
Di sekolah, Naila semangat seperti biasa. Ia akan mengikuti pelajaran dengan semangat, menanyakan apa saja yang belum ia ketahui, mengumpulkan tugas dan mendapatkan nilai A+, ada ujian dadakan dan untungnya, soal ujian yang keluar, sudah pernah dipelajari semua oleh Naila hingga ia bisa mengumpulkan tugas ujian lebih cepat dan bisa istirahat lebih cepat. Dan waktu yang senggang itu, ia manfaatkan untuk menulis novel di perpustakaan. Tempat yang cukup sepi membuat dirinya bebas menulis karena tak ada gangguan.
Bahkan saat jam istirahat berbunyi, Naila memilih tetap diam di sana, karena keasyikan nulis sampai lupa waktu. Sedangkan teman-temannya di luar sana pada nyari keberadaan Naila di kantin, kamar mandi, namun tak menemukan keberadaan Naila. Sedangkan Marfel sesekali mengirim pesan ke Naila. Namun setelah Naila mengatakan dirinya lagi nulis cerita dan gak mau di ganggu, Marfell pun akhirnya tak mengirim pesan lagi.
Setelah sejam lebih, Naila pun segera menyudahi ngeti ceritanya, ia segera memasukkan hpnya ke kantong saku dan setelah itu ia pergi dari sana. Untungnya bell yang cukup keras membuat Naila sadar, bahwa setelah bell ada pelajaran berikutnya yang harus ia ikuti. Saat sampai di kelas, teman-temannya pada melototi Naila karena Naila baru datang sedangkan mereka lelah cari keberadaan Naila sedari tadi.
"Kalian kenapa? tanya Naila santai sambil duduk di samping Rani.
"Kamu tanya, kami kenapa? Aku dan yang lainnya kayak gini itu gara-gara kamu. Kamu kemana aja sih, aku cari-cari kamu gak ada, bukan cuma aku, teman-teman yang lain juga nyari kamu gak ketemu. Di kantin gak ada, di kamar mandi gak ada, di taman ga ada, di mana-mana gak ada, chat gak di bales, di telfon gak di angkat, kamu dimana?" cecar Rani kesal, ia bahkan sudah geram karena Naila dengan santainya tersenyum.
"Aku ada di perpus," jawab Naila senyam-senyum.
"Aku tadi ke sana kok gak ada?" tanya Ayu, dia emang pergi ke perpus untuk cari Naila, hanya saja gak sampai masuk, cuma celingak-celinguk aja dari depan pintu.
"Benarkah, padahal aku dari tadi sana main hp di pojokan," sahut Naila.
"Astagfirullah, ngapain di pojokan main hp sendiri?" tanya Puput istigfar. Punya teman kok gini-gini amat, begitulah kira-kira isi kepala Puput dan yang lainnya.
"Aku lagi buat cerita," akunya jujur.
"Hemm terus kenapa aku chat gak di balas, aku nelfon gak di angkat?" tanya Rani.
"Hehe soalnya lagi fokus ngetik, gak mau di ganggu," jawab Naila cengengesan namun mampu membuat teman-temannya pada geram. Ingin rasanya mereka marah, namun melihat raut wajah polos Naila, mereka pun tak tega. Apalagi guru datang membuat merekaa semua diam, karena pelajaran akan segera di mulai.
Sepanjang pelajaran, Naila mendengarkan gurunya dengan serius. Dan mencatat poin-point pentingnya. Saat ia tengah serius, tiba-tiba hpnya bergetar, dengan pelan-pelan, ia mengambil hpnya di saku dan membuka pesan itu.
"Kangen," itulah pesan yang dibaca oleh Naila. Ia tak membalasnya dan memilih untuk menaruh hpnya kembali dan fokus sama gurunya yang tengah menjelaskan di depan murid-muridnya.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Jam istirahat kedua pun di mulai. Ada yang memanfaatkan untuk sholat dhuhur berjamaan di musholla, ada yang ke kantin, ada yang tetap di kelas, ada yang di perpus, ada yang duduk di depan kelas dan lain sebagainya. Naila yang lagi halanagan memilih untuk tetap diam di kelas, sedangkan teman-temannya pergi ke Mushollaa untuk sholat.
Saat buka Hp, Naila keingat dengan pesan yang dikirim oleh Marfel tadi. Ia pun segera membalasnya.
Naila, 'Maaf baru bales, tadi masih pelajaran.'
Marfel, 'Enggak papa, sekarang lagi ngapain?'
Naila, 'Diam di kelas, karena teman-teman yang lain pada pergi ke musholla untuk sholat dhuhur'
Marfel, 'O. Aku kangen kamu'
Naila, 'Ya'
Marfel, 'Cuek banget'
Naila, 'Terus aku harus gimana'
Marfel, 'Kamu gak kangen aku?'
Naila, 'Biasa aja tuh'
Naila, 'Mungkin'
Marfel, 'Baiklah, maaf ganggu'
Dan setelah itu nomer Marfel gak aktiv saat Naila mengirim pesan lagi, bahkan cuma centang satu. Saat ditelfon pun tak terhubung.
"Astaga, padahal aku cuma ingin bercanda. Tapi kenapa malah dianggap serius?" gumam Naila dalam hati.
"Sudahlah, nanti juga baikan sendiri," ujar Naila santai sambil membuka aplikasi penghasil cuan. Ia melanjutkan nulis cerita yang tadi sempat terhenti karena mendengar suara bell sekolah.
Saat Naila tengah fokus mengetik, tiba-tiba ia mendengar suara Stefan.
"Kamu di sini ternyata?" tanyanya sambil duduk di kursi yang ada di hadapannya, jadi hanya terhalang meja. Stefan melihat ke arah Naila yang sangat cantik seperti biasanya.
"Kamu tadi malam sampai jam berapa? Maaf ya, jika aku mengikuti kamu tadi malam, soalnya aku takut membiarkan kamu pulang sendirian, terlebih itu sudah malam dan kamu seorang perempuan. Aku takut kamu kenapa-napa, makanya aku mengikuti kamu tanpa izin, maaf jika itu bikin kamu gak nyaman, aku gak ada maksud apa-apa, sebagai teman, aku hanya ingin melindungi kamu dari hal-hal yang tak terdua," ujar Stefan menjelaskan. Ia tau, jika tadi malam, Naila telah mempermainkannya. Ia juga tak menyangka, jika Naila akan mengetauhi dirinya yang mengikutinya secara diam-diam dari belakang.
"Aku gak suka kalau Kak Stefan kayak gitu, aku merasa risih karena diikutin secara diam-diam, aku senang karena Kak Stefan menghawatirkan aku tapi alangkah baiknya jika Kak Stefan bilang atau izin dulu untuk menemaniku dan mengawal aku sampai depan rumah, bukan malah diam-diam mengikuti. Bagaimana jika aku mengira Kak Stefan orang jahat dan aku teriak maling, lalu Kak Stefan digebuki warga. Untungnya aku kenal sama sepeda motor Kak Stefan dan helmnya. Makanya aku berusaha biasa aja dan menghindar dari Kakak dengan lewat jalan tikus itu," ujar Naila menjelaskan. Dan yang di maksud jalan tikus adalah gang-gang kecil yang dia lewati tadi malam.
"Maafin aku ya, aku janji gak akan mengulanginya lagi. Aku benar-benar minta maaf," ucap Stefan tak enak hati.
"Iya sudah gak papa, asal janji jangan diulangi lagi."
"Iya."
Saat mereka tengah berbincang, Rifa yang sudah selesai sholat, kembali lebih dulu dan betapa kagetnya dia melihat Naila hanya berdua dengan stefan di kelas.
"Loh, ada Kak stefan toh?" tanyanya, mencoba untuk tak terlihat emosi. Walaupun saat ini, ia merasa dikhianati oleh Naila karena Naila seperti ingin merebut Stefan darinya. Apalagi tatapan Stefan yang seperti sangat memuja Naila. Membuat Rifa merasa kesal dan juga emosi. Namun ia tak akan memperlihatkan gitu aja, ia berusaha mengontrol emosinya dan tetap tersenyum walaupun hatinya kini seperti terbakar.
"Iya. Ini Kak Stefan minta maaf ke aku," jawab Naila karena melihat api cemburu yang sangat besar di mata Rifa.
"MInta maaf, kenapa?" tanya Rifa penasaran, dia duduk di samping Naila.
"Tadi malam Kak Stefan membuntuti aku," sahut Naila tanpa ada yang di sembunyikan.
"Apa? Kenapa?" tanya Rifa sambil menatap ke arah Stefan.
"Aku tadi malam pulang dan melihat Naila naik mobil sendirian. Aku khawatir, bagaimanapun Naila teman aku, orang yang aku kenal di sekolah ini. Aku takut dia kenapa-napa, apalagi jalanan cukup sepi, terus Naila itu perempuan, di tambah itu sudah malam. Aku takut ada penjahat atau anak-anak iseng yang suka ganggu orang tengah malam. Makanya aku ngikutin dia, tapi sayangnya ketahuan. Makanya aku minta maaf, karena takut Naila salah faham, aku gak ada maksud apa-apa kok," jawab Satefan menjelaskan. Sebenarnya, Stefan males jelasin ke Rifa, lagian ia gak ada rasa sama Rifa, tapi Rifa seperti ingin terus mencari perhatiannya dan itu membuat dirinya kesal.
"Ya sudah aku ke kelas dulu ya," pamit Stefan sambil bangkit dari tempat duduknya dan pergi dari sana. Karena malas melihat Rifa yang sedari tadi menatapnya, ia merasa risih dan tak suka digitutin. Bagaimanapun seharusnya cowoklah yang mengejar bukan sebaliknya. Karena bukannya Stefan suka, malah yang ada makin infil.
"Kamu tadi malam sampai dengan selamat tapi kan, Nai?" tanya Rifa khawatir. Tak ada lagi api kecemburaan setelah Stefan menjelaskan panjang lebar.
"Kalau aku kenapa-napa, gak mungkin aku ada di sini sekarang," sahut Naila cemberut.
"Iya juga ya," ujar Rifa terkekeh.
Tak lama kemudian, teman-teman sekelasnya pun mulai berdatangan dan duduk di kursi masing-masing, tapi ada juga yang duduk di lantai dan membentuk lingkaran. Lagian istirahat masih lama, jadi ada waktu untuk bergosip ini dan itu. Walaupun Naila tak suka sebenarnya, tapi tetap aja, ia harus ikut walaupun hanya jadi pendengar setia dan sesekali menjawab jika ada yang bertanya pendapatnya.