
Naila bangun saat jam pulang sekolah berakhir, bahkan anak-anak pun sudah pada pulang sedari tadi. Rani dan teman-temannya yang ingin menjenguk Naila tetap tidak diberi izin oleh Marfel sehingga dengan terpaksa mereka semua pulang dengan raut wajah kecewa mereka. Padahal mereka hanya ingin melihat kondisi Naila saat ini, tapi Marfel tetap kekeh tak ingin mereka menganggu istirahat Naila yang tengah tertidur nyenyak.
Para guru-guru pun tak ada yang berani mendekat dan membiarkan Marfel tetap berdua dengan Naila di ruang UKS, mereka percaya jika Marfel tak mungkin tega menyakiti Naila apalagi sampai meno dainya. Pak Atmaja selaku kepala sekolah, juga berusaha meyakinkan mereka, bahwa putranya itu tak akan membuat masalah, dia hanya ingin menjaga Naila. Bahkan Pak Atmaja rela jadi jaminan, misal Marfel sampai melakukan kesalahan atau melakukan hal yang be jat, Pak Atmaja rela mundur jadi kepala sekolah. Tentu para guru pun memberikan kepercayaan penuh pada mereka berdua.
Pak Atmaja juga gak mau menganggu, karena Pak Atmaja tau bahwa kini mereka ada masalah dan sebagai orang tua, Pak Atmaja gak mau ikut campur, kecuali jika Marfel yang datang padanya dan meminta saran. Baru Pak Atmaja mau buka suara untuk memberikan nasihat atau solusi buat putranya itu. Tapi selama Marfel tetap diam dan tak mau bercerita, maka Pak Atmaja juga akan bersikap biasa aja, seakan-akan tak terjadi apa-apa.
"Mas Marfel," ucap Naila kaget melihat Marfel ada di sampingnya, dan saat ia menolah ke sekelilingnya, ia semakin kaget, pasalnya seingatnya ia menangis di dalam kelas dan setelah itu, ia gak ingat apa-apa, dan sekarang saat ia bangun, ia sudah berada di UKS berdua dengan Marfel.
"Kamu sudah bangun, Nai," ucap Marfel tersenyum sambil menatap ke arah Naila yang kebingungan.
"Iya, Mas. Tapi kok aku bisa ada di sini ya?" tanya Naila sambil berusaha untuk duduk.
"Tadi saat jam istirahat pertama, kamu ketiduran. Jadi aku bawa kamu ke sini."
"Sekarang jam berapa?"
"Jam satu lewat dua puluh menit."
"Astagfirullah. Aku gak ikut pelajaran kedua dan ketiga?" tanya Naila dengan wajah sedihnya.
"Kamu tidur dengan nyenyak banget, Nai. Jadi aku gak tega buat bangunin kamu. Maafin aku ya," ujar Marfel dengan rasa bersalahnya.
"Enggak papa, Mas. Kamu gak salah, aku yang salah. Mungkin tadi aku gak bisa nahan rasa ngantuk aku, jadinya ketiduran. Maaf karena aku merepotkan Mas Marfel."
"Aku gak merasa di repotkan kok. Aku malah seneng banget bisa jaga kamu di sini."
"Mas jaga aku dari tadi?" tanya Naila kaget sambil menatap wajah Marfel yang tengah menganggukkan kepala.
"Astagfirullah, Mas Marfel gak ngajar gara-gara nungguin aku dari tadi?" ulang Naila dan lagi-lagi Marfel menganggukkan kepala yang membuat Naila semakin merasa bersalah.
"Kenapa gak di tinggal aja, Mas. Aku gak enak sama yang lain karena Mas sampai bolos ngajar gara-gara nemenin aku tidur."
"Aku gak tega, Nai. Gimana jika nanti ada yang ganggu kamu tidur, aku gak mau kamu sakit gara-gara kurang tidur. Aku pasti akan merasa bersalah banget," ujar Marfel tanpa berani menatap ke arah Naila.
"Aku gak akan sakit, Mas. Hanya karena kurang tidur. Tapi ya sudahlah semua sudah terjadi, aku minta maaf ya, tapi lain kali, jangan kayak gini lagi, aku gak enak sama yang lain," ucap Naila memperingatkan.
"Iya," jawab Marfel, tapi ia gak janji karena jika di lain hari ia melihat Naila ketiduran, tentu ia akan melakukan hal yang sama.
"Aku mau ke kelas dulu," ujar Naila sambil turun dari brankar.
"Mau ambil tas, tasku ada di kelas."
"Ini tas kamu, tadi Rani ke sini ngasih tas kamu," ujar Marfel. Sebenarnya tadi Rani dan teman-temannya emang ke sini sambil bawakan tas Naila dan ingin jenguk Naila. Hanya saja Marfel hanya mengambil tasnya aja dan mengusir mereka, karena Marfel gak mau mereka bikin gaduh yang bikin Naila bangun. Marfel sadar, dirinya sudah keterlaluan karena membuat mereka keceewa, tapi ini semua dia lakukan untuk Naila. Agar Naila bisa tidur lebih lama tanpa adanya gangguan.
"Oh. Ya udah aku mau pulang kalau gitu," ucap Naila lagi sambil mengambil tasnya dan memakainya.
"Aku antar ya, dirimu kan gak bawa sepeda motor ke sini," ujar Marfel dan Naila pun menganggukkan kepala.
Lalu mereka berdua pun berjalan ke arah parkir, Naila tak perlu sembunyi-sembunyi lagi atau nunggu di pertigaan mengingat di sekolah cukup sepi jadi dirinya bisa sedikit bebas.
"Oh ya tunggu bentar." Saat mereka sampai di mobil, Marfel lupa jika tas dan kunci mobilnya ada di ruangannya. Marfel pun sedikit lari mengambil kunci dan tas kerjanya, setelah selesai ia segera kembali.
"Ayo masuk," ucap Marfel dan Naila pun menganggukkan kepala.
Mereka masuk ke dalam mobil dan Marfel mulai menghidupkan mobilnya dan mengemudi dengan pelan.
"Ke rumah atau ke resto?" tanya Marfel.
"Rumah aja, aku mau bersih-bersih rumah, kalau sempat nanti sore atau nanti malam baru ke resto, itupun kalau sempat. Kalau enggak ya mungkin besok aja ke restonya," ujar Naila memberitahu.
"Kalau misal nanti kamu mau ke resto bilang aku aja ya, nanti aku jemput."
"Oke."
Setelah itu mereka pun saling diam, tak ada yang berkata-kata lagi hingga sampai di depan rumah, barulah Naila turun.
"Mas gak masuk dulu?" tanya Naila sopan.
"Enggak, aku masih ada urusan di kantor."
"Baiklah, hati-hati di jalan."
"Iya."
Dan setelah itu, Naila pun berjalan menuju pintu rumahnya. Ia mengambil kunci dalam tas dan membuka pintu rumahnya. Ia menghidupkan saklar sehingga ruangan terang menderang. Ia juga menghidupkan kipas dan membuka semua jendela. Ia juga membuka pintu selebar-lebarnya agar udara masuk dan tak lagi bau pengap.