My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
MERAYAKAN SENDIRI



Alunan suara takbir memenuhi jalanan kota, semua umat yang merayakan sedang berbahagia hati.


Berbeda dengan Elena yang memandang segalanya dengan datar, tahun ini dia hanya sendiri merayakan semuanya sendiri.


Tanpa adanya tangis bahagia ataupun haru, air mata Elena sudah tak ingin keluar jika hanya untuk menangisi keluarga nya.


Elena berdiri dibalkon sembari memegang sekaleng soda di tangan nya, dada nya terasa sesak hanya saja air mata enggan keluar dari pelupuk matanya yang terlihat kering.


Elena tidak sendiri, Clara yang juga tidak memiliki orang tua atau pun sanak saudara memutuskan untuk merayakan bersama sahabatnya.


Bagi Clara, Elena bukan hanya sekedar sahabat tetapi juga sebagai adik, Clara tahu rasa sakit Elena dan bagaimana wanita ini memendamnya.


Clara memandang punggung Elena yang terus menghadap jalan raya, setitik air mata lolos dari sudut mata Clara.


Elena berbalik dan cepat cepat Clara menghapus nya, karena Elena sangat tidak suka jika orang menangis iba karena dirinya.


"apa kau ingin keluar?" tanya Clara saat Elena sudah duduk disofa bersama nya


"tidak, diluar terlalu ramai" ucap Elena memandang Clara dengan seulas senyum.


"kau benar, aku takut kau hilang" ucap Clara dengan kekehan.


"aku sudah merindukan nya Clar, terlalu berat jika seperti ini" ucap Elena menghela nafas sembari memandang foto Aziel.


"dia juga pasti merindukan mu El" ucap Clara mengelus bahu Elena.


Ting Nong


suara bel apartemen Elena berbunyi, Clara dan Elena saling pandang, siapa yang bertamu pada malam takbiran begini.


Clara berdiri dan langsung menghampiri pintu itu untuk membuka nya, dan melihat siapa yang datang.


"tuan Roy" ucap Clara saat membuka pintu itu.


iya, ternyata yang datang adalah Roy, Roy berpakaian layaknya anak muda bukan pakaian formal berjas yang biasa dipakainya.


"hay Clara, El ada kan?" tanya Roy tersenyum ramah pada Clara.


Clara mengangguk dan langsung mempersilakan Roy masuk, Elena terkejut saat melihat siapa yang datang.


"hay El, keluar yuk" aja Roy duduk di samping Elena, seketika Elena menggeser duduknya.


Roy bukan kali pertama datang ke apartemen Elena, sudah beberapa kali berkunjung dan itupun dengan Laras.


"maaf Pak Roy, aku dan Clara sudah akan pergi kami ada janji" ucap Elena beralasan.


Clara menahan tawanya, Clara tau Elena sedang beralasan agar tidak pergi dengan Roy.


"kalau begitu kita pergi bersama saja" ucap Roy yang memang sangat berkeinginan pergi bersama El.


Elena langsung mendelik mendengar ucapan Roy, kali ini dia memang tidak bisa menolak.


"aku akan bersiap" ucap Elena meninggalkan Clara dan Roy.


Elena menggerutu di dalam kamar sembari mengganti pakaian biasanya dengan sebuah gaun sebetis berwarna baby pink.


setelah selesai Elena keluar menemui Roy dan Clara, Roy memandang takjub wanita yang berdiri didepan ny.


"pergilah berdua El, aku sedang sakit perut" ucap Clara berbohong.


Roy senang bukan main, sedangkan Elena mengumpati sahabat nya dalam hati.


Elena bukan tidak tahu itu hanya sebuah alasan, hanya saja tidak mungkin dia memaki Clara hanya karena beralasan agar tidak ikut.


Clara menahan tawanya melihat wajah kesal Elena, bisa dipastikan setelah Elena pulang nanti Clara akan mendapat makian dari Elena.


kini Elena dan Roy sudah berada dalam mobil milik Roy, Roy begitu senang bisa pergi berdua dengan pujaan hatinya.


"kita kemana El?" tanya Roy menoleh sesaat kearah gadis anggun disampingnya.


"taman saja, yang tidak terlalu ramai" jawab Elena memandang lurus kearah depan.


Roy terus tersenyum senang, jarang jarang kan Elena mau diajak pergi berdua dengan nya.


seteleh menempuh perjalanan beberapa saat, kini mereka sudah berada di sebuah taman yang tidak terlalu ramai.


"aku beli minum dulu ya" ucap Roy dan Elena hanya mengangguk, setelah itu Roy pergi meninggalkan Elena.


Elena menghela nafas "mimi merindukan mu nak, apa kau tidur dengan baik disana tanpa mimi?" Elena terus merindukan Aziel.


tawa renyah bocah tampan itu terus berputar dikepalanya, Elena sangat rindu saat saat dimana dirinya bermain dengan Aziel.


Elena berjalan menyusuri sungai kecil buatan itu, tangan nya merapatkan outer berwarna putih yang dipakainya.


Brukkkk


"ahhhh" ada seseorang yang tidak sengaja menyenggol Elena cukup keras membuat keseimbangan Elena hilang.


untung saja orang itu langsung menangkap pinggang Elena sehingga Elena tidak terjatuh.


beberapa saat Elena dan orang itu yang ternyata seorang pria saling pandang.


Elena menatap manik biru pria itu, Elena tidak bisa melihat wajahnya karena pria itu memakai masker dan penutup hoodie.


Elena tersadar lebih dulu saat merasakan pelukan pria ini semakin erat, Elena langsung menegakkan dirinya


"maafkan aku, aku tidak sengaja" ucap Elena dengan kepala tertunduk.


ntah mengapa hatinya berdebar ketika berdekatan dengan pria, yang dirinya sendiri saja tidak kenal.


"aku juga minta maaf, aku permisi" ucap pria itu dengan suara berat nya dan berlalu pergi.


Elena memegangi dadanya "kok berdebar sih, ah mungkin aku tadi terkejut hampir jatuh sebab itu aku berdebar" gumam Elena menggelengkan kepalanya.


Tidak lama Roy pun kembali dan langsung menyerahkan secup minuman rasa matcha kepada Elena.


Dari jauh tepatnya didalam mobil, pria yang menabrak Elena tadi sedang memandang kearahnya.


ternyata pria itu adalah Aron, Aron memang sengaja mengikuti Elena karena tidak ingin Roy berbuat lebih pada gadis kesayangan nya itu.


Aron juga sengaja menabrak Elena dan memeluk pinggang gadis itu tadi, paling tidak kerinduan Aron menatap wajah cantik itu sedikit terobati.


"aku sedang menunggu waktu yang tepat sayang, jika itu sudah tiba maka kau akan tinggal bersama ku"


"bersabarlah sedikit lagi, penderitaan mu karena hidup sendiri akan berakhir" ucap Aron menatap tangannya yang memeluk Elena tadi.


hatinya merasa sangat senang, apa lagi wangi tubuh Elena menempel di tangan dan hoodie yang dipakainya.


Aron tidak pernah merasakan hal demikian, apalagi ketika bayangan masa lalu tentang nya datang membuat dirinya sangat membenci wanita.


Aron selalu memandang wanita sama saja, bagi Aron wanita itu seperti barang yang bisa dibeli dan di buang jika sudah bosan.


tapi ketika memandang manik coklat yang memikat hatinya, Aron merasa dirinya sangat berbeda.


jika dirinya ingin berkencan dengan wanita lain, hati Aron merasa dirinya telah menghianati gadis kecil kesayangan nya itu.


sejak malam purnama itu pula Aron tidak pernah berkencan dengan wanita mana pun, padahal model model itu sering menyambangi nya.


Aron tahu hatinya telah tertambat di gadis kecil itu, Aron juga bingung kenapa harus Elena yang terpilih dari sekian banyak wanita yang sering ada diranjang bersama nya.


Aron tersenyum kecil melihat potret Elena yang ada diponsel nya, gadis itu bisa menerbitkan senyum yang telah lama hilang di bibir Aron.


Elena saja tidak melakukan apapun kepada Aron, bahkan Elena saja tidak mengenal Aron, tetapi pria casanova itu bisa begitu tertarik dengan gadis kecil yang bersifat dingin sama seperti nya.


memang benar kata orang jika jodoh adalah cerminan diri sendiri, maka bisa disimpulkan sikap Aron yang dingin akan digabungkan dengan sikap cuek Elena.


siapa pun akan sulit membayangkan jika mereka menjalin hubungan nantinya, Elena atau Aron yang akan memiliki kesabaran tingkat dewa.


.


.


.


Aron menguntit bestie haha, ga masalah deh kan calon istri wkwk.


ikutin terus kelanjutan kisahnya ya bestie dan jangan lupa dukung author😄