
Malam yang gelap ditemani oleh hujan yang sangat deras, membuat siapa saja ingin langsung masuk kedalam selimut.
Disebuah rumah mewah, tepatnya disebuah ruang kerja yang luas. Aron sedang menatap kearah luar jendela.
gambaran saat pertemuan nya dengan seorang gadis tadi siang berputar kembali di kepala nya.
tanpa disadari sudut bibir Aron terangkat saat mengingat senyum elena yang begitu memikat hati.
tok tok tok
"masuk"
3 orang kepercayaan aron masuk dan langsung duduk disofa, begitupun dengan Aron
"saya sudah mendapatkannya tuan muda" ucap Hugo membuka pembicaraan.
Aron hanya mengangguk, Hugo memberikan sebuah amplop besar berwarna coklat kepada Aron, Aron menerima nya.
"gadis itu bernama Elena G****resya, dia as..."
"panggil dia nona, kelak dia akan menjadi nona muda dirumah ini" Aron memotong ucapan Hugo yang hanya bisa mengangguk.
Halid dan Zio hanya bisa saling pandang karena mereka tidak tahu siapa yang kedua orang ini bahas.
"baik tuan, nona Elena bekerja sebagai sekretaris nyonya Laras dibutik nya, nona Elena tinggal bersama sahabat nya yang bernama Dita, Dita putri dari meneger pemasaran anda dikantor"
"nona el bukan asli sini tuan, nona el asli orang kampung didaerah A, sahabat nona El bukan hanya dita, tetapi juga ada Jessica dan Rasya"
"jessica putri dari meneger keuangan Anda, sedangkan rasya putri dari dokter kepercayaan dokter Robby" Hugo menjelaskan secara detail tentang Elena bahkan hal terkecil sekalipun.
Aron tersenyum tipis memandangi selembar foto Elena yang ada di tangan nya, ketiga orang kepercayaan nya sedikit terkejut melihat perubahan raut wajah bos nya.
"beliau bukannya gadis lulusan terbaik di sekolah anda tuan" celetuk Halid membuat mereka langsung menoleh pada Halid.
aron langsung memandang hugo "benar tuan, dia lulusan terbaik disekolah paket milik anda beberapa bulan yang lalu" jawab hugo.
"berarti dia putri angkat nya Fras" batin Aron yang kembali memperhatikan wajah Elena, dan saat itu pula Aron menyadari bahwa pertemuan mereka pada malam bulan purnama itu bukanlah pertemuan pertama.
"kenapa aku baru sadar sekarang? tanpa ku ketahui kau telah mencuri hatiku saat pertama kali aku melihat mu disekolah itu tetapi aku malah acuh dengan perasaan itu" batin Aron tersenyum tipis
"apakah yang kalian bicarakan itu, Elena Gresya seorang selebgram cantik itu?" Zio yang dari tadi hanya mendengarkan kini membuka suara nya.
Zio tidak sengaja melihat foto Elena yang ada diatas meja, Aron langsung menoleh pada Zio lalu pada Hugo meminta jawaban.
"benar Zio, nona El cukup terkenal di sosial media. tidak sedikit yang menawari nya untuk menjadi model ambasador suatu produk tetapi ditolak nya"
"saya dengar, nona El menolak karena sosial media baginya hanya suatu permainan bukan tempat cari uang" jelas Hugo.
"heh sombong sekali" gumam Aron terkekeh kecil melihat tingkah gadis kecil yang berhasil membuat hatinya tertambat itu.
"kan benar" pekik Zio membuat mereka semua terjingkat.
"hehe maaf, saya ngefans sama nona El tuan muda" ucap Zio menyodorkan ponsel nya yang memperlihatkan akun sosial media Elena.
Aron menerima nya dan langsung menggulir seluruh isi beranda sosial media Elena.
"apa banyak yang menyukai nya?" tanya Aron memandang Hugo, seketika wajah Hugo tampak gugup
"katakan" titah Aron dengan raut dingin.
"banyak tuan"
Brakkkk
begitu Hugo menjawab Aron langsung menggebrak meja membuat 3 orang kepercayaan nya terjingkat kaget
"siapa?" tanya Aron dengan wajah yang sudah memerah
"adik nyonya Laras tuan, tuan Roy, lalu pria masa lalu nona yang sering mengirimi nona makanan, dan..." Hugo tampak ragu melanjutkan
Aron menatap Hugo tajam, Hugo menelan salivanya dengan kasar, bulu kuduknya sudah meremang karena gugup
"tuan Martin, tuan" ucap Hugo membuat Aron membelalakkan mata nya
"benar tuan" ucap Hugo yang sudah mengerti jalur pikiran bos nya "saat kita ingin melakukan misi, nona El melakukan pertemuan dengan martin"
seketika mata Aron semakin menajam "Martin menjadi Coustemer yang melakukan pembelian secara besar besaran tuan, dan itu ada tujuan nya"
"tujuan Martin ingin mendapatkan nona, karena nona juga Martin keluar dari persembunyiannya" ucap hugo menjelaskan
Raut wajah Aron semakin menggelao, ntah mengapa ada rasa tidak rela saat Hugo mengatakan Elena banyak disukai oleh pria apa lagi yang satu ini adalah musuh nya.
Tangan Aron mengepal kuat "jangan marah dulu tuan, lihat ini" ucap Hugo membuka laptop dan menunjukkan sebuah rekaman.
ternyata itu rekaman pertemuan Elena dan Martin, karena Hugo yang memang ditugaskan untuk mencari tahu tantang Elena jadi dia mendapatkan rekaman CCTV ini.
mereka semua menonton bersama, wajah Aron memerah saat tangan Martin menggenggam lengan gadis pujaan nya.
tiba tiba "puffft" Halid dan Zio menahan tawa saat Elena menampar Martin begitu keras bahkan sudut bibirnya berdarah.
Aron yang melihatnya merasa sangat bangga tidak tahu kenapa, Hugo hanya menggelengkan kepala saja karena sudah tahu isinya.
"mulut nona beracun sekali Halid, seperti ular cobra" bisik Zio ditelinga Halid
"ck diamlah" gerutu Halid yang takut disembur oleh Aron.
Aron menggelengkan kepala nya dan terkekeh kecil melihat wajah amarah Martin karena ucapan pedas Elena.
Dikediaman Elena dan Dita, Elena sedang duduk disofa dengan segelas coklat hangat ditangan nya.
Elena mengusap telinga nya "apa ada yang membicarakan ku" batin Elena menyeruput coklat panas nya.
"jadi pertemuan selanjutnya, si tua bangka itu minta sama kamu juga E****l?" tanya Dita yang duduk di samping Elena.
tok tok tok
belum sempat Elena menjawab ada suara ketukan di pintu "biar aku buka, sepertinya Rasya sudah pulang" ucap Dita berlalu menuju pintu utama.
Dita memebuka pintu itu dan terkejut melihat siapa yang berdiri disana "pak Roy?" ucap Dita memandang bingung.
Yah benar, yang datang adalah Roy ditengah deras ny hujan begini, Roy datang dengan paperback di tangan nya.
Roy hanya tersenyum hangat, Dita langsung mempersilahkan Roy masuk dan menggiringnya kesofa.
Elena terkejut saat melihat siapa yang dibawa Dita "saya buatkan minum dulu pak, El kamu disini dulu" ucap Dita meninggalkan kedua orang itu.
Elena fokus kembali pada buku di tangan nya tanpa memperdulikan Roy yang terus menatap nya.
"El aku bawakan donat ini, kamu suka?" ucap Roy menyodorkan paperback yang dibawa nya kepada elena.
"udah kenyang" jawab Elena tanpa memandang wajah Roy
Roy menghela nafas, terlalu sulit mencairkan es batu satu ini tetapi Roy juga tak kunjung menyerah.
Dita kembali lalu menyuguhkan segelas teh kepada Roy "terimakasih" ucap Roy menyeruput teh buatan Dita.
Dita menoleh kepada sahabat nya yang terus bungkam, Dita ingin sekali berteriak ditelinga Elena karena gadis itu sangat cuek pada adik bos mereka.
akhirnya Dita lah yang mengajak Roy berbicara, Elena hanya bisa diam sembari membaca buku nya seakan akan diruangan itu hanya dirinya sendiri.
hingga malam semakin larut, Roy pun memutuskan untuk pulang. baginya tidak apa Elena bersikap dingin dan cuek padanya yang penting bisa melihat gadis cantik itu.
.
.
.
eitsss udah mulai nih si Aron ya bestie hehe
staytune ya bestie ikutin terus kisah Aron dan Elena, apakah Elena akan membuka hatinya untuk Aron? rencana apa yang Aron miliki untuk mendapatkan Elena.
jangan lupa dukung author ya bestie