Novemberain

Novemberain
Curiga Dengan Kedekatan Marfel dan Naila



Saat jam istirahat tiba, Rani dan teman-temannya pergi kekantin tanpa Naila. Mereka tau Naila butuh waktu sendiri. Untuk itulah, mereka tak ingin menganggunya dan membiarkan Naila berada di dalam kelas tanpa ada gangguan dari mereka. Begitupun dengan yang lain, mereka seakan kompak membiaran Naila berada di kelas itu sendiri sehingga Naila tampak merasa leluasa untuk mengespresikan perasaannya.


Naila sendiri pun bersyukur banget punya teman yang pengertian, mereka seakan membiarkan Naila sendiri tanpa memberikan banyak pertanyaan yang membuat Naila terganggu.


Di dalam kelas itu, Naila menyenderkan kepalanya di meja dan melihat ke lantai. Ia menangis dengan isakan kecil. Walaupun ia hanya sendirian di kelas itu, tetap saja ia harus hati-hati. Ia tak ingin banyak orang tau, bahwa saat ini ia tengah menangis. Ia tak mau mereka melihat kelemahannya itu.


"Tuhan, mengapa semuanya seperti ini? Kenapa di saat aku mulai merasakan kebahagiaan, Engkau uji lagi aku dengan masalah-masalah seperti ini. Mau sampai kapan ini berakhir? Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk bisa keluar dari masalah ini? Kenapa Kak Alfa harus hadir di dalam hidupkku dan mengungkapkan perasaannya? Itu hanya akan menambah bebanku, Tuhan? Dan sekarang aku merasa khawatir, dan aku tak tau apa yang harus aku lakukan? Karena aku gak tau dia di mana dan bagaimana kondisinya saat ini? Apa yang harus aku lakukan untuk menemukan dirinya. Beri aku petunjuk Tuhan. Beri aku petunjuk agar aku tau Kak Alfa di mana dan memastikan dia baik-baik aja, agar aku pun merasa lega," gumam Naila dalam hati.


Naila terus memohon sama Tuhan, ia terus menangis dengan isakan kecilnya itu.


Sedangkan Marfel, ia pergi ke kantin untuk mencari keberadaan Naila, dari tadi ia tak bisa untuk tidak khawatir dengan keadaan kekasihnya itu. Namun sesampai di kantin, ia malah tidak menemukan Naila berada di sana, ia hanay menemukan teman-temannya yang tengah bercanda sambil menikmati makanan yang mereka pesan.


Marfel pun akhirnya berjalan ke kelas Naila, dan benar saja ia melihat Naila berada di kursinya sendirian. Marfel ingin mendekati Naila, namun ketika ia mendengar isakan kecil keluar dari mulut Naila. Marfel pun menahan dirinya untuk tidak terus mendekati Naila.


Marfel memilih untuk diam di sana, lalu ia duduk di kursi guru dengan pelan dan membiarkan Naila terus menangis dan berfikir jika di kelas itu gak ada siapapun kecuali dirinya.


Marfel menatap ke arah Naila yang terus menangis dengan isakan kecilnya. Ingin rasanya Marfel mendekatinya dan memeluknya, memberikan ketenangan dan menguatkan Naila, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi sayangnya, Marfel tidak bisa melakukan itu, karena Naila sendiri seakan memberikan batas untuknya. Naila tak mau berbagi cerita dengannya seakan membenteng dirinya sendiri agar tak ada orang lain tau dan masuk dalam permasalahnya. Entah masalah berat atau masalah ringan. Marfel hanya bisa diam dan berharap, Naila mau mempercayai dirinya dan mau berbagi cerita.


Naila yang masih merasa dirinya sendirian di kelas itu, hanya terus menangis. Hingga setengah jam lamanya, barulah suara isakan itu tak lagi terdengar, yah Naila ketiduran. Mungkin karena efek semalam tidak tidur dan kelalahan menangis, hingga membuat Naila tanpa sadar terlelap.


Marfel pun yang sedari tadi diam melihat ke arah Naila, langsung menghampiri wanita itu, setelah tak lagi mendengar isakan Naila. Ia berjalan dengan pelan, memanggil Naila dengan pelan, namun tak ada jawaban.


Dengan pelan dan penuh kelembutan, ia memegang kepala Naila dan ia melihat mata Naila tengah terpejam. Dan dia pun sadar, jika Naila ketiduran. Marfel mengangkat tubuh Naila dan membawanya ke UKS. Sepanjang jalan anak-anak melihat ke arah mereka, namun tak ada yang berani berkomentar karena melihat wajah datar Marfel.


Sesampai di UKS, Marfel menidurkan Naila di atas brankar dengan pelan agar Naila tak terganggu tidurnya. Ia juga menaruh bantal di bawah kepala Naila, agar Naila bisa tidur dengan nyenyak. Ia tau jika Naila tidak tidur semalaman, jadi untuk saat ini, Marfel akan menjaga wanitanya itu, agar tak ada seorang pun yang mengganggu Naila yang kini tengah tertidur lelap.


"Aku gak tau seberapa berat masalah kamu, Nai. Aku gak tau, apa yang tengah kamu fikirkan saat ini. Tapi percayalah, aku akan selalu ada untuk kamu, aku akan selalu mendukung kamu, aku akan ada di belakang kamu dan support kamu. Aku rela mengalah dan menahan sakit, asal kamu tak lagi seperti ini. Kamu harus bahagia Nai, aku tak ingin lihat kamu seperti menanggung beban berat seperti ini. Maafin aku jika aku ada salah, aku menyayangi dan mencintai kamu Nai. Aku lebih suka lihat kamu bahagia, tertawa lepas dari pada menangis seperti ini, karena itu hanya menghancurkan hati aku," ucap Marfel sambil menggenggam tangan Naila.


Saat jam pelajaran kedua di mulai, Rani dan teman-temannya kembali ke kelas dan mereka tak menemukan Naila. Namun salah satu temannya yang tadi sempat melihat Marfel tengah menggendong Naila yang pingsan dan membawanya ke UKS langsung memberitahu Rani dan teman-temannya.


"Tadi aku mellihat Pak Marfel menggendong Naila, dan kayaknya Naila gak sadarkan diri. Soalnya aku lihat Naila pejamkan mata gitu," ucapnya memberitahu. Saat Rani tanya, Naila kemana.


"Apa Naila sedang sakit?" tanya Rani dan laki-laki itu hanya mengangkat bahunya, seakan mengatakakn aku gak tau.


"Apa kita harus ke UKS dan melihat kondisi Naila?" tanya Rifa dan Rani pun menganggukkan kepala.


"Iya sudah kalian berdua aja yang lihat, soalnya kalau yang lain ikut, nanti malah rame, bikin gaduh," ujar Ayu dan Rani pun menyetujui ucapannya itu.


Rifa dan Rani pergi ke UKS, dan ketika ia mengetuk pintu. Ternyata Marfel yang membukanya.


"Ada apa?" tanya Marfel dengan suara dinginnya, tak ada ramah sama sekali.


"I ... itu Pak. Sa ... saya mau lihat Naila," ujar Rani gugup.


"Ah gitu. Baiklah, kalau gitu, saya pamit ke kelas dulu." Rani langsung menyeret Rifa dari sana. Karena Rani takut melihat wajah Marfel yang dingin nan ketus itu.


"AKu merinding lihat wajah Pak Marfel tadi," gerutu Rifa yang merasa takut.


"Sama, tapi kira-kira ada apa ya? Kenapa kita gak boleh lihat Naila dan kenapa Pak Marfel berwajah dingin gitu? Akunya jadia gak berani. Padahal kan aku ingin tau kondisi Naila. Dia itu pingsan apa tidur sih. Kata NIko tadi dia pingsan, tapi kata Pak Marfel, Naila tengah tidur. Tau ah pusing," ucap Rani frustasi. Rifa pun merasakan hal yang sama.


Sesampai di kelas, Rani dan Rifa langsung di samperin Ayu, Puput, Rahma dan Firoh.


"Loh kok sudah balik, gimana keadaan Naila?" tanya Puput.


"Aku gak tau, soalnya gak boleh lihat sama Pak Marfel," jawab Rani.


"Loh kok gitu?" tanya Ayu heran.


"Gak tau, tapi wajah Pak Marfel nakutin tau gak, dingin dan datar gitu, mana ngomongnya ketus lagi. Kita gak boleh lihat Naila katanya Naila lagi tidur dan gak boleh di ganggu. Di suruh nanti aja kalau pengen lihat dan ngobrol dengan Naila," sahut Rifa dan Rani pun menganggukkan kepala.


"Aku kok curiga, ya." ujar Rahma.


"Curiga kenapa?" tanya Firoh.


"Aku curiga mereka menjalin hubungan," balas Rahma.


"Kok kamu punya pemikiran seperti itu?" tanya Rani.


"Naila kan bilang dia menyukai seseorang, dan ketika Kak Stefan memberikan coklat dan roti, Naila seperti ketakutan dan memberikan coklat dan roti itu ke Rifa. Iya kan? Padahal tak akan ada yang tau, selama Naila gak ngasih tau ke siapa-siapa. Tapi Naila seakan ketakutan menerima pemberian dari cowok lain. Dan lagi, kemaren kan Naila di suruh ke ruangan Pak Marfel. Iya gak sih. Dan sekarang Pak Marfel membawa Naila ke UKS dan tidak boleh ada yang lihat. Aku yakin, mereka pasti punya hubungan spesial deh," ujar Rahma.


Mendengar penjelasan Rahma pun, mereka menyetujui ucapan Rahma itu.


"Ya, aku juga merasa jika Pak Marfel dan Naila ada hubungan. Karena Pak Marfel itu kan gimana ya, dan tiba-tiba dia kek peduli banget samas Naila. Dari sekian banyak siswi, kenapa harus Naila yang mendapatkan perhatiain lebih, kalau bukan karena ada sesuatu, tak mungkin kan Pak Marfel sampai sepeduli itu," ujar Ayu.


"Kita cuma bisa menebak saja, karena Naila gak akan pernah mau bercerita ke kita. Apalagi masalah cowok. Iya kan?" tanya Firoh dan mereka pun setuju.


"Pantas aja jika Naila menolak anak-anak yang menembaknya, dia mah sukanya laki-laki dewasa yang tampan dan mapan," ucap Rifa dan Rani pun setuju.


Sedangkan yang lain hanya diam, tak memberi respon.


Saat mereka tengah bicara, guru datang. Dan mereka pun pada diam dan duduk di tempat masing-masing. Sedangkan Naila, dia masih di UKS namun Marfel sudah meminta izin kepada guru yang mengajar di kelas Naila saat ini, dan guru itupun tak mempermasalahkan.


Marfel dengan setia terus melihat ke arah Naila yang masih setia memejamkan mata, raut wajahnya terlihat kelelahan sekali. Marfel hanya bisa mengelus tangan Naila dengan lembut. Marfel bahkan rela membolos untuk tak mengajar di kelas satu karena memililh untuk menemani Naila hingga posisi Marfel, lagi-lagi di ganti sama guru lain.


Ibu Ririn yang tau jika Marfel tengah menunggu murid bernama Naila pun merasa cemburu karena merasa jika Marfel terlalu berlebihan. Tapi Ibu Ririn itu gak bisa berbuat apa-apa, karena ia tak mungkin membuat onar, terlebih saat ini ia masih berusaha mendekati Pak Marfel. Jika ia bikin ulah, bisa jadi Pak Marfel akan ilfil padanya dan Ibu Ririn tak mau itu terjadi.