
Setelah dari rumah kedua orang tua Marfel, Naila pun langsung pergi ke resto di temani oleh Marfel. Bahkan tak sungkan-sungkan, Marfel ikut terjun menemani Naila dalam mengelola restorannya bhakan berkat Marfel pekerjaan Naila pun cepet selesai sehingga ia tak perlu pulang terlalu larut malam.
“Nai, apa kamu gak capek pulang sekolah langsung kerja begitu?” tanya Marfel saat mereka dalam perjalanan menuju pulang ke rumah Naila.
“Capek, tentu. Tapi ya mau bagaimana lagi, jika bukan aku yang bantu bunda, lalu siapa? Lagian aku yakin rasa lelah aku tidak sebanding dengan rasa lelah bunda selama ini. Aku juga bersyukur bisa berada di posisi sekarang, hidup dalam kecukupan tak lagi seperti dulu, hidup jauh dari kata cukup bahkan bisa di bilang aku dan bunda sangat kekurangan. Jadi aku berusaha bersyukur dan menikmati apa yang aku jalani saat ini, jika aku lelah, aku akan istirahat sejenak untuk melepas rasa lelahku,” jawab Naila panjang lebar.
“Aku salut sama kamu, Nai. Di saat yang lain di usia kamu sibuk menghabiskan uang, kamu berbeda. Kamu malah sibuk menghabiskan waktu kamu untuk sekolah dan bekerja.”
“Sebenarnya jika boleh jujur, aku pun juga ingin seperti mereka, sepulang sekolah nongkrong di kafe, pergi ke Mall beli apapun yang aku suka, jalan ke sana kemari bareng teman menikmati masa muda, tapi ya rasa keinginanku aku harus buang jauh-jauh, aku tak mau menjadi manusia yang egois, yang hanya mementingkan kesenanganku dan membiarkan bunda bekerja seorang diri tanpa ada yang bantu,”
Mereka terus saja mengobrol, untuk pertama kalinya, Naila berkeluh kesah terhadap orang lain, Marfel pun tak mempermasalahkannya, bahkan ia merasa senang karena Naila mau berbagi beban kehidupannya karena itu artinya Marfel mempunyai tempat spesial di hatinya sehingga Naila mempercayakan dirinya sebagai tempat curhatnya.
Setelah menempuh perjalanan setengah jam akhirnya mereka pun sudah sampai di depan rumah Naila.
“Maaf ya, aku gak bisa nyuruh kamu mampir, karena ini sudah malam, aku gak enak sama tetangga, terlebih di rumah gak ada bunda,” ucap Naila meminta maaf.
“Gak papa, Nai. Aku ngerti, kamu kalau ada apa-apa, jangan sungkan-sungkan menghubungi aku,” ujar Marfel.
“Iya, pasti. Iya sudah sana pulang gih, jangan ngebut-ngebut di jalan,”
“Siap, bos. Aku pulang ya,” pamit Marfel.
“Iya.”
Setelah itu, Marfel pun segera pergi meninggalkan Naila sendiri di depan rumah. Setelah kepergian Marfel, barulah Naila memasukin rumahnya, tak lupa ia menghidupkan lampunya agar semua ruangan terang menderang dan gak gelap gulita.
Naila segera bersih-bersih rumah, selesai bersih-bersih, ia segera mandi lalu sholat isya’, habis sholat barulah ia mengerjakan tugas sekolah.
Saat ia fokus mengerjakan pr, tiba-tiba ada pesan masuk di hp nya.
[Sudah tidur, belum] pesan dari Marfel
[Belum] balas Naila.
[Lagi apa emangnya]
[Oh semangat ya, apa perlu aku bantu dari sini]
[Enggak usah, lagian juga tugasnya gak terlalu rumit , aku masih bisa mengerjakan sendiri]
[Sip, tapi jika ada yang gak tahu, kamu bisa tanya ke aku, nanti aku bantu jelaskan]
[Iya, terima kasih]
[Jangan malem-malem tidurnya]
[Iya mungkin lima belas menit lagi aku sudah selesai ngerjakan tugas, setelah itu aku langsung mau tidur]
[Oke, besok pagi aku ke rumahmu lagi ya]
[Ngapain?]
[Numpang makan wkwkwk]
[Ada-ada saja, terserah Mas saja deh]
[Sip, mau di bawakan apa]
[Enggak usah, aku gak mau apa-apa]
[Oke, iya sudah aku udahin ya, biar kamu bisa cepet selesaikan tugas kamu]
[Iya]
Setelah itu, Naila pun menaruh Hp nya kembali dan fokus mengerjakan tugas, sedangkan di tempat yang berbeda. Marfel merasa sangat bahagia sekali karena seharian ini bisa dekat dengan Naila. Ia berharap, dirinya bisa membuat Naila jatuh cinta padanya seperti dirinya yang jatuh hati terhadap Naila.
Apalagi mama dan papanya sangat mendukung dirinya mendapatkan Naila, tentu itu menjadi nilai plus buat Marfel untuk mengerjar cinta Naila.