My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
HARLINA SMITH



Kabar bahwa Elena adalah calon istri dari CEO Smith groupe membuat seisi perusahaan tercengang.


Aron sudah marang Elena untuk bekerja seperti sebelumnya, tetapi Elena tetap diperbolehkan untuk datang ke perusahaan Aron kapanpun gadis itu ingin.


Pagi menjelang siang ini Aron baru saja selesai melakukan meating bersama klien yang lain.


Aron duduk di kursi kebesaran nya sembari memandang foto Elena yang ada diatas mejanya.


"Ck dia terus melarang ku untuk mempublikasikan hubungan ini" gerutu Aron yang hanya bisa menghela nafas.


Seisi perusahaan diperingatkan Aron agar tidak menyebar luaskan tentang Elena yang menjadi calon istrinya dan itu pun karena paksaan Elena.


Drttt Drttt Drttt


Ponsel Aron berdering, Aron langsung menghela nafas kasar saat melihat siapa yang menelpon nya saat ini.


"Halo oma" ucap Aron setelah panggilan terhubung.


Yap, yang menelpon Aron adalah omanya, Harlina Smith, Harlina adalah ibu kandung Jonathan.


Wanita yang membesarkan Aron setelah Hana pergi meninggalkan keluarganya disaat semuanya sedang tidak baik baik saja.


"Apa apaan kamu Aron, kamu sudah punya calok istri lalu siapa wanita itu?" tanya Harlina dengan nada membentak


Kabar tentang Elena sudah sampai ditelinga Harlina yang berada diluar negeri, dan itupun didapatkan dari mulut Melisa.


Melisa mengetahui saat dirinya datang ke perusahaan ini dan ada salah satu karyawan yang mengatakan semuanya kepada Melisa.


"Aron sudah dewasa oma, Aron punya pilihan sendiri" ucap Aron dengan nada lembut.


"Kamu mau nasib rumah tangga kamu seperti papi mu hah? rumah tangga papi kamu hancur karena tidak mendengarkan oma" ucap Harlina tegas.


"Aron tahu mana yang terbaik untuk Aron oma" ucap Aron dan mematikan sambungan telepon itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat yang berbeda tepatnya di kediaman Aron, Elena baru saja kembali dari kamarnya.


Elena melihat arloji ditangan nya, dua jam lagi waktu sudah menunjukkan jam makan siang.


"Aku masak deh buat Aron, kemarin kan udah belajar dikit dari bik Minah" gumam Elena berjalan kedapur.


Di dapur, terlihat semua koki dan beberapa pelayan sedang sibuk menyiapkan makan siang.


"Ada yang bisa saya bantu non?" tanya seorang pelayan


"Aku ingin memasak"


"T..tapi non"


"Kamu ngapain nak?" tanya Jonathan tiba tiba datang


"Papi aku boleh masak ya? mau masak buat Aron" pinta Elena dengan wajah memohon.


Jonathan tersenyum kecil, menantunya ini memang gadis yang aktif dan mau mempelajari hal baru.


Bukan nya Jonathan tidak tahu beberapa hari ini Elena belajar masak dengan kepala pelayan nya.


"Turuti saja"


"Baik tuan, mari nona" ajak pelayan itu yang disambut antusias oleh Elena.


Beberapa koki merasa sedikit takut jika Elena masuk kedalam dapur, mereka tahu se posesif apa tuan muda mereka.


Jika nona muda ini lecet sedikit saja maka mereka lah yang akan disalahkan, padahal Elena yang memang ceroboh.


"Ngapain non?"


"Bik, bantu El masak yuk buat Aron, nanti El yang antar" pinta Elena dengan mata berbinar.


Bik Minah tidak menjawab tetapi mengalihkan pandangannya kepada Jonathan yang berdiri diambang pintu.


Setelah mendapat anggukan setuju, Bik Minah langsung membantu Elena menyiapkan makanan untuk Aron.


Elena mulai memotong sayuran yang akan digunakan untuk menu siang ini, yang pastinya makanan yang disukai Aron.


Sretttttt


"Sstttt" desis Elena saat tangan nya tergores pisau.


Satu dapur langsung panik hanya karena jari telunjuk mulus dan mungil itu tergores pisau.


Elena melihat semua pelayan dan koki mengeluarkan keringat dingin saat melihat jari Elena yang terluka.


"Aku tidak apa, jangan khawatir"


Elena langsung mencuci tangan nya dan membalut luka itu dengan plaster, lalu melanjutkan masaknya.


Jonathan yang dari tadi memperhatikan Elena dari ambang pintu pun tersenyum kecil, gadis ini begitu perasa.


Setelah menghabiskan waktu satu jam lamanya Elena berkutat dengan alat memasak, kini semua makanan yang Elena masak pun sudah siap.


Bik Minah yang membantu Elena pun sudah menjamin bahwa makanan itu enak jadi Elena dengan senang hati membawakan bekal untuk Aron.


"El mandi dulu bik, bibik masukan ini kedalam tas bekal ya"


"Baik non"


Elena langsung pergi meninggalkan dapur menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya yang terkena bumbu dapur.


Setelah selesai, Elena turun dengan penampilan yang sudah berubah dan sangat cantik.


Gadis itu menggunakan sebuah dress berwarna lilac yang dipadu dengan flatshoes yang berwarna senada.


Rambut panjang nya dibiarkan terurai dan ada sebuah penjepit bunga lili kecil disisi kanan nya.


"El berangkat ya pi, papi makan saja El akan makan bersama Aron, dah pih" pamit Elena dan berlalu bersama Helga dan Amey.


"Mereka seperti trio macan" celetuk Zio


"Aku dengar Zio!" teriak Elena membuat Zio terjingkat kaget.


"Awas kau"


Zio langsung bergidik ngeri saat sebuah ancaman lolos dari bibir mungil itu, Jonathan dan Hugo hanya bisa tertawa melihatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Diperusahaan Aron, Aron sedang menandatangani berkas yang sudah diperiksa oleh Halid.


"Maaf tuan, nona sedang menuju kemari dan membawa makan siang untuk anda"


Seketika raut wajah Aron berubah berbinar.


"Tapi tuan pura pura tidak tahu ya"


"Kenapa begitu?"


"Nona melarang kedua wanita itu memberitahu pada tuan, tetapi demi keamanan Helga menghubungi tadi"


"Ya sudah"


Aron tersenyum lucu melihat tingkah Elena yang berniat memberikan sebuah kejutan makan siang untuknya.


Halid yang sudah kembali kemeja nya pun mengusap wajah kasar saat melihat siapa yang datang mendekati pintu ruangan CEO.


"Anda sudah dilarang masuk nona Melisa" ucap Halid penuh dengan penekanan


"Cih siapa yang meminta izin mu? aku ingin menemui calon suamiku"


Perdebatan diantara keduanya pun terjadi, tidak heran jika Halid selalu bertengkar jika bertemu dengan Melisa karena wanita ini benar benar pengganggu.


Didalam ruangan Aron, Aron sedang merapikan penampilan nya guna menyambut kedatangan calon istrinya.


Terlihat berlebihan karena pria ini selalu kelihatan tampan tetapi yang namanya bucin akut mau bagaimana lagi.


Brakkkkkkk


"Aronn!"


"Maaf tuan saya lengan lagi"


"Hem, biarkan saja" ucap Aron dan membiarkan halid pergi.


"Kamu tega sama aku Aron? kamu lebih memilih upik abu dari pada aku yang seorang model?" ucap Melisa dengan wajah dibuat memelas.


"Apa kepentingan mu datang? jika tidak ada silahkan pergi"


"Aku ingin mengajak mu makan siang bersama, aku bawakan makanan kesukaan mu" jawab Melisa menunjukkan paperback makanan yang ada ditangan nya.


Tok tok tok


"Masuk"


"Anyeong" sapa Elena menunjukkan kepalanya kedalam ruangan Aron.


"Sayang" panggil Aron dengan wajah berseri seri.


Melisa terbelalak kaget, suara lembut itu dan senyum itu tidak pernah ditunjukkan oleh wanita lain selain oma nya.


"Apa aku mengganggu?" tanya Elena mendekati Aron


"Eh ada tante, hay tan" sapa Elena menatap Melisa.


"Tante? umurku setahun dibawah Aron"


"Aku tidak bertanya, aku membawakan makan siang untuk mu sayang"


"Oh ya? kamu memang sangat perhatian" ucap Aron menyanjung.


"Hehe bolehkan meminta imbalan?"


"Cih cewe matre memang selalu meminta imbalan jika melakukan hal kecil" ucap Melisa dengan nada mencibir


"Kamu mau meminta apa sayang? semua untukmu"


"Awww benarkah? kalau begitu belikan aku lolipop yang besar" ucap Elena merentangkan tangan nya.


"Hah? bukannya seharusnya barang branded?"


"Itu sudah banyak Aron belikan tanpa aku minta bahkan ada yang tidak aku pakai, aku hanya suka yang manis manis" jawab Elena.


"Dikabulkan" ucap Aron langsung menyambar ponsel nya dan mengirimi Zio pesan.


"Terimakasih sayang"


Cuppp


Elena mengecup sekilas pipi Aron membuat Melisa terbelalak, Wanita yang pernah tidur bersama Aron saja tidak pernah seleluasa itu memperlakukan Aron.


"Aron aku sudah membawakan makanan kesukaan mu kemari"


Elena memandang paperback yang dibawa Melisa lalu tersenyum mengejak


"Aku tahu selera calon suamiku"


"Kau boleh pergi Melisa"


"Jangan salahkan aku jika oma yang sudah bertindak" ucap Melisa dan berlalu pergi.


Elena tidak gentar sama sekali, kali ini keputusan nya sudah bulat dalam mempertahankan Aron.


Aron miliknya dan akan selamanya seperti itu, siapa pun akan dilawan selain Aron sendiri yang memintanya pergi maka Elena akan pergi.


.


.


.


Nextttt.