Novemberain

Novemberain
Pujian Buat Seorang Ibu



Setelah selesai mencuci mangkok, gelas dan nampannya, Naila langsung menaruhnya di rak piring di samping wastafel. Dan setelah itu, ia pun di ajak Marfel untuk mengelilingi rumahnya. Dari belakang rumah tentunya karena yang palling dekat dengan dapur.


"Di sini enak ya, Mas. Adem," ucap Naila melihat di taman belakang yang penuh berbagai macam bunga dan sayuran. Di sebelah kanan ada kolam yang berbentuk persegi panjang. Sedangkan di samping kirinya, ada taman yang di bagi menjadi beberapa bagian. Ada tamang bunga, juga ada beberapa sayuran serta pohon cabe, terong, tomat dan ada kemangi juga. Serta ada pohon mangga hanya saja belum berbuah. Karena memang belum musimnya, di taman itu ada rumput hijau yang tertata rapik dan agar tidak keinjak, ada tempat untuk berjalan jika ingin memetik bunga, sayuran dan cabe serta lainnya.


Di samping taman itu ada kran air dan selang yang berukuran tujuh meter. Sedangkan di bawah pohon mangga ada kursi yang cukup untuk di duduki dua orang serta meja kecil. Yang mungkin bisa di manfaatkan untuk menaruh makanan atau minuman.


Di samping kolam, itu juga ada kamar mandi kecil, mungkin setelah selesai berenang bisa sekalian langsung mandi dan ganti baju di sana.


"Mama itu kan cuma di rumah terus, Nai. Jadi Mama bikin taman ini agar Mama ada kerjaan dan gak gampang bosen. Karena Mama punya kesibukan untuk merawat bunga-bunga dan sayuran yang Mama tanam. Jadi untuk sayuran, Mama kadang gak perlu beli cukup ambil di sini aja. Di samping rumah juga ada sayuran lainnya, seperti bayam, kangkung, sawi, timun, labu, dan banyak lagi lainnya. Kamu mau lihat juga?" tanya Marfel dan Naila pun menganggukkan kepala.


Dan saat mereka berdua berjalan ke samping rumah, lagi-lagi Naila di buat kaget. Di san ada beberapa pot gantung yang di tata rapi yang isinya bukan bunga sepeerti kebanyakan, tapi berisi sayuran. Sedangkan di bawahnya ada kotak kayu palet yang berisi daun mint, daun bawang dan lainnya. Serta ada juga rak sayur dengan pot-pot kecil. Semunya benar-benat tertata, ada juga yang pakai paralon. Bahkan jika dilihat emang lebih dominant paralonnya, mungkin karena tak perlu capek-capek nyiram, karena sudah ada air yang mengalir dan kita tinggal amati volume air dan akar tanaman sayurannya secara berkala. Dan kita bisa menambahkan air jika volume air mulai berkurang.


"Tante sangat rajin ya Mas, sampai berbagai macam sayur, buah, bumbu ada di sini semua, tinggal beli ikannya aja nih," ujar Naila.


"Ikannya juga ada kok," ucap Marfel yang membuat Naila kaget.


"Apa! Dimana?" tanya Naila. Dan Marfel pun membawanya ke samping rumah di bagian kanan. Dan ternyata di sana emang ada kolam, tapi bukan kolam pemandian, tapi khusus untuk kolam ikan.


"Ya Ampun, lengkap banget. Kalau Ayam, telur, apa juga punya?" tanya Naila.


"Ada, kamu mau lihat juga?" tanya Marfel yang membuat Naila melongo. Tanpa menjawaabnya, Marfel pergi ke taman belakang tadi, dan di sana ada pintu kecil yang gak akan kelihatan, karena ada beberapa pohon yang menghalangi, terlebih warna pintunya hampir sama dengan warna tumbuhan, jadi mungkin gak akan tau, kalau itu pintu menuju kandang ayam.


"Nah ini ayam milik Papaku. Emang sengaja letaknya agak di buat jauh, agar kotorannya gak kedengeran sampai rumah. Untuk kandang ayam sendiri ada yang mengurusnya. Tapi kadang Mama atau Papa yang terjun sendiri untuk membersihkan kandangnya. Ayamnya  sih gak banyak, sekitar dua puluhan aja. Awalnya sih cuma beli dua, tapi lama-kelamaan jadi banyak kayak gini. Telurnya sebagian di masak, sebagian lagi sengaja di biarkan agar bisa menjadi itik. Nanti ayam yang umurnya sudah tua, itu yang akan di sembelih duluan buat di masak. Tapi kadang ada kalanya, Mama juga beli di luar kok untuk lauk pauk dan sayuran, tapi kebanyakan masak hasil kebunnya sendiri," ujar Marfel menjelaskan.


"Mamanya Mas Marfel sangat hebat ya," puji Naila yang merasa kagum dengan calon mertuanya itu.


"Dan Bundamu jauh lebih hebat. Beliau seorang single parent, namun Bundamu bisa bangkit dari keterpurukan. Dia bangkit untuk memperbaiki ekonomi dan memberikan kamu kehidupan yang jauh lebih baik, lebih layak. Bundamu rela kerja siang malam, agar kamu bisa seperti yang lain, sekolah yang baik dan bisa mengejar impian kamu. Bundamu juga rela menahan rasa rindu, menahan rasa lelah, agar bisa terus mencari uang sebanyak mungkin, agar kamu tak lagi hidup dalam kekurangan. Tidak mudah menjadi seorang Ibu tunggal, di tinggal seorang suami, laki-laki yang sangat dicintainya. Lalu dipaksa, menjadi tulang punggung untuk tetap bertahan hidup dan bisa hidup setara dengan yang lain." Marfel juga ikut memuji sang calon mertua, karena baginya, Bundannya Naila tak kalah hebatnya dari sang Mama. Ya, intinya mereka para Ibu yang hebat.


"Ya dan aku beruntung punya Bunda, seperti Bunda Ila. Aku beruntung lahir dari rahimnya, dan aku beruntung bisa sampai di tahap ini dan mengenal Mas Marfel, dan bentar lagi akan menjadi milik Mas Marfel, dan akan segera menjadi bagian dari hidup Mas Marfe. Lalu secara tidak langsung, Mamanya Mas Marfel pun akan jadi Mama aku. Begitupun Pak Atmaja, yang merupakan kepala sekolah, akan jadi Papa mertua aku, mereka akan jadi orang tua aku. Pasti rasanya akan menyenangkan, karena menambah anggota keluar dan hidup rukun, saling bantu membantu dan membuat mereka bangga dengan prestasi kita nantinya."


Marfel pun mengangguk setuju. "Aku juga beruntung karena akan menjadi suami dari wanita cantik dan baik hati seperti kamu. Ya udah yuk, kita pergi dari sini. Nanti kita bau ayam," ujar Marfel terkekeh. Naila pun menganggukkan kepala dan pergi dari sana.