
Aron dan juga Fras sempat terlibat perkelahian setelah semuanya terungkap dari mulut Aron sendiri.
Aron memang menceritakan segalanya tentang dia menculik Elena serta alasan nya dan itu membuat semua orang geleng kepala.
"Maaf jika ini menyakiti mu tuan Aron, tapi kau benar benar keterlaluan" ketus Fras merasa tidak Terima dengan tindakan Aron.
Fras tahu kalau Aron bergelut didunia hitam, bagaimana sepak terjang pria tampan ini juga Fras tahu sebab itu Fras marah dengan Aron yang menculik putri nya.
"Aku tidak peduli tuan Fras, Elena tetap calon istriku dan aku tidak menerima larangan dari kalian" ucap Aron dingin.
Fras hanya bisa menghela nafas "jaga lah Elena dengan baik dia berharga bagi kami" jawab Fras mengalah.
"Tanpa kau minta pun aku akan menjaganya karena dia berlian ku" ucap Aron yang terus memandang Elena.
Di ruangan itu hanya tersisa Aron dan juga Fras, Laras sendiri sudah dipaksa pulang oleh Fras begitupun dengan sahabat Elena yang lain.
"Apa kita akan menyembunyikan ini dari keluarga aslinya?" tanya Fras menoleh kearah Aron.
Aron langsung memandang Fras dengan raut bingung pertanda tidak mengerti alur pembicaraan yang Fras maksud
"Kehilangan Elena sudah sampai ditelinga keluarga kandung nya, aku harus menjawab apa mereka terus mendesak ku" ucap Fras menjelaskan.
Aron mengangguk mengerti, Aron juga tahu bahwa mereka kalang kabut mencari Elena tetapi Aron acuh saja dengan itu hingga peristiwa ini terjadi.
"Katakan saja tapi jangan sebut aku, katakan kepada mereka jika Elena mengalami kecelakaan dan selama ini tinggal diluar kota" ucap Aron memberi keputusan
"Kenapa tidak langsung jujur dengan semuanya? maksud ku, kau akan menikahi El bukan?" tanya Fras yang tidak mengerti
"Aku takut lepas kendali ketika bertemu mereka, akan ku temui setelah aku siap dan berhubung Elena belum sadar undang lah mereka kemari"
"Kau tahu bagaimana perangai mereka kepada Elena bukan?" ucap Aron menghembuskan nafas kasar
"Aku mengerti" gumam Fras menganggukkan kepalanya "lalu pria itu?" tanya Fras menatap Elena dengan lekat
"Jangan khawatir dia sudah menjadi urusanku" jawab Aron yang mengerti siapa yang dibahas oleh Fras
"Aku ingin sekali menyiksa nya" gumam Fras yang masih bisa didengar Aron
"Pergilah bersama Zio jika kau ingin melampiaskan amarah mu" ucap Aron memberi izin
Tanpa bertele tele Fras langsung menyambar jas nya dan keluar untuk menemui zio yang akan megantarnya menemui Martin.
Aron bangkit dan berjalan mendekati Elena, Aron mengecup kening Elena dengan lembut dan satu tetes bulir bening jatuh membasahi kening Elena.
"Aku yakin kau akan tertawa jika melihatku menangis seperti ini bukan?" ucap Aron membelai pipi lembut Elena.
Di markas Aron.
Tepatnya diruang bawah tanah, Martin sedang duduk di sebuah kursi dengan tubuh yang dililit oleh tali.
"Gara gara jal@ng itu aku berada disini" gerutu Martin memandang luka tembak di kakinya.
"Yang kau sebut jal@ng itu putriku" ketus Fras yang muncul dari kegelapan
"Cih, putrimu itu sudah mati sedangkan dia hanyalah jal@ng yang kau pungut dari pinggir jalan"
Plakkkkkk
Darah Fras langsung mendidih saat mendengar hinaan Martin untuk putri kesayangan nya.
"Jaga ucapanmu brengsek! kau marah karena tidak bisa mendapatkan putriku bukan?" seringai Fras dengan memegang sebuah pisau lipat ditangan nya.
"Cih aku yakin sekarang dia sudah mati karena siksaan ku" cibir Martin
Srettttttt
"Akhhhhhh Brengsek!"
Fras menyayat tangan Martin yang diyakini untuk menyiksa putri kesayangan nya itu.
"Kau tidak punya hak untuk membela nya Fras!" bentak Martin
"Kenapa tidak? dia putriku dan akan terus seperti itu" ucap Fras dengan gigi bergemelatuk.
Fras terus menyiksa Martin sampai suasana hatinya cukup membaik, jangan tanya kenapa Fras tega seperti itu karena Fras sempat bergelut didunia hitam.
Semenjak kematian putrinya Fras pun berubah dan membersihkan bisnis nya serta menarik diri dari dunia hitam.
Keesokan harinya, Fras dan Laras sudah berada diruang rawat Elena bersama ketiga sahabat Elena.
Dari dalam mereka mendengar suara tangis beberapa wanita yang mulai mendekat keruangan VVIP itu.
Keluarga Elena datang dan langsung masuk kedalam ruangan Elena, Fras lah yang mengatakan kepada mereka untuk datang.
"Ke..kenapa dia tidak merespon? jawab aku Laras!" desak Ani memandang wajah sayu putrinya.
"El..Elena koma"
Deghhhh
Brukkkk
Anggi dan Ani pingsan secara bersamaan setelah mendengar jawaban Laras yang memandang kosong kearah Elena.
Bibi Elena pun semakin tersedu sembari menggenggam tangan keponakan nya, tangan itu sudah sangat dingin.
"Na bangun sayang ini bibi" lirih Atik, adik kandung Ani yang sangat menyayangi Elena.
Atik tidak tahu bagaimana perangai keluarga nya dan orang tua Elena terhadap gadis ini.
Semuanya terbongkar saat Elena pergi dari rumah, Atik begitu marah dengan kakaknya karena memperlakukan putrinya secara tidak adil.
"Na bangun sayang" bisik Ijam suami Atik sembari membelai rambut Elena
Na, panggilan untuk Elena dari keluarga nya, hanya orang yang kenal Elena dari kecil yang bisa memanggil gadis itu dengan nama itu
Keadaan cukup kacau karena Anggi dan Ani semakin bersedih setelah sadar dan mendapati putrinya belum juga sadar.
Di ruangan yang berbeda tepatnya di ruang pribadi milik Robby, Aron memandang datar tangisan keluarga Elena untuk wanita nya.
Aron memantau semuanya dari CCTV karena tidak ingin kecolongan, bahkan didepan ruangan Elena saja terdapat beberapa bodyguard milik Aron dan Fras.
Sekitar Rumah sakit juga diawasi dengan ketat, Nama Elena yang menjadi calon istri mafia terkejam sudah tersebar didunia bawah tanah.
Ada yang berlomba lomba untuk mengambil Elena yang diyakini sebagai kelemahan Aron agar mengancam mafia itu untuk melepaskan beberapa wilayah nya.
"Apa kau tidak menemui mereka?" tanya Robby yang tidak mengerti dengan pikiran sepupu nya ini.
"Jangan bertanya jika tahu jawabannya" jawab Aron dengan nada ketus.
Robby hanya bisa menghela nafas, Robby sedikit iba melihat sepupunya yang terlihat sangat terpuruk.
Robby tidak pernah melihat Aron seperti ini, bahkan saat kematian opa mereka saja Aron tidak meneteskan air mata.
padahal opa mereka lah yang berperan penting membesarkan Aron saat papi nya sibuk bekerja sedangkan mami nya pergi bersama pria lain.
"Elena, kehadiran begitu berharga bagi sepupu ku" batin Robby memandang wajah Elena dari rekaman CCTV yang ditayangkan di sebuah laptop.
Sedangkan di ruangan Elena, Ani tidak berhenti untuk menyalahkan Fras dan Laras yang lalai menjaga putrinya.
"Kalian gagal menjaga nya, Jika seperti ini kenapa kalian melarang ku untuk membujuk nya pulang!" bentak Ani memandang tajam Laras
"Aku tidak lalai menjaga nya dia dicu.."
"Aku memang lalai menjaganya, tapi kalian tidak ada hak untuk menyalahkan kami karena kalian juga salah"
Fras sengaja memotong perkataan Laras karena hampir saja Laras mengatakan bahwa Elena di culik oleh seorang pria.
Laras menundukkan kepalanya karena hampir saja salah bicara, jika tidak mungkin Aron akan membunuh mereka.
"Aku akan membawanya pulang" ucap Ani
"Tidak bisa, El akan tetap bersama ku" tolak Laras dengan tegas
"Dia putriku!" bentak Ani yang tidak Terima dengan larangan Laras
"Tapi kau gagal menjaganya, dia pergi dari rumah mu karena apa? jangan bawa dia" tolak Laras hingga mengungkit masalah lama
Ani seketika terdiam, dia mulai menyadari kesalahannya terhadap putrinya sehingga gadis itu pergi dari rumahnya
"El sudah membenci mu dan kalian semua, jika saat ini dia membuka mata bisa kupastikan kalian akan diusir olehnya" cibir Laras yang merasa menang
Pandangan Ani menerawang saat dirinya datang ke apartemen Elena dulu, gadis itu begitu marah dan meluapkan segala emosinya saat melihat mereka.
Ani tidak bisa memaksa untuk membawa Elena pulang setelah gadis ini sadar, jika memaksa pun yang ada Elena semakin membencinya.
.
.
.
Jangan lupa makan 😄