
Naila pergi ke resto dan bertemu dengan Mbak Indah yang kini tengah berbicara dengan beberapa orang. Mbak Indah sudah memberitahu Naila dengan garis besarnya. Untuk itulah, Naila langsung bisa berhadapan dengan mereka secara langsung dan melakukan nego yang sama-sama menguntungkan dan tidak ada yang dirugikan sama sekali. Tapi karena orang-orang itu mematok harga tinggi, membuat Naila merasa geram, padahal mereka sudah bekerja sama cukup lama, tapi entah kenapa mereka melakukan demo dan ingin harga yang lebih tinggi, bahkan tiga kali lipatnya. Mustahil Naila akan menerima permintaan mereka. Karena itu bisa merugikan resto milik bundannya.
Naila menolak mereka, bahkan ia tak segan-segan memutuskan untuk berhenti kerja sama dengan mereka. Mendengar hal itu membuat Indah bengong, tak menyangka bahwa Naila akan mengambil keputusan seperti itu. Namun Naila tetap tenang, ia sudah memikirkan hal lainnya.
Para petani itu pun juga tak kalah kagetnya, Naila memilih untuk berhenti kerjasama ketimbang menerima permintaa mereka dan itu gak sesuai yang mereka mau. padahal mereka menggertak Naila agar Naila bisa menaikkan keuntungan mereka, bukan malah seperti ini. Bukannya Naila yang kelimpungan, tapi malah mereka. Karena selama ini hanya dari resto lah yang mau menghargai harga jerih payah mereka. Bahkan ketika harga sayuran turun drastis pun, Naila dan Bundannya tetap membeli dengan harga normal. Dan tak menurunkan sedikitpun.
Memang Naila itu menjual makanan yang bahan-bahannya sangat fress, sayuran yang langsung ia beli dari petani sehingga masih segar bugar, dan juga ikan dan daging langsung dari peternaknya, bukan dari tangan kedua apalagi ketiga. Karena Naila membeli dengan jangka panjang, dan itu harus di kirim setiap hari, karena jika beberapa hari sekali, tentu tak akan segar lagi dan itu akan mengurangi citra rasa masakan mereka. Dan Naila gak mau itu terjadi. Naila dan Bunda Ila selalu memberikan yang terbaik buat para pelangganya dan menjaga kualitas makanan mereka, agar bisa terus menjadi pelanggan setia.
"Kalau bapak tetap menginginkan harga segitu, maaf saya lebih memilih untuk menghentikan kerja sama kita selama ini," tegas Naila. Ia mau menammbahkan harga sayuran mereka, tapi tidak tiga kali lipatnya, karena itu bisa membuat resto bangkrut dalam sekejab.
"Mbak Naila yakin, mau menghentikan kerja sama kita selama ini?" tanyanya ragu.
"Ya, sangat yakin. Lebih baik saya nutup resto ini sehari dua hari, untuk mencari pengganti yang akan menyetok sayuran ke depannya. Dari pada saya memilih untuk meneruskan kerjasama ini, yang akhirnya malah bikin usaha Bunda saya bangkrut," tegas Naila lagi, tak ada kergauan sedikitpun di sana. Naila memilih untuk santai namun serius.
"Baik, jika itu kemauan Mbak Naila."
"Iya, dan terima kasih karena selama ini Bapak sudah menjual hasil panen Bapak ke resto ini. Semoga ke depannya, Bapak bisa mendapatkan pembeli yang jauh lebih baik dari saya," ucap Naila terssenyum ramah, tak ada kemarahan sama sekali, wajahnya masih memancarkan senyuman seakan-akan tak terjadi apa-apa.
"Baik. Kalau gitu saya permisi dulu," ujar Bapak itu dan pergi dari sana dengan yang lain. Sedangkan Naila hanya bisa menghela nafas kasar.
"Nai ini gimana?" tanya Indah panik.
"Bilang aja sama yang lain, kalian di liburkan selama beberapa hari ke depan," jawab Naila santai, ia bahkan masih tersenyum.
"Tapi gimana kalau Bunda kamu tau."
"Itu biar jadi urusan aku, Mbak. Kamu bilang aja ya sama yang lain dulu, biar aku yang fokus mencari petani lainnya, aku usahakan untuk secepatnya menemukan petani yang mau kerjasama sama kita."
"Iya, anggap aja liburan. Jarang sekali kan kalian liburan kalau gak hari Minggu. Itupun kadang Minggu masih masuk kalau lagi rame-ramenya," ucap Naila ketawa.
"Ish ... kamu Nai. Ini masalah serius, loh," ujar Indah yang cemberut. Ia emang kadang manggil Naila cukup nama aja, kdang pakai embel2 Mbak. Entahlah, pada gak ada yang beres, tapi Indah tetap menghargai Naila sebagai anak pemilik resto, terlebih Naila itu baik banget kepada semua karyawannya.
"Iya, aku tau, ini serius. Tapi jangan terlalu di fikirin. Nanti bisa stres dan banyak keriputnya loh, karena semuanya di fikirin," canda Naila agar membuat suasana kembali kondusif dan tak lagi mikirin masalah yang tadi.
"Anak-anak gimana, sudah tau masalah ini?" tanya Naila.
"Belum, baru aku. Karena mereka langsung bertemu aku dan ngomong langsung sama aku."
"Oh syukurlah. Ya sudah, bilang aja nanti sama mereka semua agar libur untuk beberapa hari ke depan. Nanti kapan masukknya lagi, biar nanti aku kasih tau di grup wa," ujar Naila karena memang dia masuk di beberapa grup resto, bahkan sebagai admin juga.
"Iya, Nai."
"Aku pulang dulu ya, nanti pekerjaannya Mbak kirim lewat email aja. Aku kerjakan dari rumah aja, dan misal ada masalah lagi, chat aku aja ya Mbak. Biar nanti aku yang cari solusinya."
"Iya, Nai. Kamu hati-hati ya pulangnya."
"Iya, Mbak. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Dan setelah itu, Nai pun pulang karena kepalanya pusing karena mikirin masalah ini. Belum lagi bentar lagi, ia ujian dan harus banyak belajar agar bisa mendapatkan nilai yang terbaik.
Nai juga harus membicarakan ini dengan sang Bunda dan mencari solusi yang tepat, pasalnya kemana ia akan mencari petani yang mau di ajak kerjasama denganya; Huefft mikir itu cuma bisa bikin kepala Nai jadi semakin pusing. Mana Bunda Ila sudah berangkat ke Bali, andai masih di sini, mungkin Nai gak akan kefikiran sampai segininya.