
Jam istirahat Rani yang biasanya antusias pergi ke kantin, sekarang dia hanya duduk diam sambil di kursinya sambil terus melihat ke Hp nya.
"Ran, kamu kenapa?" tanya Naila basa basi. Karena bingung mau ngomong apa lagi.
"Aku nunggu balasan dari Kak Alfa Nai, tapi kenapa belum di bales ya sampai sekarang?" tanya Rani jujur akan perasaannya.
"Mungkin Kak Alfa lagi sibuk, makanya dia gak bales," ucap Naila bohong, padahal ia tau betul, Alfa gak akan bales chat orang yang gak ia kenal.
"Hemm masak sibuk terus. Apa dia emang sengaja gak bales chat aku, secara aku ini apanya dia, teman juga bukan, kenalan juga bukan, pantas jika dia gak bales chat aku," ujar Rani sedih.
"Emang kenapa sih kamu pengen banget chatan dengannya?" tanya Naila.
"Entahlah Nai, tapi pertama aku lihat dia makam, aku langsung jatuh hati dengannya. Mungkin kamu gak akan percaya, tapi aku bener bener jatuh cinta padanya," ucap Rani membuat Naila kaget.
"Tapi gimana jika ternyata dia sudah punya pacar atau hubungan lebih sama wanita lain?" tanya Naila yang membuat Rani menatap tajam ke arah Naila.
"Jangan mikir gitu dong, aku yakin kalau Kak Alfa belum punya pacar apalagi menjalani hubungan lebih dengan wanita di luaran sana,"
"Aku kan cuma bilang, Jika,"
"Sudahlah jangan mikir yang aneh aneh, kalau kamu mau ke kantin, kamu pergi aja, aku mau sendiri di sini," ujar Rani kesal.
Naila yang melihatnya hanya geleng geleng kepala, "Hanya karena cowok, sikapmu berubah Ran, kamu gak kayak dulu lagi," gumam Naila dalam hati.
Naila pun memilih pergi, dan membiarkan Rani untuk menenangkan diri.
Karena Naila juga males mau ke kantin, akhirnya dia pun memilih untuk pergi ke perpus. Di sana ia membaca buku sastra indonesia. Entahlah kenapa ia ingin membaca buku tersebut.
Naila mengernyitkan dahi melihatnya, sedangkan Stefan membalasnya dengan senyuman. Naila pun mengabaikannya dan memilih fokus kembali ke buku.
Di perpus juga gak boleh mengeluarkan suara, karena akan menganggu yang lain, yang fokus membaca. Jikapun memang ada hal yang di bicarakan, harus pakai suara kecil banget seperti berbisik.
Stefan menulis sesuatu dan memberikannya ke Naila, isinya, "Kamu cantik."
Naila hanya melirik saja dan membaca dalam hati, tanpa niat mau membalas nya.
"Kamu fokus banget bacanya," tulis Stefan lagi.
Naila pun lagi dan lagi hanya meliriknya. Karena merasa terganggu, Naila pun menghentikan baca bukunya dan menaruhnya di tempatnya. Lalu ia keluar perpus dengan di ikuti Stefan di belakangnya.
"Nai?" panggil Stefan.
"Kamu tuh kenapa sih ganggu aku?" tanya Naila kesal.
"Aku hanya ingin dekat denganmu, apa itu salah?" tanya Stefan.
"Iya, karena aku gak mau murid yang lain mikir kita sedang apa apa, jadi usahakan jaga jarak, aku gak mau di jadikan gosip sama mereka. Aku ingin sekolah dengan tenang, jangan sampai para fans Kak Stefan membullyku dan menganggap aku wanita yang berusaha menggoda Kak Stefan," ujar Naila
"Kenapa kamu perduli sama omongan mereka?" tanya Stefan
"Karena bagaimanapun omongan mereka sedikit banyak akan mengangguku, syukur syukur bukan mentalku yang bermasalah. Walaupun aku pura pura gak perduli, tapi tetap saja aku akan mendengar setiap omongan yang masuk ke telingaku. Maaf bukan aku ingin berkata kasar, tapi ini demi kebaikan kita, aku harap Kak Stefan mengerti," ujar Naila menjelaskan lalu ia pun pergi menuju kelasnya. Sedangkan Stefan ia hanya melihat kepergian Naila dengan hati yang sakit, ia tau apa yang akan terjadi jika ia berusaha mendekati Naila.