Novemberain

Novemberain
Surga Dunia



Malam harinya, sehabis sholat isya', Marfel dan Naila pergi keluar. Mereka pergi ke supermarket untuk membeli banyak bahan-bahan dapur. Marfel mengambil keranjang paling besar yang bisa di dorong sedangkan Naila hanya berjalan biasa dan mengambil sesuatu yang menurutnya sangat di butuhkan. Ia terus mengambil, tanpa melihat harga. Kadang sesekali Naila nanya kepada Marfel, pilih yang rasa apa, misal seperti royko dan masako, rasa ayam atau sapi. Dan Marfel hanya menjawab dua duanya aja, biar gak pusing dan Naila pun mengangguk setuju. Naila membeli banyak bumbu setelah merasa lengkap, baru ia beli beras yang sepuluh kilo. Lanjut dia beli tepung siapa tau nanti ia ingin buat kue, jadi bahan-bahan buat kue pun juga dia beli. Tak lupa Naila juga beli agar-agar dan nutrijel siapa tau pengen bikin agar-agar yang di kasih es dan santan gula, pasti akan nikmat jika di minum pas lagi panas-panasnya.


Setelah itu, Naila membeli beberapa buah, ada tujuh buah yang dia pilih dan nantinya akan di taruh di kulkas jadi Naila akan membiasakan makan buat sebelum makan nasi. Naila juga membeli berbagai macam sayuran, ikan dan daging. Lanjut Naila membeli pengharum ruangan untuk di taruh di ruang tamu, ruang tengah, kamar tidur, dan kamar mandi. Naila juga membeli sabun, pasta gigi, sikat gigi, sampo dan yang lainnya. Ia juga membeli rinso cair dan pengharum baju. Semuanay ia beli tanpa ada yang terlupakan. Hingga tak terasa dua jam berlalu. Naila sudah merasakan kakinya yang sakit. Akhirnya Marfel pun meminta Naila menyudahinya, dan jika pun kurang, bisa pesan secara online dan Naila mengangguk setuju.


Setelah membayar di kasir, Marfel langsung membawa semua barangnya itu ke bagasi. Bahkan di Bagasi pun sampai penuh dan harus taruh di kursi tengah lagi. Untuk berapa habisnya, lumayan tak sampai lima juta.


Setelah itu, Marfel pun mengajak Naila makan di pinggir jalan karena Naila ingin makan nasi goreng sama teh hangat. Marfel pun tak menolaknya walaupun dia sangat ingin membawa Naila makan di resto, tapi jika Naila suka makan di pinggir jalan, maka ia hanya bisa menurutinya saja.


Selesai makan, mereka langsung pulang. Dan sesampai di rumah, Naila langsuang menata semua belanjaanya itu, tentu Marfel ikut membantu. Dan kini kulkas yang tadinya kosong sudah terisi penuh, lemari di samping kulkas juga sudah terisi penuh begitu pun dengan tempt bumbu, semuanya penuh.


Botol MInyak pun juga terisi penuh bahkan sisanya di taruh di dalam lemari, agar tidak tumpah. Untuk sabun dan yang lainnya, di taruh di lemari kamar mandi karena di tempan sabun sudah ada milik Naila yang Naila bawa dari rumah. Jadi misal nanti sudah habis, baru pakai yang baru di beli tadi.


Jam sepuluh, Naila dan Marfel pun naik ke atas kasur setelah selesai bersih-bersih. Semua pintu dan lampu juga sudah di tutup rapat, begitupun dengan gorden, hanya beberapa ruangan aja yang masih menyala lampunya dan juga lampu kamar, karena mereka masih belum ngantuk.


Marfel berbaring di samping Naila yang juga berbaring di sampingnya. Mereka mengobrol santai, sampai akhirnya, Marfel mengangkat Naila dan mendudukkannya di perut Marfel yang sixpack itu.


"Enggak papa. Aku suka," jawabnya, Naila pun menganggukkan kepala. Ini pertama kalinya ia melakukan hal ini dan rasanya seperti ada debaran bahkan kulitnya pun panas dingin.


Marfel mematikan lampunya dan menghidupkan lampu meja yang tak terlalu terang. Marfel mulai memasukkan kedua tangannay di balik baju Naila dan mulai meremas dua bukit kembar milik Naila itu. Naila merasa geli, namun ia tak mungkin meminta suaminya menghentikannya. Hingga tanpa sadar, Naila men desah membuat Marfel tersenyum. Duduk di atas perut Marfel aja sudah membuat tubuh Naila meremang dan kini Marfel seakan ingin menyiksanya dengan meremas dua bukit kembarnya.


Karena tak tahan, Naila mencondongkan tubuhnya dan ******* bibir Marfel. Tentu Marfel sangat senang, ia membalas ******* itu sedangkan tangannya


terus meremas dua bukit kembar Naila.


"Mas, aku gak kuat," ucap Naila di sela-sela ciumannya. Padahal dia tak pernah melakukannya, namun dari dalam dirinya seakan ada yang membimbingnya. Marfel tau, Naila sudah kepanasan, namun ia tetap membiarkan Naila seperti itu. Entah kenapa ada kesenangan tersendiri.


Setelah melihat Naila semakin tersiksa, Marfel tak tega, ia pun mengubah keadaan hingga kini Nailalah yang berada di bawah dan dirinya di atas. Tanpa sepengetahuan Naila, Marfel sudah melepas CD milik Naila. Untungnya Naila memakai daster yang hanya sampai lutut jadi ia itu memudahkannya.


Dan akhirnya malam itu pun terjadi, di mana keduanya melakukan hubungan suami istri untuk pertama kalinya. Marfel dan Naila sangat menikmati surga dunia yanag mereka rasakan hingga tanpa sadar mereka melakukannya sampai pagi.