
Sesampai di lantai tiga, ruang mawar nomer 112, Naila dan Bunda Ila mengetuk pintu dengan pelan dan tak lama kemudian, seseorang membukakan pintu.
"Mbak Naila?" tanyanya.
"Iya, ini aku," jawab Naila sambil menganggukkan kepala.
"Silahkan masuk, Mbak," ucap laki-laki yang umurnya sekitar dua puluh delapan tahun itu.
Naila dan Bunda Ila pun masuk dan betapa kagetnya mereka, melihat kondisi Alfa, ada banyak selang di tubuhnya dan juga di mulut dan hidungnya ada alat bantu pernafasan. Di sampingnya juga ada monitor icu yang berfungsi untuk memantau kondisi fisiologis pasient secara teratur untuk memastikan stabilitasnya.
Di samping Alfa yang tengah berbaring sakit, itu ada dua orang paruh baya dan anak kecil.
"Kamu Naila?" tanya wanita paruh baya.
"Iya, Tante," jawab Naila.
"Dari kemaren Alfa mengigau nama kamu, Nak. Bahkan sudah empat kali dia menyebut nama kamu. Sayangnya dia menyebut karena di pengaruhi alam bawah sadarnya. Naila, Tante gak tau apa hubungan kamu sama anak Tante, tapi Tante berharap dengan kedatangan kamu, bisa menyadarkan putra Tante," ujar wanita paruh baya itu menangis.
Naila bingung sedangkan Bunda Ila memilih diam, karena ia juga bingung mau ngomong apa.
"Perkenalkan saya Antoni, Papanya Alfa dan ini Arini, Mamanya Alfa, dan ini Alfira, adiknya Alfa. Sedangkan dia, Adrian, kakak sepupunya Alfa," ucap pria paruh baya yang bernama Antoni itu, yang tak lain Papanya Alfa.
"Salam kenal, Om, Tante, Mas Adrian dan Alfira. Perkenalkan juga, saya Naila dan ini Bunda saya," ujar Naila yang juga memperkenalkan dirinya. Entah kenapa mereka berbicara formal seperti itu.
"Salam kenal, saya Ila, Bundanya Naila," ujar Bunda Ila sambil tersenyum ke arah mereka semua.
"Salam kenal, Jeng Ila," ucap Arini, Mamanya Alfa.
"Om, Tante. Sebenarnya kenapa dengan Kak Alfa, kenapa dia seperti ini?" tanya Naila yang sudah dari tadi penasaran kenapa Alfa bisa sampai terbaring di rumah sakit dengan alat-alat yang nempel di tubuhnya itu.
Dan setelah keadaannya membaik, dia selalu menyebut nama Naila, itulah kenapa, kemaren Bayu bersama dan Adrian langsung benerin hpnya. Dan saat hpnya hidup, banyakk pesan masuk dari kamu dan yang lainnya, membuat hp itu kembali mati. Jadi harus di cas. Dan setelah hpnya mulai enak di pakai, Adrian baru bisa menghubungi kamu. Sebenarnya sudah dari kemaren, Om dan Tante ingin mengunjungi rumah kamu, hanya saja Om dan Tante gak tau rumah kamu dimana," ujar Arini menitikkan air mata. Ia mengatakan sejujurnya, ia juga menceritakan ke Naila sama persis seperti Bayu yang mengatakan hal itu padanya.
Mendengar cerita Arini, Naila pun semakin merasa bersalah. Bunda Ila pun juga ikut sedih, bagaimanapun dirinya seorang Ibu, pasti hatinya akan terluka jika melihat buah hatinya sampai seperti ini.
Bunda Ila menatap ke arah Naila yang terlihat sedih bahkan menitikkan air mata.
"Ma, gimana kalau Naila kasih waktu berdua sama Alfa. Siapa tau, kehadiran Naila di sini, bisa membuat Alfa segera sadar, dan bisa melewati masa kritisnya," ujar Antoni. Arini pun mengangguk setuju. Adrian dan Alfira memilih diam dan menyimak saja.
"Jeng Ila, apa gak papa jika Naila di sini berdua sama Alfa?" tanya Arini meminta persetujuan Bunda Ila.
Bunda Ila pun mengangguk setuju, lagian mereka gak mungkin ngapa-ngapain kan, terlebih kondisi Alfa kayak gini. "Enggak apa-apa Jeng Arini," ujar Bunda Ila.
Setelah itu, Bunda Ila, Arini-Mamanya Alfa, Antoni-Papanya Alfa, Alfira-adiknya Alfa dan Adrian-kakak sepupunya Alfa, pergi dari ruangan itu dan membiarkan Naila berdua dengan Alfa.
Naila menatap ke arah Alfa, ia duduk di kursi yang ada di samping brankar. Ia memegang tangan Alfa. Namun baru mau buka suara, HPnya berbunyi, ternyata Marfel tengah memanggil. Namun Naila gak mungkin mengangkatnya di saat dirinya ada di ruangan ini bareng Alfa. Ia gak mau Alfa mendengarnya dan malah bikin kondisi Alfa makin drop.
Setelah mematikan panggilan Marfel, tak lama kemudian Marfel mengirim pesan.
"Kok di matiin yank, kamu ada di mana? Sudah pulang sekolah?" ketiknya.
"Aku sudah pulang, Mas. Tapi masih ada urusan bentar ama Bunda. Nanti aku telfon balik ya."
"Urusan apa yank?"
"Urusan perempuan hehe. Dah dulu ya, Mas. I love you."
Dan setelah itu, Naila pun mematikan datanya agar Marfel tak terus menerus mengirim dirinya pesan. JIka ia fokus membalas pesan dari Marfel, lalu kapan dirinya ada waktu buat ngobrol sama Alfa, sedangkan orang di luar pada nunggu dirinya dan berharap kedatanganya bisa membuat Alfa sadar.