
Setelah selesai membeli bubur ayam di depan rumah sakit, Naila pun segera pergi ke kamar Fahmi, ia tak ingin jika Fahmi terlalu lama menunggu dirinya. Saat ia sudah sampai di kamar Fahmi, ia melihat Fahmi yang lagi memejamkan matanya.
"Assalamu'alaikum kak, maaf ya membuat kakak menunggu terlalu lama." ujar Naila sambil menaruh bubur ayam di ataas meja.
"Waalaikumsalam, iya gak papa Nai." jawab Fahmi sambil membuka matanya dan melihat ke arah Naila. Ia bahagia di saat ia sakit seperti ini ada orang yang ia sayang yang berada di sampingnya walaupun sedikit malu karena harus terlihat lemah tapi tak bisa di pungkiri, ia juga bahagia mendapatkan perhatian seperti ini.
"Bangun dulu ya kak, aku suapin." ucap Naila membantu menyusun bantal di belakang Fahmi agar Fahmi bisa duduk sambil menyender ke bantal.
"Iya Nai." jawab Fahmi, ia berusaha untuk bangun sendiri karena Naila tak mau membantu dirinya untuk bangun. Tapi ia tak mungkin menyalahkan Naila, karena ia tau Naila tak mungkiin memegang dirinya ataupun bersentuhan dengan lawan jenis.
"Aku suapin ya kak." Ucap Naila, Fahmi pun hanya bisa terseyum sambil mengangguk. Naila menyuapi Fahmi dengan penuh ketelatenan.
"Bagaimana rasanya kak, enak gak?" tanya Naila.
"Hambar." Jawab Fahmi jujur.
"Mungkin karena lidahnya kakak mati rasa jadinya hambar. Tapi gak papa, nanti jika kakak sudah sembuh, pasti gak akan hambar lagi." Ujar Naila tersenyum sambil terus menyuapi Fahmi.
"Nai, kamu juga makan dong." ucap Fahmi.
"Baiklah." Naila pun menyuapi dirinya sendiri dan setelah itu menyuapi Fahmi secara bergantian.
"Aku gak pernah menyangka bisa makan semangkog berdua sama kamu." Ucap Fahmi tersenyum.
"Nai, aku pengen bisa keluar bareng kamu lagi."
"Iya nanti kalau kakak sembuh. Aku janji."
"Makasih ya Nai." Ujar Fahmi tersenyum.
"Kakak, kadang manggil aku adek, kadang manggil aku Nai. Hehe..."
"Iya, kadang mau manggil nama kamu rasanya sungkan. Tapi manggil adek juga kesannya gak enak, kadang bingung juga mau manggil kamu apa." Jawab Fahmi jujur.
"Aku mah terserah kakak aja deh mau di panggil apa. Aku mah santai orangnya." Ujar Naila sambil terus menyuapi Fahmi pelan pelan.
"Kalau manggil sayang, boleh gak?" tanya Fahmi.
"Ih, kog manggil sayang sih." Ujar Naila.
"Katanya mau manggil apa aja boleh."
"Tapi gak gitu juga kali.
"Hehe iya maaf. Aku cuma bercanda." Ucap Fahmi tersenyum.
"Iya aku tau kakak cuma bercanda, mana mungkin beneran."
"Nah itu kamu tau. Nai, udah ya makannya, aku udah kenyang nih."
"Satu kali lagi ya."
"Beneran, satu kali ya."
"Iya aku janji." Naila pun menyuapi Fahmi. Setelah suapan terakhir, Naila memakan sisa bubur itu sendirian.
"Kog di makan kamu?" tanya Fahmi heran.
"Biar gak mubazir. Hehe." Ucap Naila tersenyum.
"Kamu gak jijik makan sisa aku?" tanya Fahmi.
"Bukan sisa kog, kan dari tadi aku yang nyuapin kamu. Toh tadi aku juga ikutan makan hanya saja masih ada sisa dikit, jadi tak makan sekalian." Jawab Naila, padahal sebelumnya ia belum pernah makan sisa orang lain. Tapi entah kenapa hari ini, ia seperti tak ada rasa jijik sedikitpun. Dan yang ada malah rasa puas karena bisa makan berdua dengan orang yang kini sudah menempati hatinya di tempat yang spesial.
"Mau minum?" tanya Naila.
"Iya."
Naila pun mengambil sebotol aqua kecil dan membukakan tutupnya.
"Nih kamu minum." Ujar Naila sambil memberikan botolnya.
"Gak ah, kamu dulu yang minum baru setelah itu aku."
"Kenapa harus gitu?" tanya Naila.
"Ya gak papa." Jawab Fahmi.
"Ternyata sisa air yang sudah kamu minum itu lebih enak dari air manapun." Goda Fahmi setelah ia menghabiskan minuman yang ada di botol Aqua.
"Ih, kakak sengaja ya nyuruh aku minum duluan biar kakak juga ngerasain sisa minumanku seperti aku yang makan sisa makanan kakak."
"Hehe iya." Ujar Fahmi tersenyum.
"Nyebelin."
"Gak papa dong, kan biar so sweet." Ucap Fahmi mencoba menggoda orang yang ia suka.
"Karena kakak udah makan, udah minum juga. Sekarang waktunya istirahat biar kakak cepet sembuh dan setelah itu kita jalan jalan bareng. Ujar Naila.
"Aku gak mau tidur, kan tadi udah tidur. Masak udah tidur lagi."
"Iya juga ya, terus ngapian dong enaknya?" tanya Naila.
"Hemmm cerita aja deh." Ujar Fahmi.
"Cerita apa?" tanya Naila.
"Cerita apa aja yang penting tentang kamu." Ujar Fahmi.
"Hemmm gak ada yang spesial di hidupku kak."
"Tapi bagi aku apapun yang kamu ceritakan, itu sangat spesial. Karena kamu adalah wanita terpenting dalam hidupku."
"Baiklah, aku akan cerita biar kakak senang dan bahagia. Nama lengkapku Naila Cellina Okta, nama panggilanku Naila atau Nai. Aku lahir di Jakarta tepatnya pada hari Selasa, tanggal 10 Oktober 1996. Dan kini usiaku sudah 17 tahun. Aku tinggal bersama bunda karena ayahku sudah meninggal 5 tahun yang lalu saat aku baru saja lulus SD. Sejak saat itu bunda harus berjuang seorang diri untuk bisa terus bertahan hidup dan menyekolahkan ku.
Setelah ayahku meninggal bunda berjualan keliling. Bunda menjual gorengan keliling kampung bahkan kadang sangat jauh namun 3 bulan kemudian bunda mencoba untuk menjual nasi dan lauk pauknya di depan rumah serta berbagai macam gorengan serta teh, kopi dan jus buah.
Hasil dari ibu jualan di depan rumah sangat lebih dari kata cukup. Sehingga bunda bisa nabung sedikit demi sedikit. Dua tahun kemudian bunda mampu membeli toko yang bunda sulap jadi sebuah resto. Walau resto yg bunda miliki tidaklah seluas yg lain tapi paling tidak resto bunda gak pernah sepi dari pengunjung. Aku sebagai anak sangat bangga sama bunda.
Aku juga sering bantu bunda jualan setiap pulang sekolah dan karena semakin banyak pengunjung yang datang maka bunda memakai 2 karyawan sekaligus.
Aku dan bunda memang bukan orang kaya, ayahku aja hanya seorang guru yang honornya hanya 500 sampai 700 ribu perbulan. Dan kadang itu gak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Jadi setiap ayah pulang ngajar, ayah akan bekerja lagi sebagai ojek online.
Dan setelah ayah meninggal, kehidupan bunda dan aku sangat memprihatinkan. Tapi untunglah bunda punya bakat memasak. Hasil masakan yang bunda buat selalu membuat siapa saja jadi ketagihan. Dan bunda sekarang mulai mengajarkan aku untuk memasak dan bikin berbagai macam kue.
Lihatlah perjuangan bunda selama 2 tahun, bunda bisa punya resto dan memakai 2 karyawan. Tapi bunda tak berhenti begitu saja, bunda terus menabung agar bisa beli toko yang lebih besar agar bunda bisa membuka cabang resto baru. Aku yang melihat perjuangan bunda hanya bisa berdoa semoga Allah selalu melancarkan usaha bunda.
Tahun demi tahun berganti. Ini sudah tahun kelima bunda berjuang bersamaku Dan itu tandannya Ayah sudah lima tahun meninggalkan aku dan bunda. Tapi bukan berarti kami patah semangat. Ayah memang meninggalkan kami tapi aku yakin ayah selalu tersenyum melihat aku dan bunda yang kini sudah bisa bangkit dari kemiskinan dan keterpurukan.
Di tahun kelima bunda berjuang, bunda sudah mempunyai 2 resto dan bisa membeli rumah lantai dua. Bunda juga membelikan aku sepeda motor metik agar aku bisa sekolah menggunakan sepeda motor. Tak lagi naik angkot yg penuh sesak.
Di usiaku kini yang sudah 17 tahun. Aku sudah duduk di kelas 2 SMA. Setahun lagi aku akan lulus sekolah dan bisa kuliah di universitas yang aku inginkan. Untuk itu aku akan belajar keras untuk selalu mendapatkan juara satu dan bisa dapat beasiswa untuk kuliah.
Aku gak mau terus menerus membebani bunda, jadi aku harus jadi anak pinter agar bisa kulyah tanpa harus mengeluarkan biaya.
Bunda juga melarang aku deket sama laki laki apalagi jika sampai menjalin sebuah hubungan. Karena bunda gak mau jika cita citaku terhambat hanya karena aku terlalu sibuk pacaran. Lagian pacaran lebih banyak mudharat nya ketimbang manfaatnya. Aku juga tidak mau pacaran. Aku lebih suka pacaran setelah menikah. Hehe biar kalau ngapa ngapain gak takut dosa." Ucap Naila menceritakan kehidupan pribadinya secara detail.
"Hemmm ternyata perjungan kamu dan bunda gak mudah ya, kamu dan bunda kamu harus memulainya dari nol hingga bisa seperti sekarang. Tapi jika kelak kamu mencintai seseorang dan seseorang itu juga mencintai kamu. Apakah kamu tetep tak akan menjalin sebuah hubungan?" tanya Fahmi.
"Gak kak, biarlah cinta ini tetep ada di hati aku sampai tiba waktunya tuhan menyatukan hati ini dengan ikatan yang halal." Ujar Naila tersenyum.
"Tapi bagaimana jika ternyata orang yang kamu suka itu punya penyakit yang membuat hidupnya tak bertahan lama?" tanya Fahmi.
"Maksud kakak bagaimana, aku gak faham." Ujar Naila.
"Misal kamu suka sama aku dan aku pun suka sama kamu. Aku rela nunggu kamu sampai kamu bisa mengejar cita cita dan impian kamu tapi sebelum apa yang kamu inginkan itu terwujud ternyata tuhan mengambil aku. Apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu akan menyesal karena menunda pernikahan atau malah seballiknya?" tanya Fahmi.
"Kog kakak bicara seperti itu sih? bikin takut tau gak?" Ujar Nial sebal.
"Kita tak pernah tau umur seseorang Nai. Aku kan cuma bilang misalnya." Ucap Fahmi.
"Aku yakin kakak bisa terus berada di samping aku sampai aku bisa mewujudkan semua impianku."
"Semoga aja Nai." Ujar Fahmi tersenyum. Walau sebenarnya ia pun tak yakin sisa umurnya apakah mungkin bisa bertahan selama setahun kedepan. Mengingat ia mengidap penyakit yang mematikan.