Novemberain

Novemberain
Pertemuan Terakhir



Malam harinya, sehabis sholat isya'. Marfel memberanikan diri untuk datang ke rumah Naila. Ia menggunakan pakaian barunya dan berusaha untuk membuat dirinya terlihat lebih tampan. Tak lupa ia juga membawa kue yang di buat langsung oleh Mamanya. Dengan mengucap basmallah, ia pun mengemukan mobilnya menuju rumah Naila. Sepanjang jalan, ia mengucap istigfar untuk meredakan rasa gugup dan takut, takut jika Naila masih marah padanya dan gugup juga karena harus beremu dengan Bundannya Naila.


Sesampai di depan rumah Naila, Marfel turun dari mobil. Ia membawa kue yang ia pegang di tangan kirinya. Ia berjalan ke arah pintu, lalu mengetuk pintu itu tiga kali. "Assalamualaikum," ucapnya pelan.


Tak lama kemudian, pintu pun terbuka. "Waalaikumsalam. Maaf cari siapa ya?" tanya Bunda Ila, karena dialah yang membuka pintunya.


"Perkenalkan Tante, saya Marfel, temannya Naila," jawabnya sopan. Bunda Ila mengangguk, lalu mempersilahkan Marfel masuk ke dalam rumahya. Tak lupa Bunda Ila membuka pintu lebar-lebar biar tak ada fitnah mengingat di rumah ini hanya ada dirinya dan Naila, yang merupakan wanita semua.


"Ini Tan, kue dari Mama." Marfel memberikan kue itu kepada Bunda Ila.


"Terima kasih ya," tuturnya sambil menerima kue itu.


"Sama-sama. Oh ya, Tan. Naila ada, kan?" tanyanya lagi.


"Ada, tapi sejak tadi pulang gak keluar dari kamarnya. Entah kenapa. Bentar ya,  Tante panggilkan dulu," ujarnya sambil berjalan menuju belakang untuk menaruh kuenya, lalu ia berjalan ke arah kamar Naila dan mengetuk pintunya.


"Nai, kamu lagi apa? Itu ada tamu buat kamu di ruang tamu," ujarnya tanpa menyebutkan namanya.


"Tamu siapa, Bun?" tanya Naila dari dalam, suaranya serak karena habis menangis.


"'Enggak tau, keluar aja. Jangan lupa cuci muka dan pakai baju yang sopan."


"Iya, Bun. Tapi siapa sih tamunya?" tanya Naila yang masih enggan membuka pintu.


"Makanya keluar, biar gak penasaran. Bunda mau buat minuman dulu," balasnya dan langsung pergi dari sana.


Naila yang berada di dalam pun hanya bisa menghela nafas, ia langsung masuk kamar mandi, bukan hanya cuci muka. Tapi sekalian mandi keramas biar segar. Ia bahkan masih sempat-sempatnya meredam tubuhnya sekitar sepuluh menitan. Setelah seleasi mandi, Naila memakai baju tidur, celana panjang dan baju panjang, yang tidak terlalu melekat di tubuhnya. Dan ia juga tak memakai make up, hanya mengeringkan rambutnya dan mengikatnya. Setelah selesai, ia memakai parfum sedikit biar gak bau. Lanjut ia memakai hijab segi empat, biar cepat. Lalu ia pun keluar kamarnya.


Saat ia berjalan menuju ruang tamu, ia melihat Marfel di sana, Naila hanya bisa menghela nafas. Di samping Marfel ada Bundannya yang tengah asyik berbincang dengan Marfel.


"Aku fikir siapa," ucap Naila yang membuat mereka menoleh padanya.


"Kok lama banget, Nai. Sampai sejam nunggunya," ujar Bunda Ila, ia bahkan sudah dari tadi bikin minuman dan mengobrol banyak dengan Marfel.


"Tadi masih mandi, Bun," jawabnya sambil duduk.


"Padahal Bunda suruh cuci muka aja, malah mandi," ucap Bunda Ila yang hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku putrinya itu.


"Gerah, Bun. Lengket juga badan aku, lagian bentar kok mandinya."


"Kamu itu, ya sudah temanin Nak Marfel dulu. Bunda mau ke kamar," ujarnya, Bunda Ila ingin memberikan kesempatan buat mereka mengobrol berdua. Bagaimanapun ia gak akan ikur campur masalah anak muda.


"Ada apa ke sini?" tanyanya dingin.


"Maaf, Nai," jawab Marfel, ini pertama kalinya ia melihat Naila bersikap dingin padanya.


"Nai, kamu benci ya sama aku?" tanyanya dengan wajah sendu.


"Enggak, kenapa aku harus benci," jawabnya ketus.


"Tapi kok nada ngomongmu gitu sama aku."


"Emang kenapa? Perasaan biasa aja."


"Hmmm aku benar-benar minta maaf, Nai. Maaf sudah bentak kamu tadi siang?"


"Sudahlah, jangan di bahas. Aku juga males buat nginget itu lagi."


"Nai, aku ingin kita balikan," ujarnya membuar Naila hanya bisa menghela nafas kasar.


"Maaf, aku gak bisa."


"Kenapa? Apa kamu sudah mencintai orang lain selain aku?"


"Iya," jawabnya.


"Siapa orangnya, Nai? Apakah itu Adrian?"


"Mas gak perlu tau. Lagian Mas itu bukan siapa-siapa aku lagi, kan. Kita itu hanya mantan, dan Mas gak berhak buat ngatur aku, bahkan kepada siapa aku jatuh cinta sekalipun."


"Tapi Nai gimana dengan hati aku?"


"Kenapa tanya aku? Emang apa hubungannya sama aku?"


"Ada, Nai. Ada. Aku cinta sama kamu."


"Tidak ada cinta yang melukai Mas. Tak ada cinta yang bikin menangis. Jika emang Mas mencintai aku, seharusnya Mas Marfel percaya sama aku, seharusnya Mas Marfel selalu ada buat aku, di saat aku sedih, di saat aku senang, di saat aku bahagia, di saat aku di landa masalah. Jika emang Mas Marfel mencintai aku, Mas gak akan mutusin aku secara sepihak, lalu ninggalin aku gitu aja, menghilang bak di telan bumi. Dan sekarang muncul, bilang cinta lagi. Mas fikir aku akan percaya?" tanya Naila sinis.


"Nai, aku benar-benar minta maaf," tutur Marfel merasa bersalah. Entah kenapa, ia tak lagi melihat binar cinta di mata Naila. Apakah benar jika Naila tak lagi mencintainya seperti dulu.


"Sudahlah, aku sudah muak mendengar kata maaf. Jangan Mas fikir aku sama seperti dulu lagi, Mas. Cukup sekali Mas nyakitin aku, tak akan aku biarkan Mas menyakiti aku untuk kedua kalinya. Dan aku harap, ini pertemuan terakhir kita."


"Ya Allah, Nai. Kok kamu ngomong gitu?"


"Karena aku sudah muak lihat wajah Mas Marfel dan aku gak ingin ingat apapun lagi yang berkaitan dengan Mas Marfel. Karena bagi aku, bertemu Mas Marfel, hanya bikin hati aku sakit."


"Baiklah, Nai. Jika emang itu mau kamu. Tapi sebelum aku pergi, aku ingin mengatakan sekali lagi, aku minta maaf atas semau kesalahan aku dan aku sangat mencintai kamu, bahkan sampai kapanpun, kamulah wanita yang aku cintai setelah mamaku. Bahkan jika aku mati sekalipun, kamu adalah wanita yang aku cintai dan akan aku bawa cinta ini sampai akhir hayatku," ucapnya dan setelah itu, Marfel pergi dari sana. Ia menitikkan air mata saat melihat Naila bahkan tak mau menoleh padanya. "Sebesar itukah rasa sakit yang aku berikan, Nai? Sampai kamu pun enggan menatap wajah aku?" tanyanya sambil tersenyum getir, setelah itu, Marfel pun pergi dari sana dengan hati yang teramat sakit.


Naila pun tak kalah sakitnya, ia juga menangis setelah kepergian Marfel. Ia masih mencintai Marfel, hanya saja ia tak mau bersatu dengan laki-laki yang punya sifat kasar, tidak percaya padanya dan hanya memikirkan ego sendiri.