Novemberain

Novemberain
Kesedihan Rani



Rani pulang dengan hati yang remuk redam, bahkan sepanjang jalan ia terus saja menitikkan air mata. Dan sesampai di rumah, ia langsung masuk ke dalam kamarnya. Untunglah rumahnya sepi sehingga ia bisa dengan leluasa menumpahkan rasa sakitnya.


"Aku emang be gok. Kenapa aku mesti jatuh cinta padanya. Kenapa hatiku harus memilihnya, kenapa jantungku berdebar cepat saat melihatnya apalagi saat ada di dekatnya. Kenapa?" teriak Rani sambil menghancurkan apa saja yang ada dalam kamarnya.


"Ya Tuhan, aku baru aja jatuh cinta. Tapi kenapa jatuh cinta yang kata orang dunia terasa milik kita berdua, nyatanya seperti jarum yang menusuk hatiku. Rasanya sangat sakit.


Tapi aku gak bisa menyalahkan dia, bagaimanapun dia dan aku bahkan tidak saling kenal. Hatikulah yang salah, karena jatuh cinta kepada orang asing.


Dan tak seharusnya aku memiliki perasaan ini. Tapi aku juga gak bisa mengontrol hatiku, kepada siapa aku jatuh cinta, karena perasaan ini datang tanpa bisa aku cegah.


Dia emang tampan, dan juga dingin. Namun dia terlihat sangat cool di mataku. Dan itu yang membuat aku tidak bisa berpaling darinya.


Tapi bagaimana caranya aku bisa dekat dengannya, sedangkan dia seperti tak tersentuh. Dan kenapa hanya pada Naila, dia mau ngomong panjang lebar dan matanya selalu berbinar saat ngobrol dengan Naila.


Gak mungkin kan kalau Kak Alfa suka sama Naila. Atau dia hanya ingin menjaga Naila karena Naila adalah wanita yang sangat spesial untuk sahabatnya. Wanita yang sangat di cintai oleh sahabatnya.


Apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku yakin, perasaanku tak kan pernah terbalas. Bagaimana bisa berbalas, bahkan dia saja enggan untuk menoleh ke arahku.


Jangankan mau menjalani hubungan sama aku, bahkan mau menjadi temanku aja, aku pasti akan bersyukur banget.


Tapi yah, aku tidak boleh berharap. Aku dan dia bagai langit dan bumi yang tidak akan bisa di satukan.


Huefft, kenapa nasib percintaanku seperti ini. Baru aja jatuh cinta, sudah patah hati dulu.


Sedangkan di tempat yang berbeda, Naila yang sudah sampai rumah merasa sangat bersalah kepada sahabatnya itu atas sikap Alfa barusan.


"Pasti Rani sakit hati banget sama sikap Kak Alfa, aku juga gak enak sendiri jadinya. Kak Alfa kenapa sih dingin banget sama Rani, padahal kalau cuma berdua, dia sangat hangat. Tapi kenapa kalau ada Rani, dia ketus banget sih kayak alergi banget deketan sama Rani, emang Rani kuman sampai dia pun enggan untuk bersentuhan dengan Rani.


Ah, pusing aku.


Mending aku makan, mandi, sholat lalu berangkat ke kafe. Dari pada ngurus beginian yang ada malah kepalaku sendiri yang sakit.


Aku harap Rani bisa mengerti dan Kak Alfa bisa menyadari kesalahannya dan minta maaf," ucap Naila lalu ia pun segera membuat makanan untuk makan dirinya sendiri.


Habis makan, barulah ia mandi, dan pakai pakaian rapi, lalu ia mengambil mukenah dan sholat dhuhur.


Habis sholat, ia memoles wajahnya sekitar 5 menit, setelah selesai, ia memakai hijabnya lalu siap siap pergi ke kafe.


Lelah, jangan di tanya. Tapi ia gak mau menjadi orang pemalas dan menelantarkan pekerjaannya. Semuanya harus berjalan sempurna.


Naila pergi dengan naik sepeda motor kesayangannya, sepanjang jalan ia sambil mendengarkan lagu sholawatan dari Hp nya dengan memakai headset.


Sebenarnya tidak boleh naik sepeda motor pakai headset, tapi entah lah, kali ini Naila terpaksa melanggarnya karena ia merasa sepi sendirian. Dan ia ingin menikmati perjalanan menuju kafe sambil mendengarkan lagu sholawatan.