My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
BERMALAM BERSAMA



Malam yang dingin, terlihat awan gelap sangat pekat menyelimuti malam yang berangin ini.


Elena baru saja masuk ke apartemen nya, disofa ruang tamu nya terdapat seorang pria dengan keadaan tidak sadarkan diri.


Elena langsung menutup pintu apartemen nya, lalu mendekati sofa dimana pria itu sedang berbaring.


"uhh ya ampun, perut nya terluka bagaimana ini?" gumam Elena memperhatikan bagian perut pria itu yang terluka karena baju nya sobek.


Ya pria itu adalah Aron, Elena benar benar membawanya ke apartemen nya karena merasa kasihan dengan pria ini.


"ck aku harus mengobatinya" gumam Elena berlalu masuk kedalam kamar nya.


Elena mengambil sebuah kaos oversize miliknya yang berwarna hitam dan juga kotak p3k.


Elena keluar dari dalam kamarnya langsung menuju dapur untuk membawa seember air bersih.


Elena berlutut di depan sofa nya, Elena sedikit bergidik saat melihat darah yang sudah sedikit mengering.


perlahan Elena membuka kancing kemeja Aron yang berwarna putih dan sedikit bercak darah dibagian perut nya.


jas Aron sudah dibuka lebih dulu oleh Elena, Elena sedikit tercengang melihat perut kotak kotak milik Aron.


"ahh ya ampun, kenapa pikiran ku mesum" Elena terkekeh sembari menggelengkan kepalanya.


Elena membersihkan luka diperut Aron yang tidak terlalu dalam, setelah itu dia mengoleskan salep keluka itu, dia mengetahui nya dari Rasya.


Elena beralih ke wajah Aron yang sedikit mengeluarkan darah dibagian pelipis dan sudut bibir nya.


"ehhh dia kan pria yang waktu itu, yang hampir tertabrak mobil, sepertinya dia pria kaya" gumam Elena mengobati bagian wajah Aron yang terluka.


"dia tampan" gumam Elena lalu terkekeh, ntah sejak kapan terakhir kali dia memuji seorang pria sebelum Aron.


setelah selesai Elena memakaikan kaos oversize nya ketubuh Aron secara perlahan.


"aku tinggal mandi saja deh" batin Elena membereskan kapas yang kotor dan membawa pakaian Aron.


kemeja Aron sudah tidak layak dipakai jadi Elena memutuskan untuk membuangnya, sedangkan jas nya Elena campurkan kedalam pakaian kotornya untuk di laundry.


Setelah beberapa saat melakukan pembersihan badan nya, Elena kini sudah selesai dengan memakai hotpants berwarna baby blue yang dipadu dengan kaos oversize berwarna putih.


terlihat couple dengan baju yang dikenakan oleh Aron, seperti nya Elena tidak menyadari hal itu.


Elena keluar dari kamar nya dan melihat Aron yang belum sadarkan diri, Elena berjalan kedapur untuk membuat minuman hangat untuk nya.


tidak lama Elena kembali dengan segelas coklat hangat dan sebuh buku ditangan nya.


Elena duduk disamping sofa tempat Aron berbaring, Elena menghela nafas dan memutuskan untuk membaca bukunya saja.


tidak lama terdengar deru nafas Aron yang sedikit tersenggal diruangan sepi ini.


Elena langsung mengalihkan pandangan nya kepada Aron, Elena mengerutkan kening nya saat melihat wajah Aron yang berbanjir peluh.


Elena mendekat dan meletakkan punggung tangan nya didahi Aron, elena terbelalak saat mendapati suhu tubuh Aron sangat lah panas.


"astaga, tubuhnya panas sekali dan dia pun terlihat kedinginan" gumam Elena berlalu kekamar nya.


Elena mengambil selimut dan langsung kembali untuk menyelimuti tubuh Aron, setelahnya Elena berlalu kedapur untuk mengambil air hangat.


Elena kembali dengan seember air panas dan handuk kecil berwarna putih ditangannya, Elena langsung mengompres dahi Aron.


Elena menahan handuk itu didahi aron menggunakan tangan nya agar tidak jatuh dari tempatnya.


lama lama Elena merasa kantuknya pun datang, Elena menyenderkan tangan nya yang bertumpu pada lengan Aron.


sedangkan tangan nya masih setia memegang handuk itu didahi Aron.


Sinar matahari masuk dari cela cela gorden yang masih tertutup, dua insan yang berada disofa masih setia dengan mimpi masing masing.


perlahan mata Aron mengerjap, Aron membuka mata dan mengerutkan kening mencoba mengumpulkan kepingan demi kepingan atas kejadian semalam.


Aron merasa tangan nya sebelah berat, Aron melirik ada wajah cantik dan damai sedang tidur di lengan nya.


"ternyata aku tidak mimpi, memang kau yang menyelamatkan aku sayang" gumam Aron mengusap lembut kepala Elena.


Aron melirik tangan Elena yang masih ada didahi ny, Aron baru tersadar kalau Elena terduduk di lantai.


perlahan Aron bangkit dari tidurnya, Aron memegangi kepala Elena agar gadis itu tidak terusik karena pergerakan darinya.


Aron menggendong Elena menuju kamar Elena, sesampainya disana secara perlahan Aron meletakkan tubuh mungil Elena keatas ranjang.


Aron duduk dibibir ranjang menatap wajah damai gadis kesayangan nya, Aron mengecup kening Elena dengan nyaman.


"memang sudah takdir nya begini sayang, jika tadi malam kau tidak ada mungkin aku sudah mati dan keinginan ku hidup bersama mu juga hanyalah sebatas khayalan"


"ehh.. bukannya dia takut darah?" Aron menyingkap kaos nya, luka nya sudah sedikit membaik.


Aron penasaran dan langsung menuju meja kerja Elena, Aron membuka rekaman CCTV ruang tamu Elena.


Aron menahan tawa saat melihat wajah Elena yang ketakutan saat melihat darah dibagian perutnya.


jangan tanya Aron tahu dari mana, semua tentang Elena sudah pasti Aron tahu bahkan hal sekecil apa pun.


"seandainya tadi malam aku sadar kau sudah memegang perut ku sayang" kekeh Aron menutup kembali laptop Elena.


hari ini adalah hari wekend, semenjak tinggal sendiri Elena jarang berpergian dan Aron mengetahui itu.


Aron kekamar mandi untuk membersihkan dirinya, tidak peduli pakaian siapa yang akan dipakai nya nanti.


setelah selesai Aron keluar hanya menggunakan handuk yang melilit pinggang nya saja.


Aron menyambar ponsel Elena yang terletak di ranjang, Aron mengetik nomor seseorang.


"halo Hugo" pria yang ditelpon Aron adalah Hugo orang kepercayaan nya.


"halo tuan, apa anda baik baik saja? setelah mengetahui nona yang membawa anda kami urung menjemput" ucap Hugo


tidak lupa Aron menghapus riwayat panggilan itu karena tidak ingin Elena banyak bertanya padanya.


setelah menunggu bener apa saat yang ditunggu pun tiba, Aron langsung menerima paperback yang berisi pakaian nya.


setelah selesai Aron beralih kedapur Elena untuk membuat sarapan Elena dan juga dirinya.


Elena menggeliat dibalik selimut nya, Elena menyesuaikan mata nya pada cahaya matahari yang masuk dari jendela kamar yang sudah terbuka.


"eh.. kok aku dikamar?" gumam Elena melihat sekitar.


setelah mengingat sesuatu Elena langsung melompat dari ranjang nya dan berlari keluar.


Elena mencari pria yang semalam ditolongnya diruang tamu tetapi tidak ada siapapun.


sayup sayup Elena mendengar kebisingan dari dapur, Elena langsung berlalu kesana untuk melihat siapa yang sedang masak.


Elena membatu ditempatnya saat melihat pria tampan bertubuh tegap sedang memasak didapur nya, Elena melihat Aron dari samping.


"kau sudah bangun?" ucap Aron menoleh kearah Elena.


Elena langsung mengalihkan pandangan nya, pipi nya tiba tiba memanas saat ditatap balik oleh Aron.


Elena mendekat dan meletakkan punggung tangan nya di kening Aron, sedangkan Aron membatu ditempat.


"ahhh syukurlah panas nya sudah turun" gumam Elena menarik tangan nya.


"ada apa?" tanya Aron pura pura tidak tahu.


"kau demam semalam" jawab Elena memperhatikan Aron yang sedang memotong daging.


"kau bisa masak?" tanya Elena menatap tangan Aron yang terlihat lihai menggunakan pisau.


"tentu bisa, aku biasa melakukan ini" jawab Aron menoleh sesaat kearah Elena.


"wowww hebat sekali" kagum Elena dengan mata berbinar saat Aron memotong daging itu dalam bentuk rapih dan ukuran nya sama.


"apa kau tidak bisa memasak?" tanya Aron pura pura tidak tahu.


"tidak, sahabat ku melarang ku menyentuh alat dapur apa lagi pisau" jawab Elena.


tiba tiba tangan Elena terulur ingin mengambil pisau, Aron langsung mencegah nya.


"mandilah, setelah kau mandi makanan ini akan siap" titah Aron.


"apa aku tidak merepotkan mu?" tanya Elena dan Aron pun menggeleng.


Elena pun berlalu keluar dapur menuju kamar nya untuk mandi, Aron menatap kepergian Elena dengan senyum tipis.


Aron menatap kepergian Elena "malam pertama kita tidur bersama" gumam Aron terkekeh kecil.


Selesai memasak Aron menyiapkan makanan yang dimasaknya keatas meja makan.


Elena keluar dari kamarnya menggunakan hotpants berwarna hitam yang dipadu dengan kaos oversize berwarna denim, Elena memang seperti itu jika dirumah hehe.


Aron menelan saliva secara kasar, paha mulus dan putih itu terekspos jelas didepan mata nya.


"wawww, makanan ini terlihat enak" puji Elena duduk di hadapan Aron.


beberapa saat Aron melupakan sikap dingin dan cuek Elena, karena yang di depannya seperti Elena yang berbeda.


"ayo makan, kau pasti sudah lapar karena semalam menolongku" ucap Aron memulai sarapan pagi itu.


"jika orang lain yang ada di posisi ku mungkin akan melakukan hal yang sama jadi jangan berlebihan" ucap Elena tersenyum tipis


Aron hanya menganggukkan kepalanya dan melanjutkan makannya sembari sesekali mencuri pandang kearah Elena.


"kau sangat berbakat, biar aku saja yang membereskan ini, ini salep untuk luka diperut mu" ucap Elena menyodorkan sebuah salep kepada Aron.


"tidak, biar aku saja yang membereskan" tolak Aron secara lembut.


Elena berdecak kesal pria ini kerasa kepala seperti dirinya, sangat sulit untuk ditolak permintaan nya.


mereka pun berakhir mencuci piring bersama, sepertinya Elena melupakan dirinya sendiri karena terlihat Elena yang sesekali tertawa karena tingkah Aron.


ini pertemuan kedua mereka tetapi kenapa seperti sudah kenal lama, Aron tersenyum tipis melihat tawa Elena yang jarang sekali terlihat.


kini keduanya sudah duduk disofa, terlihat mereka sedang berdebat suatu hal seperti sepasang kekasih pada umumnya.


"ayolah bantu aku, tangan ku sangat kasar jika aku yang mengoles sendiri" ternyata Aron meminta Elena untuk mengoles salep diperut nya yang terluka.


Elena yang sebenarnya gadis pemalu menolak keras permintaan Aron, apa lagi Elena harus melihat perut sixpack milik Aron lagi.


"aishhh kau coba saja jangan manja" gerutu Elena masih menolak permintaan Aron.


Aron mengambil salep itu dengan bibir mengerucut kesal, Aron membuka kaos nya membuat Elena terbelalak


"a..apa mesti kau membuka nya, kan bisa hanya menyingkapnya saja" ucap Elena memalingkan wajahnya.


Aron seketika tersenyum licik memandang Elena yang terlihat malu malu sehingga memalingkan wajah nya.


Aron menggeser duduknya sehingga kini duduk tepat disamping Elena, Aron mencondongkan dirinya kearah Elena.


"ahhhhhhhhh"


.


.


.


wkwk ngapain tuh, penasaran ga nih haha maaf ya author gantung soalnya keliatan sepi, ga seru ya cerita author.


Ayo dong comment dan like buat jadi dukungan author 🥺