
Jam satu siang, Naila pulang di jemput oleh Bunda Ila. Sepanjang jalan, Naila hanya diam saja dan sesekali ia membalas pesan dari Marfel. Bunda Ila pun juga milih diam, karena juga bingung mau bicara apa. Tadi dia dari resto dan langsung menjemput Naila setelah Naila mengirim pesan. Andai tadi Naila gak mengirim pesan, mungkin Bunda Ila lupa untuk menjemput putrinya itu karena ia yang asyik bikin masakan bersama para chef yang bekerja di restorannya.
Saat Naila tengah mengirim pesan pesan kepada Marfel, tiba-tiba Alfa menghubungi nomernya. Tanpa berfikir dua kali, Naila langsung mengangkatnya.
"Halo, Kak," sapa Naila lebih dulu.
"Halo, apa benar ini dengan Mbak Naila?" tanya dari sebrang telephon.
"Iya, benar. Maaf ini siapa ya? Dan mana Kak Alfa?" tanya Naila.
"Alfa ada di rumah sakit, Mbak. Apa Mbak bisa ke sini,"
"Bisa. Rumah sakit mana?"
"Rumah sakit Dokter Raisa, Mbak."
"Baik saya ke sana. Kak Alfa di rawat di kamar nomer berapa?"
"Nomer 112, Mbak. Di lantai tiga, ruang Mawar."
"Baik, saya ke sana sekarang."
Baik, Mbak. Saya tunggu di sini," ujarnya. Setelah itu menutup telphonnya. Naila menoleh ke arah sang Bunda yang fokus menyetir.
"Bunda, apa bisa kita ke Rumah Sakit Dokter Raisa, aku mau ketemu teman aku di sana," ujar Naila pelan.
"Tapi, Nai. Nanti malam pacarmu itu kan mau ke rumah kamu sama orang tuanya. Seharusnya kita pulang untuk bersiap-siap kan," balas Bunda Naila.
"Aku mohon, Bun. Antarkan aku ke sana ya, sebentar saja. Aku janji," pinta Naila memohon. Bunda Ila pun hanya bisa menghela nafas. Ia pun putar balik menuju rumah sakit itu.
"Sebenarnya siapa sih Alfa itu, Nai?" tanya Bunda Ila.
"Sahabatnya Kak Fahmi."
"Fahmi itu siapa? Banyak bener Nai cowok yang dekat sama kamu?"
"Entahlah, Bun. Aku juga pusing sendiri. Kenapa banyak yang suka sama aku ya, Bun. Aku sampai bingung."
"Mungkin karena kamu cantik dan baik, Nai. Makanya mereka suka sama kamu," ujar Bunda Ila.
"Aku tuh bingung, Bun."
"Bingung kenapa?"
"Lah emang kenapa dengan mereka?" tanya Bunda Ila yang akhirnya ikutan bingung.
"Aku punya teman, namanya Rifa. Nah Rifa itu suka dan cinta banget sama Kak Stefan."
"Terus?"
"Masalahnya Kak Stefan itu cinta sama aku, Bun. Aku sampai gak enak sendiri sama Rifa, apalagi kadang Kak Stefan datang menghampiri aku, ngasih aku sesuatu. Sumpah sih, aku itu merasa gak nyaman apalagi kalau ketahuan Mas Marfel. Mas Marfel pasti marah karena cemburu. Terus Rani .... "
"Rani yang tadi malam itu?"
"Iya."
"Emang kenapa dengan Rani?"
"Nah Rani ini suka banget sama Kak Alfa. Tapi Kak Alfa suka sama aku. Akunya gak enak sama Rani, aku sampai sempat bermasalah sama Rani gara-gara Kak Alfa, walaupun akhirnya Rani menyadari kesalahannya dan minta maaf sama aku."
"Waduh kok bisa gitu, Nai?" tanya Bunda Ila terkejut.
"Nah itu, aku juga bingung. Dulu itu aku deket sama Kak Fahmi. Aku kenal kak Alfa ya dari Kak Fahmi karena mereka itu sahabatan satu kos. Aku waktu itu kenal Kak Alfa gara-gara Kak Fahmi sakit. Sebenarnya cinta pertama aku itu bukan Mas Marfel tapi Kak Fahmi, sayangnya Kak Fahmi harus meninggal gara-gara kanker otak. Padaha Kak Fahmi itu orangnya baik Bun, lembut. Tampan, pokoknya the best deh. Sayangnya umurnya pendek. Padahal aku tuh suka banget sama Kak Fahmi."
"Terus Rani kok bisa kenal sama Alfa itu?'
"Waktu itu aku ke makam Kak Fahmi ngajak Rani, dan di makam itu ternyata ada Kak Alfa. Dan dari sanalah Rani suka sama Kak Alfa, tapi Kak Alfa cuek banget sama Rani, malah terkesan risih gitu sama Rani. Dan ternyata beberapa hari lalu, aku baru tau kalau ternyata Kak Alfa itu suka sama aku."
"Terus?" Bunda Ila masih penasaran dengan kisah putrinya itu, emang jaman SMA itu masa-masa menyenangkan, entah itu masalah sahabat atau masalah percintaan. Dan Bunda Ila gak aka menghakimi putrinya karena itu, selama tidak kelewat batas.
"Beberapa hari yang lalu, saat aku bekerja. Tiba-tiba Kak Alfa nelfon aku, dia seperti mabuk berat. Sebelumnya Kak Alfa gak seperti itu. Aku yakin Kak Alfa sampai mabuk gitu, pasti karena aku."
"Kenapa bisa karena kamu, Nai?"
"Karena waktu itu, Kak Alfa makan di resto. Nah terus aku bawa Mas Marfel ke resto. Terus aku bilang ke Kak Alfa kalau Mas Marfel itu calon suami aku. Kak Alfa terlihat sedih banget, kek frustasi gitu. Lalu malamnya, Kak Alfa nelfon aku dan mengungkapkan perasaanya ke aku. Suaranya benar-benar memilukan, Bun. Aku sampai gak tega dengernya. Dan setelah itu, nomernya gak aktiv. Makanya beberapa hari ini, aku benar-benar frustasi sekali, takut jika Kak Alfa kenapa-napa. Kan gak lucu, kalau misal anak orang bunuh diri karena aku, secara tidak langsugn aku jadi penyebab orang melakukan bunuh diri, iya kan?" ujar Naila dan Bunda Ila mengangguk setuju.
"Kenapa serumit itu ya, Nai?'
"Nah itu, aku juga bingung, Bun. Tapi aku bersyukur sih karena sekarang aku tau keberadaan Kak Alfa, walaupun aku masih bingung kenapa Kak Alfa ada di rumah sakit," ujar Naila.
"Iya sudah, kita harus segera ke sana dan kamu akan tau, Nai. Apa yang terjadi dengan Alfa."
"Iya, Bun."
Tak lama kemudian mereka pun sampai di depan Rumah Sakit Dokter Raisa. Bunda Ila memarkirkan mobilnya lebih dulu, baru setelah itu, ia dan Naila masuk ke dalam rumah saki dan pergi ke lantai tiga, ruang mawar nomer 112