Novemberain

Novemberain
Marfel dan Naila



Naila dan Marfel pun kini ada di ruangan Naila. Marfel melihat ke seluruh ruangan, kecil namun semuanya tertata rapi sehingga tampak lebih luas, tak terlalu banyak barang seperti di ruangannya.


"Duduk mas," ucap Naila saat melihat Marfel hanya menatap ke seluruh ruangan.


"Iya," jawab Marfel.


"Kamu sibuk?" tanya Marfel melihat banyak tumpukan kertas di atas mejanya.


"Iya gitu deh," jawab Naila sambil mengangkat bahu, tak lupa senyuman manisnya.


"Mau aku bantuin?" tanya Marfel.


"Emang mau?" tanya balek Naila.


"Kenapa aku gak mau, lagian mumpung aku lagi nganggur nih," jawab  Marfel tersenyum.


"Nanti aja, setelah kamu selesai makan," ucap Naila.


"Iya," balas Marfel.


Gak lama kemudian, pelayan kafe pun datang dengan membawakan makanan dan minuman untuk Marfel. Setelah itu,  pelayan itu pun pergi karena harus melayani pelanggan yang lain.


"Kamu gak makan?" tanya Marfel.


"Nanti aja, aku masih belum lapar," terang Naila.


"Mau makan sepiring berdua sama aku?" goda Marfel.


"Gak, mas makan aja, katanya mau bantuin aku habis makan?" tanya Naila.


"Hehe iya deh,"


Lalu Marfel pun fokus makan sambil sesekali melihat Naila yang sibuk dengan komputernya, "Kenapa dia malah terlihat sangat cantik yak kalau sibuk gitu, kayak orang jenius banget," gumam Marfel dalam hati. Sedangkan Naila yang gak sadar di perhatikan, tetep fokus dengan pekerjaannya.


"Ya Tuhan, kenapa jantungku berdebar kayak gini ya?" tanya Marfel dalam hati.


Marfel terus saja makan dan selesai makan, ia menaruh piring dan gelas gitu aja, makhlum kebiasaan cowok, habis makan langsung di taruh gitu aja.


"Sini aku bantuin, kita bagi tugas aja, biar cepet selesai," ujar Marfel sambil mendekati Naila.


"Mas sudah selesai makan?" tanya Naila.


"Sudah," jawab Marfel. Lalu Naila mengambil telephon dan menghubungi karyawannya, tak lama kemudian karyawannya datang dan membawa piring serta gelas kotor itu ke belakang. Karena Naila gak suka kotor kotor terlebih ini ruangan bundannya.


Setelah piring dan gelas itu sudah di bawa ke belakang, barulah Naila membagi pekerjaannya sama Marfel.


Marfel mengambil kursi dan duduk di dekat Naila agar lebih enak saat bekerja. Naila pun tak mempermasalahkannya.


Lalu mereka fokus bekerja, dan baru selesai jam 8 malam.


"Akhirnya selesai juga ya mas," ujar Naila senang.


"Iya, aku gak bisa ngebayangin kalau kamu ngerjakan ini sendiri," ucap Marfel.


"Kalau ini belum selesai, ya mungkin aku lembur mas, atau aku bawa berkas ini pulang ke rumah dan aku kerjakan di rumah," tutur Naila.


"Kamu gak capek habis sekolah langsung kerja gini?" tanya Marfel.


"Emang ayah dan bunda kamu di mana?"


"Ayah kan lama dah meninggal, kalau bunda ada di Bali, buka cabang baru, jadi aku di sini ngurus dua kafe sekaligus," jawab Naila.


"Oh ya aku lupa, kamu dan mama kamu emang wanita yang hebat ya,"


"Entahlah, semua itu hanya orang lain yang bisa menilainya. Oh ya mas pulang sekarang, pasti mas capek kan setelah seharian kerja, terus masih bantuin aku di sini," ujar Naila gak enak hati.


"Capek sih biasa aja, mungkin karena aku sudah terbiasa kadang lembur sampai tengah malam bahkan sampai pagi juga pernah. Jadi ya tubuhku sudah gak kaget lagi, aku akan pulang kalau kamu sudah pulang, kita pulang bareng,"


"'Tapi kan rumah kita lawan arah mas,"


"Iya, tapi aku gak tenang kalau membiarkan kamu pulang sendiri,"


"Aku sudah terbiasa, jadi gak perlu khawatir sama aku," tutur Naila.


"Pokoknya aku akan temenin kamu nanti,"


"Terserah mas aja, aku ke dapur dulu ya, mau lihat lihat yang lain, mas tunggu aja di sini,"


"Iya," jawab Marfel. Lalu Naila pun pergi ke dapur untuk melihat para pekerjaannya dan bantu bantu sedikit sambil mengajak pegawainya itu ngobrol.


Setelah jam 10 malam, akhirnya pekerjaan pun selesai, kini mereka beres beres sebelum pulang.


Setelah semua pegawai pulang satu persatu, kini tinggallah Naila sendiri, ia pun pergi ke ruangannya, dan tiba tiba  ia baru ingat jika ada Marfel di ruangannya, ia pun buru buru pergi dan saat sampai di ruangannya, ia melihat Marfel yang ketiduran di sofa.


"Ya Allah, maafin aku ya mas, pasti kamu nungguin aku lama banget ya sampai ketiduran gini, maaf ya aku lupa kalau mas ada di ruanganku, aku fikir mas dah pulang," ucap Naila.


Lalu Naila pun membangun Marfel secara pelan agar gak  kaget, "Naila, kamu dah selesai?" tanya Marfel setelah ia membuka matanya.


"Iya, maafin aku ya,"


"Kenapa?"


"Karna aku lama sampai mas ketiduran gini,"


"Gak papa, santai aja, yang lain sudah pulang?" tanya Marfel.


"Sudah," jawab Naila.


"Iya udah, ayo pulang, aku antar kamu pakai mobil aja ya, biar sepeda motor kamu taruh di kafe aja, aman kan kalau taruh di dalam kafe?" tanya Marfel.


"Aman sih, tapi mas yakin mau nganterin aku pulang?" tanya Naila.


"Yakin,"


"Terus gimana besok kalau aku berangkat sekolah?" tanya Naila.


"Biar besok sebelum ke sekolah aku samperin kamu, kebetulan besok aku ada kelas pagi kan di kelas kamu, terus pulang sekolah aku antar kamu ke sini lagi," ujar Marfel.


"Baiklah," Jawab Naila pasrah.


Lalu mereka pun pulang bersama, tak lupa Marfel memasukkan sepeda motornya di dalam kafe, dan menguncinya. Setelah itu, Marfel pun mengantar Naila pulang.