Novemberain

Novemberain
Minta Maaf



Naila sudah sampai kelas, di sana ia melihat Rani yang sudah mulai ceria kembali dan bicara dengan Ayu, Rifa, Firoh dan Puput.


"Kayaknya Rani dah gak galau lagi," gumam Naila dalam hati sambil duduk di tempatnya.


"Kog tumben lama datangnya Nai?" tanya Rani karena jam emang sudah menunjukkan pukul 06:68, 2 menit lagi bell masuk berbunyi.


"Ya, tadi masih beres beres rumah," jawab Naila ramah.


"Nai, aku minta maaf ya masalah kemarin, gak seharusnya aku seperti itu," ucap Rani merasa bersalah.


"Gak papa, santai aja. Aku ngerti kog perasaan kamu," balas Naila.


"Kamu emang baik Nai, aku bersyukur punya sahabat seperti kamu," ujar Rani tulus.


"Kamu sudah mengerjakan tugas hari ini?" tanya Rani.


"Sudah," jawab Naila.


"Syukurlah, aku fikir kamu lupa," ujar Rani tersenyum.


Tak lama kemudian, bell pun berbunyi, semua anak anak yang masih di luar berhamburan masuk ke dalam kelas dan duduk di tempat masing-masing.


"Oh ya besok kamu mau kemana? Besok kan libur," tanya Rani yang masih mengajak Naila ngobrol.


"Ya paling beres beres rumah terus ke kafe," jawab Naila.


"Aish, gak bosen apa. Aktivitas mu cuma rumah, kafe sama sekolah. Gak jalan jalan?" tanya Rani.


"Males, mending tidur dari pada jalan jalan atau baca buku, atau ke kafe atau diam di rumah, nyantai, nonton tivi sambil ngemil lebih mantap"


"Ah, kamu mah emang beda deh,"


"Kamu sendiri mau ngapain?"


"Jalan jalan dong. Aku sudah janjian sama Rifa, Puput, Ayu dan Firoh mau ke Mall,"


"Emang ngapain ke Mall?"


"Ini mah namanya buang buang waktu, capek pula,"


"Bukan buang buang waktu, tapi refreshing, hiburan. Setelah selama ini otak kita di buat belajar mulu. Sesekali harus di bawa liburan biar gak spaneng,"


"Ya terserah kamu deh," jawab Naila tersenyum.


Saat mereka asyik ngobrol, Marfel pun datang dengan membawa buku paket di tangannya.


"Assalamualaikum, selamat pagi semua," ujar Pak Marfel dengan suara datarnya.


"Waalaikumsalam pak, dan selamat pagi," jawab semua murid kompak.


"Baiklah, apakah tugas kemarin sudah selesai di kerjakan, saya harap semuanya sudah pada ngerjakan ya karena saya tidak menerima alasan apapun," ucap Marfel dingin.


"Sekarang taruh tugas kalian di atas meja masing masing," ucap Marfel tegas.


Anak anak pun langsung mengambil buku tugasnya di dalam tas dan menaruhnya di atas meja.


Namun hanya ada satu anak yang kebingungan pasalnya ia lupa menaruh buku tugasnya di dalam tas. Ia sudah mengerjakannya tadi sehabis sholat shubuh dan sebelum memasak, namun ia lupa menaruh kembali ke dalam tas.


"Nai, kamu kenapa?" tanya Rani melihat Naila yang terus saja mencari cari sesuatu di dalam tasnya.


"Bukuku ketinggalan," ucap Naila dengan wajahnya yang memerah seperti menahan tangis.


Marfel yang melihatnya seakan mengerti apa yang terjadi pada Naila, bahkan ia gak tega melihat raut wajah wanita yang ia cintai kini dalam kebingungan, namun ia berusaha untuk terlihat biasa biasa aja.


"Kog bisa sih Nai, biasanya kamu gak pernah gini," ujar Rani yang ikutan panik.


"Aku gak tau, biasanya habis mengerjakan langsung aku taruh lagi ke dalam tas. Aku bener bener lupa," ucap Naila pasrah atas hukuman yang akan Pak Marfel berikan padanya.


Marfel pun mulai mengambil buku itu satu persatu hingga sampai di depan meja Naila, Marfel memilih diam," Nanti jam istirahat ke ruangan saya," ucap Marfel. Naila pun hanya mengangguk patuh karena memang ini adalah kesalahannya.


Setelah selesai mengambil semua buku itu, Marfel pun menaruhnya di atas mejanya dan mulai membahas pembahasan lanjutan dari Minggu lalu.


Semua anak anak mulai fokus mendengarnya walaupun ada yang tak terlalu faham dengan apa yang di jelaskan Marfel, walaupun Marfel sudah berusaha menjelaskan dengan detail dan jelas.