
Setelah setengah jam menunggu, benar saja, ada beberpa orang yang mengirim chat. Naila pun tak menyangka, jika Marfel akan menepati janjinya. Dengan sangat antusias, Naila membalas chat mereka masing-masing. Ada tiga orang, satunya peternak ayam kampung berkualitas, satunya peternak ikan dan ada banyak ikan yang ia kelola dan harganya murah muriah. Ada juga dua petani sayuran yang akan mennyuplai ke resto milik Naila.
Naila pun membalas pesan mereka satu persatu, dan Naila berjanji kalau nanti sore, dia akan pergi ke petani sayur dulu untuk melihat langsung sayuran yang di tanam. Ada dua petani sayur yang di sediakan oleh Marfel, sehingga jika satunya belum panen, ada satunya lagi yang menyuplai sehingga tetap berjalan. Naila pun membuat janji sama mereka, bahkan Naila sendiri yang akan datang langsung ke mereka nanti sekalian membicarakan masalah harga dan kesepatakannya, dan kalau cocok, Naila akan mengirimkan kontrak kerja besok agar hal seperti kemaren tidak terjadi di masa depan.
Sedangkan untuk peternak ayam dan ikan, Naila janjian sama mereka sepulang sekolah. Dan sama seperti petani sayuran, Naila yang akan datang langsung untuk melihat kualitas ikannya, jika cocok langsung nego harga dan jika sudah sepakat, baru tandatangan kontrak untuk beberapa tahun ke depan, dan jika kerjasama terjalin bagus, bisa memperpanjang masa kontrak agar tidak saling merugikan satu sama lainnya.
Setelah selesai chatan sama mereka, Naila pun langsung menelfon sang Bunda dan membicarkan tentang mereka. Dan Bunda Ila pun merasa sangat senang dan antusias sekali. Dan mungkin jika sudah sama-sama tandatangan kontrak, lusa resto sudah bisa dibuka kembali. Tak lupa Naila juga memberitahu di grup, bahwa kemungkinan besar lusa sudah bisa kerja lagi, Naila memberitahu takutnya ada yang berlibur ke luar kota atau yang lainnya, karena kemaren Naila terlanjur bilang libur selama beberapa hari ke depan. Namun siapa sangka, jika ternyata Naila sudah menemukan solusi yang tepat dan itu semua tak lepas dari bantuan Marfel. Andai ia bicara masalah ini ke Marfel, mungkin masalahnya pun sudah cepat di atasi kemaren. Bodohnya dirinya yang sok tangguh, seakan-akan bisa menyelesaikan masalahnya, padahal dirinya masih belum tau apa yang harus di lakukan.
Untungnya ada Marfel, jika tanpa dia, mungkin sampai detik ini, Naila pasti masih pusing tujuh keliling.
Setelah selesai chatan di grup, tiba-tiba Marfel memaggil...
Tanpa mau buang waktu, Naila langsung mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Mas," sapa Naila lebih dulu.
"Waalaikumsalam. Gimana? Mereka sudah menghubungi kamu?" tanya Marfel tanpa basa-basi.
"Iya, Mas. Makasih ya."
"Hem. Tapi lain kali jangan kayak gini, kalau ada masalah cerita, aku pasti akan bantu cari jalan keluarnya, jangan ada rahasia di antara kita."
"Iya, Mas."
"Kamu lagi apa?"
"Lagi santai aja di rumah, nanti sore baru mau pergi ke Rumah Pak Eko sama Pak Farhan, untuk lihat sayuran mereka," jawab Naila memberitahu.
"Sama siapa perginya?"
"Sendirian, Mas. Emang mau sama siapa lagi?"
"Jangan malam-malam pulangnya."
"Iya, Mas. Kondisi Mama Mas Marfel gimana?" tanya Naila karena dari kemaren ia tak menanyakan sama sekali.
"Maafin aku ya, Mas. Aku cuma mikir diri aku sendiri, aku bahkan mengabaikan Mas Marfel dan kedua orang tua Mas Marfel. Padahal selama ini, kalian baik sekali sama aku."
"Sudahlah, gak papa. Aku faham, kamu punya urusan sendiri, wajar jika kamu tidak peduli sama aku dan orang tua aku."
"Mas, bukan gitu ...."
"Aku sudah tau semuanya, Nai."
"Tau apa?'
"Tentang kamu yang kemaren pergi ke rumah sakit menemui Alfa, tentang kamu yang beberapa hari menangis bahkan kelihatan lesu karena Alfa dan tentang kamu yang hari ini pergi ke rumah sakit, lagi-lagi untuk jenguk Alfa."
"Mas ...."
"Aku gak tau lagi, Nai. Hati aku sakit, karena kamu berbohong sama aku. Hati aku juga sakit, karena aku merasa ditipu. Aku berusaha untu menjauh dari wanita manapun yang mencoba untuk mendekati aku, tapi kamu malah mencoba untuk mendekat sama laki-laki yang sudah jelas-jelas, kamu tau, jika dia menyukai kamu."
"Maaf, Mas."
"Nai, aku rasa hubungan kita akhiri sampai di sini aja," ujar Marfel sambil menitikkan air mata. Yah, barusan ia mendapatkan foto dari seseorang, hanya saja ia gak tau orang itu siapa. Dan melihat semua foto-foto dan beberapa catatan di bawahnya, membuat hati Marfel terasa sesak. Bahkan ia melihat di sana ada Naila dan Bundannya yang menjenguk Alfa di rumah sakit. Naila juga mengabaikan dirinya, karena Alfa. Karena laki-laki lain.
"Mas kok ngomong gitu sih," ujar Naila tak suka, ia juga ikut menangis. Hatinya juga sesak mendengar Marfel yang ingin mengakhiri hubungan mereka.
"Mungkin kita gak cocok, Nai. Aku juga minta maaf kalau selama ini ada salah sama kamu dan terkesan mengekang kamu. Aku benar-benar minta maaf."
"Mas hiks hiks maafin aku." Naila menangis dengan suara sesegukan. Ia menyesali apa yang sudah terjadia, bahkan ia menyesal kenapa ia gak terbuka dari awal pada Marfel.
"Sudahlah, Nai. Aku tutup dulu ya. Semoga kamu mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari aku."
Dan setelah itu, Marfel mematikan hpnya. Ia juga membanting hpnya hingga hancur. Untungnya saat ini Marfel ada di kamar yang kedap suara, hingga tak akan ada yang mendengarnya. Marfel meninju kaca besar yang ada di sampingnya hingga kaca itu hancur berantakan. Tangannya pun terluka bahkan ada beberapa kaca yang menancap di jari-jarinya, darah yang juga mengalir dari luka-luka yang tergores dan tertancap kaca yang tajam. Namun Marfel tak memperdulikannya. Hatinya bahkan jauh lebih sakit dari pada tangan yang kini tengah terluka.
Tadi setelah ia berbicara dengan kenalannya untuk membantu Naila, tiba-tiba beberapa orang mengirim foto, vidio dan juga beberapa catatan yang membuat dirinya langsun tersenyum pahit. Sudah cukup ia merasa di bodohi oleh Naila. Dan sudah saatnya ia bangkit, melupakan wanita yang bahkan tak mau memperdulikan perasaannya.
Ia tak mau ingin menjadi laki-laki bodoh lagi, di permainkan dan di abaikan begitu saja. Tadi dia hanya berkata manis di awal, karena ia berfikir, ia akan pura-pura bodoh saja agar bisa tetap bersama Naila. Namun sayangnya hatinya seakan berkhianat, hatinya terasa sakit dan logikanya seakan tidak mengizinkan dirinya, untuk pura-pura tidak tau. Tentang apa yang telah di lakukan oleh Naila di belakangnya. Itulah sebabnya ia ingin mengakhirinya saja, mungkin ia akan sakit hati, tapi itu lebih baik dari pada selamanya ia akan terut ditipu oleh wanita yang ia sukai. Karena itu akan menginjak-injak harga dirinya sebagai laki-laki.