Novemberain

Novemberain
Waktu Berjalan Begitu Cepat



Naila menjalani hari-hari di kelas tiga dengan sangat antusias sekali. Apalagi Sang Bunda juga sudah pulang jadi Naila cukup sesekali aja datang aja ke resto.


Naila juga ikut les sepulang sekolah, jadi Naila pulang ke rumah jam empat sore. Setelah itu Naila santai sampai malam. Kadang jika bosen Naila pergi ke resto menyusul sang Bunda.


Tapi kalau males, dia lebih memilih membuat cerita di kamarnya agar semakin banyak tabungannya.


Sesekali Rani juga menginap di rumah Naila untuk belajar bareng. Bunda Ila pun tak mempermasalahkannya, malah ia senang jika putrinya punya banyak teman.


Bunda Ila juga membeli banyak makanan yang taruh di rak, bahkan di kulkas juga banyak makanan dan minuman. Agar teman-teman Naila betah jika datang ke rumahnya.


Tak terasa satu tahun berlalu, Naila sudah lulus dengan rangking satu. Rani rangking dua dan Puput rangking tiga.


Yah, mungkin karena terlalu sibuk, dan fokus belajar hingga membuat satu tahun berlalu begitu cepat. Untuk saat ini, Naila benar-benar sangat menikmati hari-harinya.


Sang Bunda pun merasa bersyukur mempunyai putri yang selalu bisa membanggakan dirinya. Dan karena Naila mendapatkan nilai sempurna, dan umur Naila yang sudah delapan belas tahun. Bunda Ila memberikan hadiah sebuah mobil mewah.


"Sayang, kamu sudah besar. Kamu sudah dewasa, bentar lagi kamu sudah masuk fakultas kedokteran. Untuk itu, Bunda membelikan mobil ini buat kamu."


"Makasih ya, Bunda. Terimakasih karena selalu ada buat Naila. Akhirnya setelah perjuangan kita selama ini, Naila sudah tumbuh dewasa dan kini Naila akan kuliah kedokteran. Doain Naila terus, agar Naila bisa menggapain impiannya Nai dan bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk banyak orang."


"Aamiiin. Bunda pasti akan selalu doain kamu, Sayang," jawab Bunda Ila.


Saat wisuda, Bunda Ila datang dengan baju barunya. Ia bahkan datang satu jam lebih awal dari acaranya. Bunda Ila sangat antusias sekali. Naila bersama teman-temannya berada di belakang pentas untuk bersiap-siap. Sedangkan di lapangan di depan pentas, para wali murid pada datang semua, bahkan ada yang membawa rombongan besar. Pak kepala sekolah dan semua guru juga tak mempermasalahkan jika murid-murid kesangannya itu mengundang keluarga besar, agar makin ramai nantinya.


Lagian Pak Kepala sekolah juga sudah  menyiapkan banyak kursi sehingga tak akan ada yang kekurangan tempat duduk.


Saat acara di mulai, semua para wali murid pada diam seketika, dari pembuaan persembahan dan lain sebagainya. Hingga puncak acara, Pak kelapa sekolah memberikan juara tiga untuk Puput, juara dua untuk Rani dan juara satu untuk Naila.


"Kamu memang cerdas, Nai. Semoga setelah dari sini, kamu bisa mendapatkan kebahagiaan dan menjadi kebanggan kami semua," ucap Pak Atmaja lirih hingga tak ada yang mendengarnya kecuali mereka berdua.


Naila menganggukkan kepala dan tak lupa mengucapkan terima kasih.


Setelah itu, mereka pun foto bersama. Naila memperlihatkan pialanya kepada sang bunda dan Bunda Ila pun memberikan dua jempol untuk Naila.


Bunda Ila juga menitikkan air matnya, melihat Naila yang kini telah sudah dewasa. Ia tak menyangka jika putrinya yang dulu masih kecil, kini sudah lulus SMA dan akan kuliah kedokteran. Dan tak jauh dari sana, ada Marfel yang bersembunyi.  Ia sengaja pulang kemaren karena ingin melihat Naila secara langsung. Rasa kangen yang membuncah tak lagi bisa dibendugn lagi. HIngga ia memutuskan untuk pulang dan menghadiri acara wisuda Naila.


Namun ia tak menampakkan dirinya, karena ia ingin Naila tak kehilangan fokus karena kehadirannya.


Setelah penerimaan ijazah dan piala mereka pada turun. Naila menghampiri Bunda Ila, mencium tangan sang Bunda. Bunda Ila pun membalas pelukan Naila dengan erat.


"Terima kasih sudah membuat Bunda bangga padamu, Nak. Ayah pasti bangga juga padamu," ucap Bunda Ila menitikkan air mata.


"Terima kasih juga, karena Bunda sudah berjuang buat Nai." Naila ikutan menangis sambil memeluk Bunda Ila erat.


Orang-orang yang melihat ke arah mereka berdua pun ikut menitikkan air mata.


"Nai mau ke sana dulu ya, Bun. Nanti Nai mau membawakan sebuah lagu, doain Nai biar Nai PD nyanyi di depan semua orang."


"Pasti, Sayang."


Dan setelah itu, Naila pun pergi ke ruang di belakang pentas. Anak-anak kelas satu dan dua, mulai beromba memberikan sebuah  hiburan untuk para tamu yang datang.


Sedangkan untuk perwakilan kelas Naila. Ada beberapa anak yang menyumbang lagu, nari dan yang lainnya.


Setelah menunggu sejam lebih, sebagai penutup Naila naik ke pentas. Dia membawa gitar, yang ia miliki. Gitar yang dibeli bulan lalu dengan hasil jerih payahnya sendiri.


Naila belajar Gitar dan piano dengan semangat, walaupun awalnya cukup susah, tapi karena rasa antusiasnya cukup tinggi, membuat Naila akhirnya bisa.


Naila duduk di kursi yang sudah di sediakan dan mik yang berada di depannya.


"Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh. Perkenalkan saya, Naila. Hari ini saya ingin mempersembahkan lagu untuk Bunda, yang sudah berjuang untuk Naila.


Dan setelah itu, Naila mulai memetik lagunya dengan pelan, dan beberapa detik kemudian, Naila pun mulai menyanykan lagu Bunda. Naila menghayati setiap lirik lagu yang ia nyanyikan hingga membuat semua orang yang hadir pun ikut menangis. Terutama Bunda Ila yang bahkan sudah terisak mendengar putrinya menangis. Karena Naila menyanyikan lagu itu sepenuh hati.


Naila pun juga ikut menangis, namun tak mengurangi suara indahnya itu. Bahkan malah semakin menyayat hati yang mendengarnya karena di lirik itu, ada kata-kata perjuangan seorang Ibu. Bagaimana seorang Ibu berjuang dan berkorban demi putrinya dan melakukan apa saja demi kebahagiaan buah hatinya.


Setelah Naila menyelesaikan nyanyinya, ia menghapus air matanya.


"Bunda, terima kasih untuk perjuangan Bunda selama ini. Terima kasih karena sudah bekerja siang malam buat Naila. Terima kasih karena berkat perjuangan Bunda, Nai bisa hidup enak, Nai tak lagi merasa kekurangan, Nai tak lagi merasa kelaparan seperti dulu.. Terima kasih berkat Bunda, Nai bisa sekolah dengan nyaman, bisa membeli apapun yang Naila mau. Terima kasih karena perjuangan Bunda, kita tak lagi menjadi hinaan orang lain. Nai tak lagi di bully seperti dulu. Terima kasih Bunda. Terima kasih untuk semuanya. Naila sangat menyayangi Bunda, Naila sangat mencintai Bunda. Semoga Naila bisa membuat Bunda bangga dengan semua prestasi Naila. Karena Naila tak bisa  memberikan apapun selain prestasi yang bisa Naila persembahkan untuk Bunda. I love you Bunda," ucap Naila dengan menitikkan air mata. Ada suara getaran setiap kali ia bersuara.


Para ibu-ibu pun memberikan tepukan tangan yang meriah, para guru juga tak kalah antusianya memberikan tepukan untuk Naila.


"Baiklah sebagai penutup. Naila akan menyanyikan sebuah lagu kerinduan untuk seseorang. Semoga orang itu bisa merasakan apa yang aku rasakan selama ini. Dimanapun kamu berada, aku cuma ingin ngasih tau, bahwa sampai detik ini, kamu masih ada di hati aku."


Dan Naila pun menyanyikan lagu sekali lagi. Lagu yang lagi-lagi menyayat hati, lagu tentang kerinduan seseorang kepada orang yang di cintainya. Naila seakan ingin mengungkapkan perasaannya lewat lagu itu.


Pak Atmaja menatap putranya yang duduk di tempat tersembunyi. Pak Atmaja melihat Marfel yang tengah menitikkan air mata. Sebenarnya ingin rasanya, Pak Atmaja menyatukan mereka. Namun Marfel menolaknya dengan alasan, ia ingin membiarkan Naila untuk meraih cita-citanya lebih dulu, dan ia akan datang di saat yang tepat.


Pak Atmaja gak bisa berbuat apa-apa  jika Marfel sudah berkata seperti itu. Pak Atmaja hanya bisa berharap, jika kelak mereka akan bersatu dalam ikatan yang halal dan hidup bahagia.


Setelah Naila menyelesaikan lagunya, ia mulai membuka suara lagi. "Saat ini aku masih sangat mencintaimu. Tapi aku gak tau bagaimana perasaanku ke depannya. Jika kamu tak segera muncul, maka jangan salahkan aku, jika kelak ada laki-laki lain yang datang memberikan aku bahagiaan hingga menggeser posisi kamu di hati aku. Sekian dan terima kasih."


Dan setelah itu, Naila pun turun sambil membawa gitarnya. Naila tau, jika banyak yang merekam dirinya saat menyanyi. Untuk itulah, ia membuat pernyataan itu, agar vidio dirinya sampai di tangan Marfel dan melihat apa yang ia katakan barusan.


Padahal tanpa Naila ketahui, Marfel sudah berada di sana sedari tadi dan terus menatap Naila.


Para tamu yang hadir merasa terpesona dengan apa yang dibawakan oleh Naila hingga mereka seperti di hiptotis gitu aja. Dan setelah Naila turun, barulah mereka sadar dan memberikan tepukan yang sangat meriah.


Mendengar kata Naila, Marfel sedikit gusar, ia masih juga masih sangat mencintai Naila. Hanya saja ia gak bisa menampakkan dirinya di depan Naila. Ia akan datang di saat waktu yang tepat, ia akan datang untuk melamarnya dan menjadikan Naila sebagai istri satu-satunya, ratu hatinya.