
Keesokan harinya sepulang sekolah, Rani ngotot pengen ikut dengannya ke kafe, gak seperti biasanya.
"Nai, aku boleh ya ikut kamu ke resto, plisssss," pinta Rani dengan wajah memelasnya.
"Kamu itu kenapa sih Ran, aku ke kafe buat kerja loh, bukan untuk bersenang senang," ucap Naila menjelaskan.
"Aku pengen ketemu pangeranku, hehe," gumam Rani dalam hati. Ia ingat kemarin kalau Naila dan Alfa janjian ketemuan di Lala's Restaurant jam 3 sore.
Entah kenapa sejak ketemu Alfa, Rani seakan gak bisa melupakannya, bahkan tadi malam sebelum tidur ia terus memikirkannya sampai kebawa mimpi.
"Di tanya malah bengong," ujar Naila sambil geleng geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu.
"Ran?" panggil Naila.
"Hehe iya Nai,"
"Kamu ngapain mau ikut aku ke kafe?" ulang Naila.
"Gak ada pengen ikut aja, aku bosen dan gak tau harus ngapain," jawab Rani gak mau jujur tentang perasaan yang di rasakan saat ini.
"Iya sudah ayo," akhirnya mau gak mau, Naila pun mengajak Rani ikut ke kafe.
Mereka naik sepeda motor, goncengan. Sebelum ke kafe, mereka pulang dulu ke rumah Naila untuk ganti baju, Rani pun meminjam baju Naila, anehnya ia minjem baju kesukaan Naila, baju yang di beli oleh ibunya tahun lalu dan baru di pakek sekali.
Naila pun hanya bisa mengehela nafas dan membiarkan bajua kesayangannya di pakai oleh sahabatnya.
Lalu setelah selesai ganti baju, barulah mereka pergi ke kafe.
"Ran, kamu mau duduk dimana? atau mau ikut aku bantu bantu?" tanya Naila.
"Aku duduk di sini aja deh," ucap Rani yang memilih duduk santai di kursi pelanggan, dengan duduk di sini, Rani bisa melihat jika Alfa sudah datang.
"Iya sudah, aku ke dalam dulu ya. Kamu pesen aja, nanti biar aku yang bayar," ucap Naila tersenyum.
"Iya makasih ya, emang kamu mah pengertian banget," puji Rani.
Naila pun tak menanggapinya, ia memilih untu pergi ke ruangannya dan menyelesaikan pekerjaannya. Sedangkan Rani, ia memesan jus apel.
Setelah juz apelnya datang, ia pun menikmati minumannya sambil main main Hp.
Di luar kafe, Alfa datang dengan wajah cerianya, ia ingin bertemu Naila, sambil membawa buku deary milik Fahmi. Namun saat ia mau masuk ke kafe, ia melihat wanita yang kemarin sempat datang pemakaman Fahmi bersama Naila.
"Ih, itu kan cewek yang itu. Jadi males masuk, palingan dia nanti jadi pengganggu, mending aku segera pergi deh, sebelum dia lihat aku," gumam Alfa yang buru buru pergi dan meninggalkan kafe.
Sedangkan di sebuah ruangan, Naila yang sibuk dengan berkas, tiba tiba Hp nya bergetar. Ternyata ada pesan dengan nomer yg tak dia kenal.
"Siapa ya," karena penasaran ia pun membukannya.
"Em, dari Kak Alfa toh," gumam Naila.
Naila pun membuka pesan tersebut.
"Nai, sebenarnya tadi aku sudah ada di depan kafe, tapi aku harus pergi karena ada urusan. Mungkin ketemuannya lain kali aja ya, oh ya aku gak papakan save nomer mu, aku tau nomermu dari Hp Fahmi yang di pegang aku,"
Naila pun segera membalasnya.
"Iya kak, gak papa,"
"Iya sudah, met kerja Nai,"
"Iya kak, semangat," balas Naila.
Setelah itu gak ada balasan lagi dari Alfa.
Sedangkan Rani terus saja menunggu sampai jam 4 sore.
"Aku sudah nunggu dua jam di sini tapi dia gak datang datang, hueft apa dia ada urusan makanya gak bisa ke sini," gumam Rina kesal.
"Mending aku pulang aja deh, percuma di sini, toh dia juga gak datang. Mending di rumah tiduran sambil baca novel atau nonton tivi," ucap Rani.
Ia pun mengirim pesan ke Naila.
"Nai, aku pulang dulu ya,"
"Loh kamu mau pulang naik apa, tadi kan kamu ke sini bareng aku,"
"Aku naik taxi aja Nai. Bajunya aku kembalikab besok ya kalau udah kering dan untuk juz nya biar akubbayar sendiri,"
"Iya sudah kamu hati hati ya di jalan. Maaf gak bisa nemuin kamu sekarang, soalnya aku lagi sibuk,"
"Iya gak papa Nai, santai aja."
Setelah itu Rina pun pulang setelah membayar juz, ia juga memesan taxi secara online.
Sepanjang jalan Rani terus saja cemberut, ia sampai rela pinjem baju Naila hanya demi tampil baik di depan Alfa, namun yang di tunggu tunggu malah gak dateng, siapa yang gak kesel coba.