
Marfel dan Naila diam-diaman, Marfel yang merasa kikuk sedangkan Naila yang bingung mau ngomong apa. Marfel hanya bisa berbaring sambil menatap Naila yang tengah memainkan Hpnya. "Hueft, garing amat," batin Marfel yang tak suka dengan suasana yang hanya saling diam sedari tadi.
"Mas Marfel kenapa?" tanya Naila yang melihat Marfel seperti orang gelisah.
"Gak papa," jawabnya cuek. Membuat Naila menggelengkan kepalanya. Ia menaruh Hpnya gitu aja di atas meja. Lalu dia pindah tempat duduk, yang tadinya di sofa, ia duduk di kursi samping brankar.
"Mas Marfel pasti bosan ya?" tanya Naila sambil menggenggam tangan Marfel. Melihat Naila mulai perhatian lagi membuat Marfel senang tak terkira.
"Ya, bosen di sini. Pengen pulang," keluh Marfel.
"Tapi kan Mas Marfel masih sakit. Maafin aku ya, karena sedari tadi aku main Hp."
"Enggak papa, Hpmu kan jauh lebih penting dari aku," sindir Marfel.
"Kata siapa? Mas Marfel lebih penting kok."
"Nyatanya, aku dari tadi gak dihiraukan. EMang kamu balas pesan sama siapa sih?"
"Emmm sama Kak Alfa, sama Kak Stefan, sama Rani dan sama Bunda juga," cicit Naila.
"Alfa?"
"Emmm dia itu, sahabatnya Kak Fahmi?"
"Oh, kamu dekat sama Alfa?"
"Gak deket sih, biasa aja. Cuma emang Kak Alfa suka chat aku gitu, hanya saja aku jarang balas pesannya. Kalau pas ada waktu aja, baru aku balas."
"Kayaknya dia suka kamu?"
"Aku gak tau," jawab Naila.
"Ck ... ternyta sainganku banyak juga ya," ujar Marfel sinis.
Naila tak berani buka suara, takut jika ia bicara, malah membuat Marfel semakin kesal dan marah.
"Terus kamu ngapain chatan dengan Stefan, dia yang ketua osis itu kah, yang nyanyiin kamu lagu?" tanyanya lagi. Naila hanya menganggukkan kepala.
"Kalau di sekolah aja, sok gak peduli. Nyatanya dia chat masih di balas."
"Bukan gitu, Kak Stefan chat aku terus, aku sampai kesal. Makanya aku balas pesan dia untuk tak lagi menghubungi aku, karena aku merasa terganggu. Jika kamu gak percaya, kamu bisa cek sendiri." Naila memberikan hpnya ke Marfel. Marfel pun dengan senang hati, karena ia ingin melihat siapa aja orang-orang terdekat Naila.
Naila hanya mengelengkan kepalanya, ia memperhatikan Marfel yang sibuk mengotak atik Hpnya.
"Banyak banget pesan dari Stefan."
"Entahlah, sejak dia tau nomerku. Dia chat aku terus."
"Kenapa gak di blok aja?"
"Aku gak enak, biarinlah. Lagian juga gak aku tanggepi kan."
"Iya juga sih. Kamu ada grup juga?"
"Hmmm ini pesan kamu sama Fahmi belum di hapus, padahal orangnya sudah gak ada."
"Aku gak sempat Mas."
"Kalau gitu, biar aku aja yang hapus," ujar Marfel.
"Terserah Mas Marfel aja,"
"Tapi kamu gak marah kan?"
"Kenapa aku harus marah, itu kan cuma chat biasa aja," jawab Naila sekenanya.
"Oke." Tanpa berfikir panjang, Marfel langsung menghapus semua chat Naila dengan Fahmi dan juga memblok nomer Stefan.
"AKu sudah blok nomer Stefan," ujarnya tanpa menunggu persetujuan dari Naila.
"Lo?"
"Gak ada protes, aku gak suka ada cowok lain yang chat kamu terus. Ganggu aja," ucap Marfel seperti orang yang posesif terhadap pasangannya.
"Terserah Mas Marfel aja deh," ujar Naila. Toh sudah terlanjur juga kan.
"Ini cowok yang bernama Alfa kayak gak ada kerjaan deh, tiap hari chat kamu," protes Marfel tak suka.
"Sudahlah, Mas. Lagian kan aku sama Kak Alfa gak ada hubungan apa-apa. Walaupun saling balas chat, yang di obrolin juga gak aneh-aneh, hanya nanya kabar aja."
"Tapi aku gak suka."
"Terus maunya Mas Marfel apa?" tanya Naila yang mulai kesal.
"Ya gak ada." Melihat wajah Naila yang tampak kesal, membuat nyali Marfel menciut. Ia pun langsung diam, tapi tetap memeriksa isi hp itu.
Setelah puas, barulah dia memberikan hp itu ke Naila.
"Maaf ya," ujar Marfel yang merasa tak enak hati.
"Iya," jawab Naila sambil menaruh Hpnya gitu aja di atas meja. Ia tak takut, walaupun Marfel mengecek hp itu, karena memang tak ada rahasia yang di sembunyikan oleh Naila.
"Ntar lagi aku mau pulang."
"Ngapain?"
"Aku butuh baju ganti, sekalian mau ambil baju seragam buat besok. Juga perlengkapan sekolah aku, karena aku ada tugas dan harus di kumpulin besok."
"Oh gitu, kamu pulang naik apa?"
"Taxi online. Apalagi?"
"Hati-hati ya," ujar Marfel dan Naila pun menganggukkan kepala.
Marfel tau, Naila mungkin merasa risih dengan apa yang ia lakukan barusan, tapi mau bagaimana lagi, melihat ada chat dari cowok lain membuat hatinya panas. Mana ada cowok yang akan baik-baik aja, melihat ceweknya sering kali dikirimin pesan sama cowok lain. Walaupun status mereka belum jelas, tapi tetap aja, bagi Marfel. Naila adalah miliknya. Dan tak ada yang boleh mengambil apa yang sudah jadi miliknya.