
Saat ini elena sudah kembali kekota nya, kini elena sedang duduk diruangan nya bersama ketiga sahabat ny.
jessica dan rasya mampir tadi, elena terus berceloteh mengenai perilaku martin padanya
"aku ingin sekali mencabik cabik wajah tua bangka itu" ucap elena tersungut emosi
ketiga sahabat nya pun merasakan hal yang sama "sial tuh tua bangka bisa bisanya ngomong kayak gitu kekamu el" gerutu jessica mengepalkan tangan nya.
elena sedikit terkekeh melihat raut emosi sahabat nya "sudah habis ceritanya, pergilah kalian masih ada kelas" usir elena
"kau mengusir kami?" tanya rasya memandang elena dengan tatapan sendu
"jangan drama" ucap elena membuat yang lain tertawa.
setelah kepergian Jessica dan rasya, elena pun kembali berkutat dengan pekerjaan nya.
dita datang dengan sebuah map ditangan nya "mereka minta sekarang nih el" ucap dita menyodorkan map itu kepada elena
elena menrima nya dan langsung menutup laptop nya "ya sudah biar aku saja yang antar" ucap elena dan berlalu pergi meninggalkan dita.
elena menaiki sebuah taxi, menuju ke sebuah butik yang cukup jauh dari butik nya, kalau jalan.
elena sudah sampai di butik itu dan langsung melangkah masuk, elena disambut hangat oleh salah satu staf disana.
kini elena duduk di sebuah sofa yang berada di sebuah ruangan sepi "tunggu sebentar nona el" ucap staf yang mengantar elena tadi
"panggil elena saja" ucap elena tanpa menoleh kearah staf itu, staf itu hanya mengangguk saja.
sedangkan di tempat yang tidak jauh dari elena, di sebuah gedung pencakar langit, tepatnya perusahaan smith Groupe.
aron sedang berdiri menatap kearah luar jendela "aku benar benar tidak mengerti dengan perasaan ini"
"tapi ketika aku ingin berhubungan dengan wanita lain rasanya aku seperti menghianati seseorang, aku juga masih normal tapi kok begini yah"
sepertinya aron melupakan sosok gadis yang sudah tertambat dihatinya, semenjak pertemuan malam purnama itu aron sudah tak lagi berselera dengan wanita lain.
ketika dirinya menyentuh tubuh wanita lain, rasanya kepalanya dipenuhi dengan genangan air mata yang dirinya saja tidak tahu milik siapa.
"seperti nya aku harus ke Spikeiater" gumam aron mengusap wajah nya kasar.
elena menggerutu dalam hati karena menunggu pemilik butik itu hingga jam makan siang hampir tiba.
"aishhh dasar sialan, untung tidak ku hancurkan isi butik nya tadi" gerutu elena yang kini berjalan dijalan kecil.
drtt drtt drtt
"iya halo ta" elena menerima panggilan telepon dari dita, manusia posesif
"lama banget woy, udah mau jam makan siang nih" sungut dita menahan emosi
"dih marah sama ku, marah sama nek lampir tuh sono, lagian dia yang ngulur waktu aku" gerutu elena
"ck yasudah cepat kembali" ucap dita mematikan sambungan telepon nya secara sepihak.
elena mencabik kesal karena perut nya sudah merasa sangat lapar, elena berjalan sembari menghentakkan kakinya.
tiba tiba mata elena tertuju pada sebuah mobil yang melaju kencang, elena menoleh keseberang jalan yang terdapat seorang pria tampan sedang berjalan sembari menatap ponsel.
elena terbelalak saat mobil itu menuju arah pria itu "heyy awasss" teriak elena berlari kearah pria itu
"awassss"
Brukkkk
elena menubruk pria itu hingga kini posisi mereka, elena yang menindih pria itu.
pria itu adalah aron, seketika aron membatu di tempatnya dengan posisi dirinya memegang pinggang elena.
aron menatap wajah cantik yang sempat mengganggu pikiran nya itu, beberapa detik pandangan mereka bertamu.
elena tersadar dan langsung menggeser tubuh nya hingga terduduk disamping tubuh aron
"ck tu pengemudi mabuk kali ya" gerutu elena mengusap tangan nya yang sedikit tertempel dengan rumput.
aron pun tersadar "terimakasih sudah menolong ku" ucap aron berdiri lebih dulu.
aron terkejut dan langsung berjongkok didepan elena "lututmu terluka" ucap aron saat melihat celana jeans elena sobek dibagian lututnya dan mengeluarkan darah segar.
elena memandang lututnya "tidak apa, bisa aku obati sendiri" aron membantu elena untuk berdiri
"lain kali jika berjalan jangan fokus pada ponsel, bahaya tidak ada yang tahu" ucap elena menahan nyeri pada lututnya
"apa kau benar baik baik saja?" tanya aron khawatir, ntah mengapa melihat luka gadis ini membuat hatinya teriris
"ini hanya luka kecil, tenang lah aku akan mengobatinya sendiri" jawab elena tersenyum tipis
aron benar benar merasa ribuan kupu kupu sedang berterbangan di perut nya "oh ma..mau aku antar?" tawar aron sedikit gugup menatap manik mata coklat itu
elena menggeleng "aku sudah pesan taxi, aku pergi dulu ya by" ucap elena berjalan sedikit pincang meninggalkan aron.
elena berbalik sesaat dan melambaikan tangan kepada aron dengan seulas senyum yang dijawab sama oleh aron.
aron terus menatap kepergian elena hingga gadis itu masuk kedalam taxi yang berhenti didepan nya.
Hugo berlari mendekat kearah aron dengan tergopoh, tadi dirinya melihat sang tuan hendak tertabrak dari lantai 3 perusahaan besar itu.
"maaf tuan tadi lift penuh, saya memakai tangga darurat" ucap hugo dengan nafas memburu
"cari tahu tentang gadis itu hugo" ucap aron masih menatap jalan yang dilalui elena
"hah? gadis tuan? saya tidak melihat wajahnya" ucap hugo bingung dengan titah taun nya
aron menatap kepala bodyguard nya dengan tajam "ntah mengapa kau sekarang jadi begitu bodoh hugo"
"CCTV banyak, lihatlah wajahnya dengan CCTV sekitar sinj, jangan hanya karena aku belum memanggil helga kembali kau jadi linglung" ketus aron pergi meninggalkan hugo.
hugo nyengir kuda "aku benar merindukan helga tuan muda" batin hugo dalam hati mengikuti langkah bos nya.
elena sudah sampai didepan butik, elena masuk kedalam butik dengan jalan yang tertatih
"sttt kenapa perih sekali" gerutu elena menahan nyeri di lututnya saat digunakan berjalan.
elena naik ke lantai 3 menggunakan lift, pintu lift terbuka elena berjalan pelan menuju ruangan nya
"el" panggil dita menghampiri sahabat nya, dita langsung melotot melihat lutut elena terluka
"astaga el ini kenapa?" tanya dita mendudukkan elena disebuah sofa yang ada di lantai 3 itu
"ck pelan sial, ini perih sekali, ambilkan saja celana ganti ku akan ku ganti lebih dulu" ucap elena dan langsung dituruti dita.
dita kembali dengan kotak p3k dan sebuah celana kulot panjang berwarna hitam.
elena menerima nya dan langsung berlalu kedalam toilet untuk mengganti celananya.
setelah selesai elena duduk disofa kembali dan luka nya diobati oleh dita dengan bibir mengerucut
laras keluar ruangan nya dan terkejut melihat elena terluka, laras langsung menyambangi kedua gadis itu
"el kamu kenapa nak?" tanya laras khawatir.
elena menghela nafas lalu menceritakan semuanya yang terjadi pada dirinya karena menolong orang.
"utamakan keselamatan mu, jika kau yang terlanggar bagaimana?" gerutu dita yang merasa sangat khawatir
"ck ini hanya luka kecil, kaki ku juga tidak patah jangan berlebihan bodoh" gerutu elena yang tidak terima dimata oleh dita.
laras hanya menggeleng gemas, yang satu begitu posesif yang satu tidak Terima diposesifin. benar benar keras kepala, perdebatan kedua nya sering terjadi tetapi juga cepat akur karena keduanya memang saling menyayangi.
.
.
.
eitsss ketemu nih ketemu nih ketemu wkwk, kebetulan yang sangat kebetulan ya bestie hahaha
jangan lupa dukung author dan ikutin terus kisahnya 😄