My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
TERUS TERANCAM



Keadaan semakin kacau karena kedua kubu terlihat terus imbang tanpa ada satupun yang mau mengalah.


Zio yang sadar bahwa Aron dan Jonathan sudah tidak melawan Albert dan anaknya pun langsung berlari ke halaman belakang.


Zio melihat Albert yang berjalan bersama putranya dan lima orang pria kekar menuju paviliun pun membuatnya kalang kabut.


Dihalaman depan, Aron dan Jonathan mengerutkan kening nya saat beberapa pengawal asing masuk ke kediaman nya dan membantu pihak nya.


"Bram" gumam Jonathan yang melihat sahabat nya datang bersama orang orang nya.


Dorrrr


Dorrrr


Dorrrr


Jonathan dan Aron melenyapkan orang orang yang sedari tadi menghalangi mereka.


Jonathan langsung menyambangi sahabat lamanya, ada rasa marah bercampur dengan rindu yang dirasakan Jonathan.


"Bram kau?"


"Maafkan aku Jonathan, bukan maksud ku membahayakan putriku" ucap Bram penuh sesal


"Albert, Lucas dimana mereka?" tanya Aron


"Tuan!" teriak Zio yang berlari kearah mereka


"Tuan, Albert dan Lucas menuju paviliun, sepertinya mereka tahu bahwa nona muda disana"


"Ayo cepat kesana" ucap Aron dan langsung berlari.


Jonathan, Bram dan yang lainnya pun berlari menuju paviliun berharap Albert belum masuk kedalam sama.


"Berhenti kau Albertus Zicon!" teriak Bram dengan wajah yang sudah menggelap


"Bramasta Agarandra" ucap Albert bertepuk tangan


"Aku rasa jika tidak membuat kekacauan ini kau tidak akan keluar, serahkan kunci itu" ucap Albert menengadahkan tangan nya.


"Apa hak mu hah?"


"Aku masih adikmu jika kau ingat"


Deghhhhh


Semua orang memandang kearah Bramasta dan Albert secara bergantian, fakta mengejutkan apa lagi yang harus mereka dengar.


"Cihh seorang anak udik meminta harta? apa tidak cukup harta yang ku beri selama ini hah?"


"Abang ku Bramasta Agarandra, aku ingin kekuasaan klan dan juga perusahaan bukan sekedar harta" ucap Albert terkekeh


"Jadi papa dan dia adalah bersaudara?" tanya Lucas dengan wajah yang tidak percaya


"Ceritanya panjang Lucas, jangan merusak rencana kita"


"Jadi aku tidak bisa menikah dengan gadis itu?"


"Diam Lucas!" bentak Albert


Lucas langsung tertunduk diam, Lucas memang sudah jatuh hati kepada Elena semenjak mencari tahu tentang gadis cantik itu.


"Pergi atau mati sekarang juga" ancam Bram


"Cih aku belum mendapatkan apa yang ku inginkan" cibir Albert


"Tuan, di ruang bawah tanah sangat gelap saya takut nona muda tidak baik baik saja" bisik Halid yang berdiri di samping Aron


"Sial aku melupakan itu" gerutu Aron lalu memberitahukan kepada papi nya.


Jonathan yang mendengarnya pun langsung terbelalak, dia benar benar lupa jika calon menantunya itu sangat phobia dengan gelap.


"Cepat selesaikan ini Bram, ruang bawah tanah sangat gelap dan El ada disana"


Bram yang mendengarnya pun langsung menoleh, bagaimana dia bisa lupa dengan hal yang bisa mengancam nyawa putrinya.


"Pergi Albert, aku masih baik terhadap mu karena bagaimana pun darah papa ku mengalir dalam dirimu"


"Semudah itu? tidak akan, aku akan mengambilnya sendiri"


Dorrrr


Bram sudah kehabisan kesabaran sehingga menembak tepat didada Albert membuatnya hampir tersungkur jika Lucas tidak menangkap nya.


"Bunuh saja mereka" ucap Aron mengangkat senjatanya.


"Jangan nak, biarkan saja" ucap Bram menahan Aron.


"Jangan?" tanya Aron tidak percaya


"Dia masih adik ku" jawab Bram


"Papa, bangun papa, cepat tolong papa bawa dia kerumah sakit" ucap Lucas kepada pengawalnya.


"Ayo cepat, Elena ada didalam sana" ucap Jonathan dan berlari lebih dulu.


"Dimana kunci nya Aron?"


"Ahh sial kunci nya pasti terjatuh, dobrak saja" ucap Aron


Mereka pun terus berusaha merobohkan pertahanan pintu ruang bawah tanah yang amat kokoh itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keadaan diruang bawah tanah sedikit mengkhawatirkan, lilin yang tadinya dijadikan penerangan kini sudah mati.


"Ahhh tidak ada apa pun lagi disini" ucap Helga yang mulai frustasi


"Kemana tuan Aron dan tuan besar" gerutu Amey


Brakkkkkk


"Para bedebah itu terus berusaha mendobrak pintu itu nona Helga" ucap salah satu pelayan yang bersama mereka.


"Su..sudah, kalian mundur saja kita lihat siapa yang masuk" ucap Elena yang mulai merasa sesak dengan ruangan yang gelap.


"Nona anda baik baik saja?" tanya bik Minah khawatir


"Ba..baik bik" ucap Elena memegangi dadanya.


"Nona bertahan lah sebentar lagi non" panik bik Minah yang memeluk tubuh Elena.


Helga dan Amey yang mendengar ucapan bik Minah pun langsung mendekati kedua wanita itu.


"Nona muda, nona jangan tutup mata anda"


"Nona bertahan lah sebentar lagi saya mohon" ucap Amey menggenggam tangan Elena yang sudah dingin.


Brakkkkkk


Pintu ruang bawah tanah pun terbuka hingga terlepas, para wanita begitu tegang takut jika itu adalah musuh.


"Elena"


Seketika Helga dan yang lainnya bisa bernafas lega saat mendengar suara siapa yang memanggil nona muda mereka.


"Tuan, nona pingsan tuan" ucap Helga berteriak


Aron dan yang lainnya pun langsung bergegas masuk, Aron langsung melepas jas nya untuk membungkus tubuh Elena.


"Cepat siapkan mobil dan hubungi Robby" ucap Jonathan


Halid langsung berlari naik untuk menyiapkan mobil dan menghubungi Robby agar bersiap menunggu kedatangan mereka.


"Elena, sayang bangun ini aku" panik Aron menggendong Elena keluar ruang bawah tanah itu.


Jonathan menahan tangan Bram saat pria itu ingin mengejar langkah Aron yang membawa pergi Elena.


"Aku mohon jangan sekarang Jhon, putriku sedang tidak baik baik saja" mohon Bram yang sudah sangat kalut


"Kau harus menebus perbuatan mu Bram" ucap Jonathan dan berlalu lebih dulu.


Halid Bergegas tancap gas menuju rumah sakit, Aron terus berusaha agar Elena membuka matanya.


"Cepatlah sedikit Halid"


"Baik tuan" Halid langsung menambah kecepatan nya.


"Sayang bangun lah ini aku, maafkan aku sayang aku mohon buka matamu" lirih Aron memeluk tubuh lemah Elena.


Beberapa saat kemudian mereka pun sampai dirumah sakit milik Robby, Aron keluar dari mobil dengan membopong tubuh Elena.


"Letakkan di brankar Aron, kami akan melakukan tindakan" ucap Robby yang sudah bersiap dengan beberapa perawat.


Elena dibawa masuk kedalam ruang UGD untuk mendapat penanganan lebih lanjut.


Aron terus mondar mandir karena tidak bisa tenang selama ini menyangkut keselamatan Elena.


Beberapa saat kemudian Bram, Jonathan dan yang lainnya pun datang dengan raut cemas dan lelah.


"Bagaimana keadaan El Aron?" tanya Bram


"Nona muda masih didalam tuan" jawab Halid yang tahu bahwa Aron tidak akan menjawab.


"Maafkan papa sayang" lirih Bram terduduk dibangku tunggu.


"Bersabarlah, putrimu bukan anak yang lemah dia akan baik baik saja"


"Ini salahku Jhon, tidak seharusnya aku mempersulit hidup putriku seperti ini"


"Bukan saatnya menyalahkan diri sendiri Bram, kita semua mencemaskan El disini" ucap Jonathan menenangkan.


Rasya berlari bersama Duta, Clara dan Jessica menuju Aron dan yang lainnya yang sedang menunggu pintu UGD itu terbuka.


"Kalian kok disini?" tanya Helga


"Dokter Robby mengatakan bahwa El sedang sakit dan aku diminta untuk membantu" jawab Rasya


Ceklekk


"Dokter Rasya, Dokter Robby memerintahkan anda untuk masuk" ucap salah satu perawat yang keluar dari ruang UGD.


"Selamatkan lah putri om nak" ucap Bram memohon kepada Rasya.


"Aku masuk dulu" pamit Rasya dan berlalu masuk kedalam ruang UGD.


"Apa yang terjadi Helga?" tanya Jessica dengan nata yang sudah berkaca kaca.


"Aku tidak mengerti dengan situasi ini, kenapa Elena sering sekali masuk rumah sakit setelah mengenal mu Aron" ucap Clara menyalahkan.


"Clar tenanglah, kita semua mencemaskan El disini"


"Tenang apanya Dita? kau ingat hidup Elena tenang sebelum mengenai pria ini? hidup Elena terus terancam Dita"


"Iya aku tahu, kita semua tahu Clar, tapi bukan saatnya menyalahkan atas apa yang terjadi, kita harus berdoa agar Elena baik baik saja"


"Jika sesuatu terjadi pada Elena atau dia tidak selamat, aku tidak segan segan membunuhmu Aron" ancam Clara menatap tajam Aron.


"Kau berhak melakukan itu Clar" jawab Aron lesuh.


.


.


.


Happy reading🤗