
Malam hati yang dingin, seorang gadis mulai menggerakkan jari nya kelopak matanya pun mulai bergerak gerak.
Elena membuka matanya setelah pingsan sehari semalam, Elena mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
"Ahhhhhh!!" teriak Elena terkejut saat suara tembakan itu terngiang dikepalanya.
"Anda baik baik saja nona?" tanya seorang wanita paruh baya yang menunggui Elena tidur.
"Si..siapa kau?" tanya Elena dengan sedikit rasa takut.
"Maaf membuat Anda terkejut nona, nama saya bik Minah saya kepala pelayan disini" ucap bik Minah mendekati Elena.
Karena masih ada rasa takut didiri Elena, Elena terus mundur untuk menjauhi bik Minah yang tengah tersenyum padanya.
"Jangan takut nona, bibik tidak akan melukai nona" ucap bik Minah yang berhasil membuat Elena luluh.
Ceklekkkk
Aron datang karena mendengar teriakan Elena tadi, ada raut khawatir di air muka Aron ketika masuk kekamar itu.
"Ka..kau, jangan dekati aku" ucap Elena dengan terbata
"Maaf sayang, aku tidak akan menyakiti mu" ucap Aron terus mendekati Elena.
"Ka..kau tadi memegang i..itu, benda itu" gagap Elena yang tidak mampu menyebutkan kata pistol
Aron menghela nafas "itu hanya mainan sayang, mana ada orang yang mempunyai pistol selain polisi" ucap Aron berusaha mengalihkan perhatian Elena.
"Dia benar juga, bodoh sekali aku sampai pingsan karena mainan" batin Elena merutuki dirinya yang terlampau bodoh.
"Lalu? apa yang kau lakukan?" ketus Elena yang masih tidak Terima dengan tindakan Aron.
"Ini sudah jam makan malam sayang, pergilah mandi bik Minah akan menyiapkan pakaian mu setelah itu kita makan" ucap Aron meninggalkan Elena dan bik Minah
"Memangnya siapa dia? kenapa mengatur ku? aishhh pria gila itu" gerutu Elena turun dari ranjang.
"Mari nona saya antarkan" ucap bik Minah menunjukkan jalan kepada Elena menuju kamar mandi.
Mata Elena terus disuguhi oleh barang barang yang lebih dominan dengan warna hitam, hanya beberapa saja yang memiliki warna lain.
"Kamar ini seperti kamar vampir" gumam Elena bergidik ngeri, bik Minah yang melihatnya pun tersenyum lucu.
Elena masuk kedalam kamar mandi, sedangkan bik Minah menyiapkan pakian yang akan Elena gunakan.
Setelah selesai bik Minah memberikan gaun selutut yang berwarna ungu lavender serta pakian dalam untuk Elena dan meninggalkan gadis itu di walk in closed.
"Kenapa semua ukuran nya pas ditubuhku?" gumam Elena menatap dirinya dicermin.
Elena mengeringkan rambut nya dan memoles wajahnya dengan make up tipis yang tersedia di sana.
Di lantai dasar tepatnya di meja makan, empat pria tampan sudah menunggu setengah jam yang lalu setelah Aron kembali dari kamar Elena.
"Halid, kenapa nona lama sekali? cacing diperut ku sudah mulai demo" lirih Zio yang duduk disamping Halid.
Mereka tidak akan makan sebelum Aron makan lebih dulu, sedangkan Aron tidak akan makan jika Elena tidak makan lebih dulu.
"Diamlah Zio, jika kau terus mengeluh maka dahi mu akan dilubangi oleh golck milik tuan" bisik Halid yang jengah dengan keluhan sahabatnya.
Zio berdecak kesal "kenapa tuan jadi sebucin ini" Zio terus menggerutu dalam hati.
Tidak lama Elena dan bik Minah pun masuk kedalam ruang makan, semua orang menoleh padanya.
Bik Minah menggiring Elena agar duduk di kursi yang berada tepat di samping Aron, Aron tersenyum tipis melihatnya.
"Makanlah" ucap Aron mengisi piring kosong Elena.
Elena terus memicingkan matanya memandang Aron tanpa mau menyentuh makanan yang ada didepan nya walaupun rasanya sangat lapar.
"Aku baru ingat wajah mu, kau bukan.."
"Makanlah dulu sayang, setelah itu semua pertanyaan mu akan aku jawab" Aron menyela ucapan Elena.
Elena pun menurut dan makan makanan yang sudah di ambil Aron, Aron tersenyum kecil melihatnya.
Sepanjang makan malam tidak ada percakapan apa pun, hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar disana.
Halid, Hugo dan Zio selesai lebih dulu dan berpamitan pergi, biasanya mereka akan pergi ketika Aron selesai tetapi situasi nya berbeda saat ini.
Makanan Elena habis lebih dulu, Elena langsung menenggak habis minuman nya lalu menatap Aron yang sedang mengunyah makanan terakhir nya dengan lambat.
"Dia makan seperti siput" Batin Elena menatap tajam Aron
"Kau memang punya hutang jawaban kepadaku jika kau lupa" ketus Elena memalingkan wajah nya.
"Baiklah, katakan!" ucap Aron melipat tangan nya didada dan memandang Elena.
"Untuk apa kau menculik ku?" tanya Elena to the poin
Aron mengerutkan kening nya "aku tidak menculikmu sayang" ucap Aron
"Aishhh, aku ganti pertanyaannya, dimana ponselku?" tanya Elena menengadahkan tangan nya di depan Aron
"Akan aku berikan tapi bukan sekarang sayang" ucap Aron menerima uluran tangan Elena.
"Isss jangan sentuh aku, kau ini jadi bagaimana jika sahabat ku mencari ku hah?" bentak Elena melipat tangan nya didada.
"Jangan khawatir sayang, nanti kau akan bertemu lagi dengan mereka jika sudah bisa menerima calon suami mu ini" ucap Aron menaik turunkan alis nya.
"APAAAA!!" pekik Elena terkejut dengan jawaban Aron.
"Jangan berteriak sayang" ucap Aron menggosok telinga nya.
"A...apa maksud mu calon suami hah?" bentak Elena tidak Terima
"Ck, kau sudah menjadi wanita ku sayang dan aku calon suami mu" ucap Aron yang berusaha memperluas kesabaran nya.
"Mana bisa seperti itu, jika kau melakukan ini hanya karena ingin balas budi aku tidak butuh" ucap Elena yang tidak mengerti jalan pikiran Aron.
"Aku melakukan ini bukan karena balas budi sayang, aku mencintaimu" ucap Aron membelai rambut Elena.
"Ahhh ya ampun, kenapa aku seperti dipertemukan dengan orang gila" keluh Elena menangkup wajah nya.
Tiga pria kepercayaan Aron sedang mati matian menahan tawa mereka saat mendengar celetukan Elena yang mengatakan Aron pria gila.
"Sayang kenapa kau berbicara seperti itu?" lirih Aron menatap Elena
"Berhentilah memanggil ku sayang, aku bukan sayang mu!" bentak Elena berdiri dari duduk nya.
"Tidak bisa sayang, kau calon istri ku" tolak Aron tegas
"Aku punya nama!" bentak Elena yang mulai jengah dengan Aron
"iya aku tahu sayang, nama mu Elena Gresya tetapi aku ingin memanggil mu sayang" ucap Aron
Mata Elena terbelalak saat mendengar Aron menyebut nama panjang nya "ba..bagaimana kau tahu nama ku?"
"Aku mengetahui semua tentang mu sayang" jawab Aron santai.
"Aishhh aku semakin gila jika berbicara dengan mu, sekarang antar aku pulang" ucap Elena berjalan meninggalkan Aron.
"Pulang kemana? ini rumah kita, rumah mu juga" tolak Aron mengikuti Elena
"Ini bukan rumah ku, aku punya tempat tinggal sendiri" tolak Elena tegas
"Aku tidak mau" tolak Aron lebih tegas.
Elena semakin frustasi melihat pria gila yang menculiknya ini, Elena membanting tubuhnya diatas sofa yang berada di ruang keluarga.
"Tunggu dulu, aku bisa kabur tengah malam nanti" batin Elena tersenyum kecil
"Jangan berusaha kabur sayang, kau tidak akan bisa pergi tanpa persetujuan dari ku" celetuk Aron membuat Elena ternganga
"Kau cenayang?" tanya Elena memandang Aron
"Bukan, tapi aku tahu semua tentang mu" jawab Aron duduk di samping Elena
"Ahhh sudah lah, tidak ada guna berbicara dengan orang gila" gerutu Elena memalingkan wajah nya.
Sepanjang malam mereka terus berdebat, hingga Elena tertidur disofa dan Aron lah yang memindahkan nya kekamar Aron.
Malam ini Aron tidur bersama wanita kesayangan nya, itu sudah cukup membuat tidur Aron nyenyak dan juga bahagia.
.
.
.
Lanjut debat ga nih? hihi
Stay tune dan jangan lupa dukungan buat author 😁