
Keesokan harinya, Naila berangkat kerja setelah selesai bersih-bersih, olah raga dan sarapan pagi. Sedangkan Bunda Ila, ia akan berangkat sekitar jam delapan pagi karena hari ini ia masih mau nyantai dulu ke rumah. Berbeda dengan Naila yang emang harus berangkat pagi karena ada matkul pagi.
Namun entah ini hari apes atau gimana, mobil Naila mogok di tempat yang cukup sepi. Padahal Naila pakai jalan dalam biar cepat, namun siapa sangka, mobilnya malah mogok. Naila membuka tasnya untuk mengambil HPnya, namun lagi-lagi ia menghembuskan nafas kasar, Hp dan dompetnya ketinggalan di meja, belum ia masukkan ke dalam tas.
Sedangkan di jalan itu tak ada kendaraan, benar-benar sepi. Emang jarang yang lewat sini, karena jalannya yang belum di aspal, enaknya jalan di sini gak macek seperti di jalan raya. Tapi jika seperti ini jadinya, mungkin Nailaa memililh untuk lewat di jalan raya saja.
Naila hanya bisa menangis sendirian, sambil berharap akan ada orang yang lewat dan mau membantunya. Saat Naila tengah menangis, tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depannya. Melihat hal itu membuat Naila bernafas lega. Apalagi ketika ia tau, orang yang turun dari mobil itu tak lain adalah Adrian, kakaknya Alexa.
"Loh Nai, aku fikir siapa. Kenapa mobilnya?" tanya Adrian sambil menghampiri Naila yang menghapus air matanya.
"Mogok, Mas," jawabnya masih bergetar, karena menahan nangis.
"Terus kamu kenapa nangis?" tanya Adrian merasa lucu, karena yang ia tau, Naila itu orang yang tegar, bukan wanita lemah dan suka menangis seperti ini.
"Gimana aku gak mau nangis, aku ada kuliah pagi ini. Kalau telat semenit aja, aku gak boleh masuk kelas. Terus mobil aku mogok di sini, di tempat yang sepi. Aku juga gak bawa Hp sama dompet," jawabnya masih tersedu-sedu. Mendengar hal itu membuat Adrian mengangguk-anggukkan kepala. Pantas aja jika Naila nangis, ia pasti takut sendirian di tempat sepi seperti ini.
"Kenapa kamu lewat sini, Nai? Padahal sudah tau, jalan ini rusak dan jarang di lewati?" tanya Adrian lagi.
"Aku males kalau lewat jalan raya, macek, aku capek rasanya kalau lama-lama di jalan, makanya lewat sini. Tapi siapa sangka, malah mogok."
"Ini pertama kali kamu lewat sini?" tanya Adrian.
"Ini kedua kalinya," jawabnya.
"Oh, boleh aku coba mobilnya, siapa tau bisa," ujar Adiran dan Naila pun menganggukkan kepalanya.
Adrian pun menghidupkan mobil Naila, namun emang susah mau menyala. Lalu Adrian lihat bagian mesinnya, "Kayaknya harus di bawa ke bengkel, Nai," ujar Adrian membuat Naila lesu.
"Terus gimana dong?" tanya Naila mulai menangis lagi.
"Terus mobilku?"
"Biar sopirku yang nungguin mobilmu di sini, aku juga akan menelfon temanku yang punya bengkel buat benerin mobil kamu," jawab Adrian sambil mengirim chat ke temannya.
"Makasih ya, Mas."
"Sama-sama, ya sudah ayo, biar kamu gak telat," ajak Adrian.
"Iya, Mas."
Dan akhirnya, Naila pun ikut Adrian, sedangkan sang sopir di turunkan ke sana untuk menjaga mobil Naila dan nanti membawanya ke kampus Naila.
"Kamu sudah lama Nai, di sana?" tanya Adrian sambil fokus menyetir, padahal dirinya hari ini males menyetir setelah kecapean gara-gara tadi malam.
"Lumayan hampir lima belas menit. Mas Adrian kok lewat sini?"
"Ya seperti kata kamu, di jalan macet. Sedangkan Alexa sudah nelfon aku berulang kali, sampai kayak di teror. Apalagi aku juga ada meeting pagi, jadi ya aku lewat jalan ini biar cepat. Siapa sangka malah ketemu kamu. Padahal tadinya aku fikir orang lain, loh."
"Jadi Mas gak tau awalnya kalau itu aku?"
"Enggak, cuma tadi sopir aku bilang. Ada mobil mogok, Mas. Iya aku suruh turun aja, siapa tau butuh pertolongan."
"Padahal Mas Adrian buru-buru ya, tapi masih sempat-sempatnya mau nolong orang."
"Ya, namanya manusia, Nai. Harus saling tolong menolong, bisa jadi suatu saat aku ada di posisi kamu, iya kan? Dan aku berharap ada orang yang bantu aku juga. Katanya kan kalau kita menebar kebaikan, kelak kita yang akan menuainya sendiri," ucap Adrian membuat Naila mengangguk setuju.
Mereka pun mengobrol santai, sampai tak terasa sudah berada di depan kampus. Adrian pun meminta bantuan Naila untuk memberikan bukunya ke Alexa, karena ia malas untuk turun dan mendengar ocehan adik bungsunya itu. Naila pun tak keberatan, ia mengambil buku Alexa dari tangan Adrian. Setelah mengucapkan terima kasih, Naila pun langsung ke kelas untuk menemui Alexa dan memberikan bukunya itu.