Novemberain

Novemberain
Patah Hati Yang Paling Menyakitkan



Naila menangis sesegukan di kamarnya, ia menangisi hubunganya dengan Marfel yang kini sudah berakkhir padahal ia sudah terlanjur sayang dan cinta sama Marfel. Tapi kenapa harus seperti ini? Namun Naila tak bisa menyalakan Marfel sepenuhnya, ia menyalahkan dirinya sendiri, yang tidak mau terbuka, tidak setia, padahal dirinya sudah ada Marfel, tapi malah memikirkna cowok lain. Mana ada cowok yang suka jika ceweknya sibuk memikrikan cowok lain ketimbang dirinya bahkan sampai tega mengabaikannya.


"Hiks kenapa semuanya jadi sepertiĀ  ini, baru juga senang karena dapat solusi dari Mas Marfel, tapi sekarang Mas Marfel menghancurkan hati aku dengan mengakhiri hubungan ini huuuu. Hatiku saktit." Naila menangis keras sambil memukul dadanya karena terasa sesak.


Dan kini Naila dan Marfel menangis di tempat masing-masing, mereka menangis karena hubungan mereka yang ternyata tak bisa bertahan lama, padahal sudah sedikit lagi untuk mereka bisa bersatu. Namun siapa sangka, jika kini hubungan itu sudah kandas. Naila sudah tega mengkhianati Marfel dan mengutamakan teman laki-laki dari pada Marfel yang jelas-jelas pacarnya. Dan lagi Naila seakan tidak peduli dan mengacuhkannya, mengabaikan Marfel hingga Marfel frustasi dan tidak tidur semalaman. Sedangkan yang di khawatirkan nampak santai dan malah menjenguk laki-laki lalin di saat Marfel bahkan tidak bisa berfikir jernih karena terus memikirkan Naila, takut jika Naila kenapa-napa.


"Maafin aku, Mas. Aku benar-benar menyesal," ucap Naila menangis terisak-isak. Ia memukul kepalanya yang bodoh itu, demi laki-laki lain, ia malah menghancurkan hubungan dirinya dan Marfel yang telah di jalani.


"Tuhan, kenapa seperti ini. Apakah Mas Marfel emang bukan jodoh aku, sampai untuk bersatu pun ada aja halanagannya?" gumam Naila dalam hati. Ia tak menyalahkan Tuhan akan nasib percintannya. Ia hanya ingin bertanya, apakah Marfel itu jodohnya apa bukan. Karena Naila merasa seperti susah sekali ingin bersatu dengan Marfel, laki-laki yang ia cintai.


"Dua kali. Dua kali aku patah hati karena laki-laki. Dulu Kak Fahmi dan sekarang karena Mas Marfel," ucap Naila.


"Mungkin aku harus pergi dari negara ini. Aku bisa menempuh pendidikanku lagi dan mencoba untuk membuka cabang baru di luar negeri," ujar Marfel, ya mungkin inilah yang harus di lakukan, agar ia bisa lepas dari pengaruh Naila. Dan bisa melupakan Naila, walaupun mungkin itu sulit dan butuh waktu lama, tapi Marfel akan mencobanya dan ia berharap kelak bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari Naila, wanita yang bisa menghargai dirinya dan tidak membohongi dirinya dengan alasan apapun.


Namun tentu Marfel tidak akan pergi dalam waktu dekat, ia harus menemani Mamanya yang kini dalam keadaan terpuruk, ia juga harus menyiapkan semuanya, agar setelah itu ia bisa pergi dengan tenang dan tak memikirkan hal yang lain.


Jam setengah tiga, Naila menyudahi tangisannya. Walaupun saat ini hatinya masih sakit dan perih namun ia harus bisa mengesampingkan perasaannya yang kini luluh lantak. Naila harus bertemu dengan petani yang akan menyuplay sayurannya ke resto mililk Bundannya dan ia harus bisa mendapatkan harga yang pas dan kontrak agar bisa kerjasama tanpa adanya kericuhan di masa mendatang.


Naila segera mandi, dan ganti baju lalu segera berangkat, nanti ia akan sholat ashar di masjid pinggir jalan aja. Naila mengemudi dengan kecepatan tinggi, agar bisa segera sampai untungnya, dua orang itu sudah mengirimkan alamata detailnya dan dengan di bantu maps, membuat Naila mudah menemukan alamat mereka berdua.