajar kamu pakai seragama sekolah, kamu kan masih pelajar,"


"Sudahlah, aku males debat. Anterin aku pulang dulu baru setelah itu ke rumah Mas,"


"Baiklah," jawab Marfel mengalah.


Mereka pun segera cabut dan pergi meninggalkan parkiran sekolah.


"Gimana tadi sekolahnya?" tanya Marfel memecah keheningan, setelah sedari tadi mereka diam dan sibuk dengan fikiran masing masing.


"Ya gitu, biasa aja," jawab Naila sekenanya.


"Kamu kayak lesu gitu, kenapa?" tanya Marfel


"Gak papa," jawab Naila.


"Kamu marah karena masalah hukuman yang aku berikan ke kamu?" tanya Marfel.


"Hem," jawab Naila.


"Aku minta maaf," jawab Marfel.


"Gak papa, bukan mas yang salah tapi aku yang ceroboh melupakan tugas aku, wajar jika mas memberikan aku hukuman," ucap Naila.


"Sudahlah gak papa," jawab Naila.


Marfel pun menghela nafas berat. Ia mengingat kejadian tadi saat jam istirahat.


Saat dimana, Naila datang ke ruangannya karena Naila lupa membawa buku tugasnya.


Marfel mengerjainnya, dan membuat Naila kesal.


Yah, seperti Naila ia suruh mengerjakan semua tugas yang seharusnya ia kerjakan sendiri, namun dengan teganya ia membiarkan Naila mengerjakan seorang diri sedangkan dirinya duduk santai melihat wajah Naila membuat Naila risih.


Tak sampai di situ, Marfel meminta Naila menyanyikan lagu romantis untuknya, awalnya Naila menolak tapi karena Marfel bilang itu juga merupakan sebuah hukuman, mau gak mau Naila pun menyanyikan lagu tercipta untukku dan diam diam Marfel pun merekamnya.


Setelah selesai menyanyikan lagu, Marfel meminta Naila untuk makan bersama dengan bekal yang di bawa oleh Marfel, yang di masak sendiri oleh Naila.


Awalnya Naila gak mau, karena lagi lagi Marfel bilang itu hukuman, akhirnya Naila pun makan bareng dengan sati wadah. Sesekali Marfel menyuapi Naila dan Naila harus mau. Begitupun selanjutnya Naila yang menyiapi Marfel.


Setelah selesai, barulah Naila boleh keluar dengan wajah yang cemberut, sebenarnya Marfel gak tega, ia hanya iseng dan pengen bercanda tapi ia salah, karena dirinya melakukan itu tanpa memikirkan perasaan Naila. Itulah yang membuat Naila kesel sampai sekarang karena Marfel sesuka hati memberikan hukuman nyeleneh untuknya.


Setelah sampai di depan rumah Naila, Naila segera masuk dan ganti baju, tak lama hanya sekitar 15menit saja sedangkan Marfel hanya menunggu di dalam mobil.


Setelah Naila selesai, ia kembali ke mobil dan mereka pun pergi menuju rumah Marfel, dimana di sana sang mama sudah menunggu kedatangan Naila. Sedangkan suaminya, ia gak bisa pulang karena ada rapat dengan para guru di sekolah dan setelah itu akan langsung pergi ke perusahaan.


"Nanti mampir ke toko kue ya," ucap Naila.


"Ngapain?" tanya Marfel.


"Aku gak enak ketemu mamanya mas gak bawa oleh eh," ujar Naila.


"Baiklah," Marfel pun mengalah. Walaupun ia sangat yakin, mamanya gak butuh oleh oleh dari Naila karena baginya kedatangan Naila itu sudah lebih dari kata cukup.


Tapi kali ini ia gak mau melakukan kesalahan lagi. lebih baik ia menurut saja apa kemauan Naila dan membuat mood Naila kembali seperti semula.