Novemberain

Novemberain
Sungkan Untuk Menolak



Saat Naila memberikan bukunya ke Alexa, Alexa menatap bingung ke arah temannya itu. Naila yang mengerti akan tatapannya berusaha untuk menjelaskan. "Tadi aku ketemu kakakmu di luar, terus dia nitip ini," ucapnya memberitahu. Alexa yang mendengar penjelasan Naila pun tak menaruh curiga. Naila duduk di samping Alexa sedangkan Alex duduk di belakang Alexa. Jadi Alexa di kelilingi orang-orang yang menyayangi dirinya.


Saat Naila baru saja duduk, dosen datang membawa buku tebal, laptop dan juga tas yang di tenteng di tangan kirinya. Naila bersyukur, ia datang tepat waktu. Karena telat satu menit aja, mungkin kini ia tak akan bisa masuk kelas. Naila berusaha untuk fokus, mendengarkan dosen yang menjelaskan di depan dan sesekali bertanya jika tak ada yang mengerti.


Tak terasa jam pertama pun berakhir dan kini Naila serta yang lainnya, keluar kelas dan masuk ke kelas yang lain. Karena setiap mata kuliah, itu kelasnya berbeda. Jadi bukan hanya dosennya aja yang beda, kelas pun juga beda.


Jam sepuluh lewat dua puluh menit, jam kedua berakhir. Naila, Alexa dan Alex pergi ke kantin untuk memesan makanan. Naila memesan lima Risholes yang berisi sayur dan daging. Serta minuman teh hangat. Sedangkan Alexa memesan Gado-gado dan es teh. Alex sendiri memesan Bakso dan es jeruk. Mereka kemana-mana selalu bertiga. Sebenarnya Alex ingin gabung dengan teman cowoknya, tapi ia harus menjaga saudara kembarnya itu atau dia akan kena omel di rumah karena lalai menjaga Alexa.


Alexa, si ratu princess di rumah karena dia lahir seorang perempuan sedangkan Alex dan kedua kakaknya itu laki-laki. Jadi Alexa benar-benar harus di jaga ketat karena anak kesayangan.


Mereka pun menikmatinya, saat Naila tengah makan, seorang datang menemuinya.


"Nai, ini kunci mobil kamu," ucapnya sambil memberikan kunci mobil milik Naila.


"Loh dari siapa?"


"Enggak tau, tadi ada bapak-bapak ke sini, terus mobil kamu katanya sudah ada di parkiran, paling pinggir."


"Oh okay, makasih ya."


"Sama-sama." Setelah itu, dia pun pergi setelah memberikan kuncinya ke Naila.


"Kok bisa ada sama dia Nai?" tanya Alexa kepo.


"Ya, mogok tadi, terus di bantu gitu di bawakan ke bengkel."


"Oh, terus kamu ke sini naik apa?"


"Numpang sama orang."


"Hemm gitu, hati-hati loh Nai, kalau sama yang gak di kenal, takut kenapa-napa di jalan. Sekarang mah banyak orang jahat," ujar Alexa karena terpengaruh sama vidio tiktok. Di mana banyak orang jahat yang berkeliaran.


"Tenang aja, aku kenal kok sama orangnya."


Mereka pun makan sambil mengobrol, jam istirahat kali ini cukup lama sampai jam satu. Jadi mereka bisa istirahat di taman, atau sholat di masjid, atau bisa pergi ke perpus bagi mereka yang sangat rajin membaca.


Naila memilih untuk pergi ke taman, menghirup udara segar dan duduk di bawah pohon sambil lihat tanaman yang tumbuh rapi. Alexa pun ikut Naila duduk di sana, toh dua duanya sama-sama tengah berhalangan. Sedangkan Alex, ia pergi ke Musholla untuk sholat dhuha sekaligus, mengaji sambil nunggu sholat dhuhur tiba. Walaupun dirinya lahir dari orang kaya, tapi bagi Alex, Alexa dan keluarganya, ibadah nomer satu. Jangan sampai ditinggalkan, apapun kesibukannya.


Saat Naila tengah mengobrol dengan Alexa, tiba-tiba Hpnya berbunyi. Dari Tante Maria. Naila pun segera mengangkatnya.


"Assalamualaikum, Tante," sapa Naila ramah. Naila dan Ibu Maria emang sudah tukeran nomer HP saat di pesta orang Tua Alexa.


"Waalaikumsalam, lagi di mana Nai?" tanyanya lembut.


"Kampus, Tan."


"Oh, pulang jam berapa?"


"Jam setengah tiga, Tan."


"Kalau gitu, nanti pulang kuliah. Kamu mampir ke rumah Tante ya, Tante lagi buat kue pakai resep baru nih. Nanti kamu ke sini ya, buat coba kue buatan Tante."


"Iya, Tan. Nanti aku kesana," ujar Naila yang tak tau bagaimana cara menolaknya jadi ia memilih untuk mengiyakan saja. Toh hanya sebentar dan setelah itu, dia langsung pulang.


"Iya sudah, Tante matikan dulu ya. Jangan lupa nanti."


"Siap, Tan."


"Asalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Dan setelah itu, Telfon pun mati. Naila menaruh lagi Hpnya di tas yang ia bawa. Naila sejujurnya merasa malu jika harus bertemu Ibu Maria dan Pak Atmaja, bukan apa-apa. Masalahnya Naila dan Marfel sudah tak lagi menjalani sebuah hubungan. Rasanya pasti gak nyaman untuk ke sana, tapi apalah daya, Naila emang gak bisa menolak permintaan orang lain. Ia lebih suka mengiyakan, walaupun kadang itu bertentangan dengan hati.