My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
TIKUS KECIL



Elena dan Dita baru saja selesai dengan pekerjaan mereka, terlihat waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.


mereka berdua lembur dikarenakan pekerjaan yang cukup menumpuk hari ini, dan juga karena Laras pergi tadi siang.


Kini keduanya sedang berjalan di lantai dasar menuju pintu utama butik "Jessica jemput kita" ucap Dita berjalan beriringan dengan Elena


Elena hanya berdehem sembari melihat ponsel nya "bunda jadi balik kebutik El?" tanya Dita


"gatau juga, belum ngabarin nih" jawab Elena menoleh sesaat kearah Dita.


mereka pun keluar dari butik tanpa menyadari ada orang yang memperhatikan mereka dari kegelapan.


"kita nunggu dicafe depan aja El" ucap Dita yang di setuju oleh Elena.


kini keduanya sudah memasuki cafe untuk menunggu kedatangan Jessica yang menjemput mereka, karena Dita tidak membawa mobil alias di bengkel.


tinggg


ponsel Elena berbunyi pertanda pesan masuk, Elena langsung membuka nya.


Elena menghela nafas "aku baru duduk loh, kenapa ga dari tadi sih" gumam Elena sedikit kesal.


"ada apa El?" tanya Dita memandang wajah sahabat nya.


Elena mendongak dan langsung menunjukkan layar ponselnya, ternyata Elena mendapatkan pesan dari Laras.


Laras mengatakan tidak jadi kembali kebutik dan meminta Elena untuk mengunci ruangan nya.


"akan aku temani" ucap Dita hendak beranjak tetapi ditahan oleh Elena.


"tidak, tunggulah disini saja, Jessica akan mencari jika kita pergi berdua, biar aku saja" ucap Elena berlalu meninggalkan Dita.


Elena berjalan memasuki butik dan langsung menuju lift untuk ke lantai 3, dimana ruangan Laras berada.


Elena sudah sampai dilantai 3, Elena berjalan mendekat ke arah ruangan Laras. sesampainya disana saat Elena hendak membuka hendle pintu, Elena berhenti sejenak.


setelah beberapa saat Elena membuka pintu itu dan masuk, 10 menit Elena di dalam ruangan Laras entah apa yang dilakukan nya.


setelahnya Elena keluar dan langsung mengunci ruangan Laras, setelah itu Elena berlalu kedalam lift.


sedangkan dicafe seberang Dita dan Jessica tampak mulai gusar, kedatangan Jessica sudah setengah jam yang lalu tetapi Elena juga belum kembali.


"hubungi lagi Ta" ucap Jessica yang mulai tidak tenang


"ponsel El tidak aktif Jess" jawab Dita yang tidak kalah kalut.


akhirnya mereka memutuskan untuk menyusul Elena yang tak kunjung kembal, mereka tampak berjalan cepat keluar dari cafe.


Brukkk


ada seseorang yang menubruk Dita "El, kenapa lama sekali?" tertanyata Elena yang tidak sengaja menabrak Dita.


"aku kebelet tadi, udah yuk pulang" ajak Elena yang disetujui oleh kedua nya.


Keesokan paginya mobil Dita sudah bisa digunakan, keduanya sudah berada di mobil menuju butik tempat mereka bekerja.


setelah sampai Elena dan Dita langsung berjalan masuk kedalam butik yang masih sepi karena belum jam operasional.


saat mereka masuk, Elena dan Dita saling pandang saat semua orang sedang berkumpul di lantai dasar.


terlihat wajah gusar Laras "bunda ada apa?" tanya Dita menghampiri Laras yang sudah kalut.


"brankas Dita, isinya semua hilang" jawab Laras sampai menitikan air matanya.


Dita terkejut bukan main, brankas itu berisi disain model terbaru Laras yang akan diluncurkan untuk kontes academy disain internasional dan juga uang tunai senilai 1M.


Dita langsung memandang Elena yang hanya menampilkan raut datar "apa El tahu masalah ini?" batin Dita terus menatap Elena.


"bagaimana kalau kita cek CCTV saja nyonya" ucap salah satu staf dan disetujui oleh yang lain.


mereka semua langsung beralih ke ruang keamanan, beberapa staf masuk begitupun dengan Elena, Dita, dan Laras.


mereka semua menatap layar komputer dengan hati berdebar, hingga tiba tiba mereka semua terbelalak.


reflek mereka menatap kearah Elena yang hanya diam dengan posisi berdiri tegap dan bisa dibilang angkuh, ya memang begitu gaya nya.


"apa ini nak?" tanya Laras yang tidak langsung percaya dengan apa yang dilihat.


di CCTV itu menampilkan seseorang yang memakai pakaian yang sama dengan Elena pakai sedang mengendap endap masuk ke ruangan Laras dan membuka brankas.


Elena langsung menatap wanita itu datar, berbeda dengan Dita yang menatap wanita itu dengan tajam.


"sudah aku duga" batin Elena memutar layar komputer itu agar beralih ke hadapan mereka lagi.


"kalian semua lihat ini!" titah Elena menunjuk layar komputer itu, tepatnya dibagian yang menunjukkan waktu rekaman CCTV.


"dan lihat ini" Elena menunjukkan pesan dari Laras yang dikirim 5 menit setelah kejadian pencurian itu.


"aku berjalan bersama Dita dari butik kecafe depan memakan waktu 10menit, saat aku menerima pesan dari bunda aku kembali setelah 10 menit juga, kurun waktu setengah jam aku sudah pergi"


"dan disini, tidak ada rekaman yang menunjukkan saat aku kembali untuk mengunci ruangan bunda" ucap Elena menjelaskan dan dibenarkan oleh Dita.


Elena mengutak atik komputer itu hingga semua yang janggal sudah terjawab tetapi Elena belum menunjukkan dan menjelaskan kepada mereka.


Elena menatap salah satu staf wanita yang menuduhnya tadi dengan seringai yang mengerikan, membuat wanita itu begitu gugup


"seperti nya ada tikus kecik yang ingin bermain main dengan ku" ucap Elena membuat semua orang mengerutkan kening nya.


Elena berjalan mendekati staf wanita itu yang berusaha tetap tenang, padahal keringat dingin sudah membasahi telapak tangan nya.


plakkkkkk


Elena menampar wanita itu begitu keras hingga wanita itu tersungkur dan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.


Elena mengibaskan tangan nya yang terasa panas dan juga memerah "caramu terlalu rendah untuk menyingkirkan ku" ucap Elena menatap tajam wanita itu.


Dita berlalu untuk mengambil air dingin karena melihat tangan sahabat nya memerah, Dita sudah menemukan benang merah dipermasalahan ini.


plakkkkkkk


semua orang terkejut, ntah sejak kapan Elena berpindah ke samping seorang pria yang bekerja menjadi penjaga ruangan monitor inj.


Elena juga menampar pria itu dengan keras "perbuatan kotor tidak akan bertahan lama jika menyangkut dengan ku" ucap Elena dengan raut dingin.


ruangan itu sudah berubah menjadi sangat mencekam karena tatapan tajam Elena membuat mereka bergidik ngeri, dan satu persatu keluar. mereka sudah bisa menebak siapa pelakunya.


Dita kembali dengan semangkuk air dingin dan handuk putih ditahan nya "kita obati diluar saja" ucap Dita


Elena mengangguk "uang nya masih ada bersama mereka bunda walaupun sudah berkurang, dan untuk disain ny mereka sudah menjual nya dengan rival kita"


"aku sudah menghubungi pihak berwajib untuk menangani pencurian disain bunda, mereka tidak bisa ikut kompetisi itu nantinya" ucap Elena meninggalkan ruangan itu bersama Dita.


Laras menggelengkan kepalanya melihat 2 staf yang sudah bertahun tahun bekerja dengannya kini berhianat.


"maafkan kami nyonya, kami tidak bermaksud seperti itu" ucap staf pria itu dengan berlinang air mata, bahkan sampai berlutut didepan Laras.


"kalian tidak punya hati, El itu sudah seperti putri ku beraninya kalian menjebaknya!" bentak Laras dengan emosi.


"saya iri dengannya nyonya, saya sudah bertahun tahun bekerja disini tapi tidak mendapatkan posisi istimewa seperti.."


plakkkk


Laras menampar wanita itu dengan sangat keras "jangan kau bandingkan dirimu dengan putri ku" ucap Laras dengan emosi tertahan.


Elena dan Dita hanya diam saja mendengar makian Laras kepada 2 penghianat itu sembari tangan Dita mengompres tangan Elena.


beberapa saat kemudian beberapa polisi masuk "salam nona Elena dan selamat pagi" ucap komandan polisi itu.


Elena memberikan sebuah flashdisk berwarna putih kepada komandan polisi itu "bawa mereka" ucap komandan polisi itu kepada bawahan nya.


"semuanya sudah jelas disini, maaf mengganggu waktu anda di pagi hari komandan" ucap Elena dengan sopan


"sudah menjadi tanggung jawab kami nona, butik itu sudah kami tangani dan mereka akan resmi di tutup" ucap komandan itu dengan senyum hangat.


komandan polisi itu sangat kagum dengan Elena "terimakasih atas bantuan nya" ucap Elena menjabat tangan polisi itu.


Roy yang sudah sampai beberapa saat lalu semakin merasa kagum dengan gadis itu "kau membuatku semakin ingin memiliki mu El" batin Roy menatap Elena dengan seulas senyum manis.


.


.


.


hehe tikus kecilnya udah cabut ya bestie ya wkwk.


jangan lupa dukung author dan ikutin terus kisah hidup Elena yah🤗