My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
END



Elena dengan perlahan membuka kain hitam yang menutupi wajah pria yang disekap nya bersama dengan Hana.


Melisa terlihat menampilkan raut tegang bahkan peluh sudah mengucur deras didahi nya.


"Taraaaaa!" antusias Elena membuka penutup kepala itu.


Semua orang terbelalak melihat siapa pria itu, bahkan Arga juga sangat terkejut melihat nya.


"Arilandro" serempak mereka menyebutnya.


Dia adalah Arilandro, Elena benar benar mengumpulkan semua bukti dengan akurat hingga bisa mengumpulkan musuh nya disini.


Arilandro menatap mata Elena sendu sedangkan Elena hanya menampilkan raut datar didepan pria itu.


"Kenapa? kau kecewa? sudah ku katakan, yang ada di dirimu itu hanya obsesi belaka" ucap Elena memandang remeh Arilandro.


"Kau fikir disaat obrolan kita bersama Clara aku belum mengetahui segalanya? hanya berpura-pura saja, bagaimana? bagus bukan akting ku?"


Semua orang terkejut mendengar ucapan Elena, bagaimana dengan waktu yang singkat wanita hamil ini bisa mengetahui segalanya.


"Kau bukan pria yang tepat untuk ku, karena dia..." Elena menghentikan ucapan nya dan menunjuk Aron dengan jari telunjuknya.


"Pria yang tepat dan bisa memenangkan hati ku" ucapan Elena bagai sebuah tamparan keras dihati Arilandro.


Elena sudah mengetahui semua rencana licik mereka, bahkan Arilandro merencanakan pembunuhan Aron jika Elena tidak bertindak.


Elena menipu Arilandro dan mengatakan bahwa dirinya membutuhkan pertolongan Arilandro sehingga pria itu benar benar datang untuknya.


Arilandro yang bodoh tidak menyadari bahwa wanita yang diincar nya sudah mengetahui segalanya dan apa yang akan dilakukannya.


"Nak.."


"Iya papa, El sudah mengetahui segalanya dan El juga tahu bahwa Arilandro adalah pria kedua yang papa jodohkan dengan El setelah Aron"


"Jangan tanya El tahu dari mana karena sangat susah menjelaskannya, El tidak marah pada kalian tetapi El merasa bangga karena El mampu membawa mereka bertekuk lutut di hadapan El"


Brukkk


Helga mendorong kasar tubuh Melisa dan menahan tangan nya, kini posisi melisa sedang berlutut dikaki Elena.


"Bagaimana?" tanya Elena memandang Melisa sembari memainkan alisnya.


"*Aku akan membunuh anak mu wanita jal*ng*" ucap Melisa menatap Elena tajam.


"Maka nafas mu tidak lagi berhembus sebelum melakukan itu" ucap Elena terkekeh.


"Nona muda terlihat sangat menakutkan jika seperti itu ya Hugo" bisik Zio ditelinga Hugo.


"Maka jangan mengacau nya jika masa depan mu tidak ingin hilang" ucap Hugo melirik kebawah.


Zio langsung memegang aset berharga nya, sekujur tubuhnya terasa bergetar karena ancaman Hugo.


"Kau mengancam ku sialan"


"Tidak, nona memang seperti itu karena aku yang sudah pernah bekerja sama dengan nya" jawab Hugo santai


Halid menahan tawanya saat melihat raut wajah Zio yang panik, Halid paham apa maksud ancaman Hugo tadi.


"*Lepaskan aku wanita jal*ng*!" bentak Melisa.


"Jangan berkata kasar, aku tidak mau janin ku mendengar celotehan buruk mu itu" ucap Elena mengelus perut nya.


Aron berdiri dan menghampiri istrinya, Aron memeluk pinggang Elena posesif membuat Melisa semakin menatap tajam Elena.


"Sudah sayang?"


"Belum"


"Hah?" terkejut Aron karena merasa musuh mereka sudah habis.


"Mey.."


"Yakk nona, dia sudah mati dan tidak mungkin aku membawa jasadnya kemari" jawab Amey sebelum Elena menyelesaikan ucapan nya.


"Siapa yang membunuhnya?"


"Tentu saja calon suami Helga" jawab Amey menatap Hugo.


"Dari pada aku yang mati" jawab Hugo datar.


"Kau ini, seperti tidak bisa melumpuhkan nya saja" gerutu Elena.


"Siapa sayang?" tanya Jonathan.


"Tentu saja Liam Axely papi"


"APAAA!" terkejut mereka membuat Elena terjingkat.


"Aishhh kuping ku sakit" gerutu Elena.


"Sayang, kamu bermain main dengan bahaya" ucap Aron menatap tajam istrinya.


"Bukan kerjaan ku, itu semua ku limpahkan pada Hugo benarkan Hugo?" ucap Elena menoleh pada Hugo.


"Benar tuan muda, lagi pula nona muda selalu bersama anda selama ini" jawab Hugo


"Licik sekali putrimu Boy" bisik Arga ditelinga putranya.


"Kau licik sekali sayang, aku akan menghukummu" ancam Aron dan langsung dipeluk Elena.


"Jika tidak begini tidak akan selesai Aron, aku ingin melahirkan dalam keadaan sudah tenang" ucap Elena mendongakkan kepalanya.


Aron menghembuskan nafas kasar, rasanya begitu bahaya jika membiarkan wanita licik ini tanpa pengawasan sedikit pun.


"Lain kali beritahu aku" ucap Aron mengecup kening istrinya.


"Tentu" jawab Elena tersenyum senang.


Clikkkk


Suara pistol yang sudah terisi dengan peluru pun terdengar, terlihat Harlina yang menodongkan pistol kearah Melisa.


"O...oma, jangan oma Mel mohon oma" mohon Melisa yang sudah bergetar takut.


"Terimakasih sudah membawa wanita ular ini kehadapan oma sayang, setelah ini mereka adalah urusan kami" ucap Harlina tersenyum lembut pada Elena.


"Bawalah istrimu pergi Aron" ucap Arga menepuk pundak cucu menantunya.


"Bolehkah aku melih..."


"TIDAK!" ucap mereka tegas membuat nyali Elena menciut.


"Kembalilah keatas bersama suami mu nak, mama ingin wanita ini menbayar atas niatnya yang ingin mencelakai calon cucu mama" ucap Ani.


Aron pun menggiring Elena pergi meninggalkan ruang tamu dan membawa istrinya ke kamar mereka untuk melanjutkan hukuman Elena yang akan diberikan Aron.


Harlina sudah bersiap menarik pelatuk yang ada ditangan nya, Harlina masih menanti sampai Elena benar benar tidak mendengar suara tembakan.


"Oma, Mel mohon oma ja..jangan" mohon Melisa yang sudah menangis sesenggukan.


"Kau harus membayarnya"


Dorrrrr


Satu tembakan berhasil melubangi kepala Melisa hingga akhirnya wanita itu pun tidak bernafas lagi dengan mata yang masih terbuka lebar.


Sretttt


"AKHHHH!" teriak Hana saat sebuah belati menggores lengan nya hingga meninggalkan luka menganga.


"Sakit bukan? putriku juga pasti sakit saat memikirkan segalanya disaat kalian membuat rencana untuk menghabisinya"


"Bunuh saja aku sialan!" bentak Hana.


Jlebbbbb


"A..AKKHHH"


"Ku turuti" ucap Ani setelah menusuk tepat dibagian tenggorokan Hana hingga wanita itu sudah tak bernyawa lagi.


"Kau membuat ku kecewa Arilandro"


"Kau yang tidak menepati janji paman" jawab Arilandro menatap remeh Bram.


"Setelah ku katakan bahwa putriku suda dimiliki pria lain seharusnya kau sadar"


"Kau sudah berhutang janji lalu apa salahnya jika aku menagih nya"


"Kau tidak tahu rasa terimakasih Arilandro, kau menikah putriku juga karena ingin mengalahkan kekayaan Aron" ucap Bram yang sudah geram.


"Tapi aku juga sangat mencintai putrimu Bramasta Agarandra" ucap Arilandro menyebut nama lengkap pria tiga anak itu.


"Dengan cara mencelakai putra sahabat ku?"


"Lalu? aku harus menculik putrimu juga sedangkan dirimu melarangnya?"


"Putriku sudah mencintai satu pria Arilandro"


"Disitulah salah nya, jika saja dari dulu kau mengambilnya lebih cepat mungkin dia sudan bersamaku"


"Tidak jika memang El ditakdirkan untuk putraku" sela Jonathan.


"Putramu saja menculik El, tuan Jonathan"


"Itu lah pengorbanan nya" jawab Arga menodongkan pistol kearah Arilandro.


"Kau sudah salah mengambil jalan anak muda"


Dorrrrr


Arga melepaskan pelatuk nya tepat diwajah Arilandro hingga kini wajar tamoa uty sudah tak terlihat lagi.


Arga juga menembakkan pistol nya beberapa kali ketubuh Arilandro hingga akhirnya sudah tak bernyawa.


.


.


.


Ga gereget? ya maaf sanggup nya sampai sini doang😅 semoga suka ya readers dan selalu beri dukungan buat author 🤗