Novemberain

Novemberain
Nemenin Masak



Keesokan harinya, Marfel bangun pagi pagi sekali. Ia segera mandi dan bersiap siap. Setelah selesai ia mengambil kunci mobilnya.


Dan saat ia mau pergi, mamanya memanggil.


"Mau kemana jam segini?" tanya Mamanya.


"Mau ngajar ma, aku hari ini ada kelas pagi," jawab Marfel.


"Ngajar sih ngajar. Tapi lihat jam dulu, ini masih jam setengah 6, dan mungkin gerbangnya pun belum di buka. Papamu aja yang sebagai kepala sekolah, bahkan baru aja selesai olah raga, belum mandi. Kamu tunggu sebentar dulu, bibi juga masih masak," ujar Mama sedangkan papa hanya terkekeh melihatnya.


"Aku makan di luar aja ma, iya sudah iya aku berangkat dulu," ujar Marfel langsung mencium tangan mama dan papanya lalu pergi.


"Liat anakmu tuh pa, bilangnya mau ngajar, ngajar apaan jam segini, palingan cuma mau pergi rumah muridnya yang dia suka," ujar mama saat Marfel sudah pergi.


"Ya sudah biarin, jangan terlalu di kekang. Lagian juga kan Marfel sudah dewasa, sudah ngerti mana yang baik dan mana yang enggak. Sudah tau batasan batasannya. Lagian juga papa yakin wanita pilihan Marfel pasti adalah pilihan terbaik, karena dia gak mungkin menempatkan hatinya kepada sembarang orang," ujar papa membela putranya.


"Tapi kalau pagi pagi dah nyamperin ke rumah wanita, apa gak keterlaluan pa. Gimana nanti kata orang tua si perempuan?" tanya mama lagi.


"Ya sudahlah, Marfel pasti punya alasan kenapa ia berani berangkat pagi dan pergi ke rumahnya. Tapi itu juga belum pastikan, bisa aja dia ada urusan yang lain,"


"Tapi entah kenapa mama yakin 100% pa, kalau anak kita mau apel ke rumah muridnya itu yang sudah di targetkan jadi calon istrinya. Kadang mama masih gak nyangka, kalau wanita yang di sukai sama putra kita masih kecil, masih pelajar"


"Ya mau gimana lagi, cinta kan datang gak bisa di cegah. Sudahlah lebih baik kamu bantu bibi masak biar cepet, papa mau mandi dan siap siap juga," ujar Papa lalu ia pun pergi untuk mandi.


Sedangkan mama, ia pun segera pergi ke dapur membantu bibi masak.


Sedangkan Marfel ia mengendarai mobil dengan riang gembira bahkan ia sambil memutar lagu yang menggambarkan perasaannya saat ini.


Sesampai di depan pintu, Marfel pun segera turun dari mobil, dan memencet bel rumah 3x.


"Assalamualaikum," ucap Marfel tersenyum.


"Waalaikumsalam, mas. Ayo masuk," ajak Naila dan Marfel pun dengan senang hati masuk ke rumah Naila.


"Maaf ya sedikit berantakan, aku juga belum mandi ini. Mas juga ngapain ke sini pagi pagi gini?" tanya Naila.


"Gak ada pengen jemput kamu aja,"


"Tapi gak sepagi ini juga. Oh ya aku lagi masak, jadi aku gak bisa nemenin mas ngobrol, atau mau ikut aku ke dapur?" tanya Naila.


"Emang boleh?" tanya Marfel.


"Boleh, ayo," ajak Naila.


Dan akhirnya mereka berdua pun pergi ke dapur.


Marfel duduk di kursi ruang makan yang satu ruangan dengan dapurnya.


"Mas suka teh apa kopi?" tanya Naila.


"Teh tapi jangan terlalu manis," jawab Marfel lalu Naila pun membuatkan teh untuk Marfel.


"Ini di minum mumpung masih hangat," ujar Naila membuat Marfel senang, "Aku berasa kayak punya istri," gumam Marfel namun tak di dengar oleh Naila.


Naila pun sibuk memasak sedangkan Marfel memperhatikan Naila yang sibuk goreng gorng sambil minum teh hangatnya. Diam diam Marfel memfoto Naila yang sibuk memasak dan dirinya yang sibuk minum teh lalu mengirimkanya ke sang mama.