My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
BERADA DITANGAN MUSUH



Malam semakin dingin, mobil yang ditumpangi Elena melalui jalanan sepi yang dikelilingi pohon pohon tinggi seperti hutan.


Tiba tiba mobil itu berhenti "ada apa pak?" tanya Elena menatap pria paruh baya yang ada disamping nya


"Seperti nya mogok neng, biar saya cek dulu ya" ucap pria paruh baya itu keluar dari dalam mobi.


Elena sebenarnya menahan rasa takut dari tadi karena suasana nya sangatlah horor membuatnya bergidik ngerih.


Elena keluar dari dalam mobil karena pria paruh baya itu tidak kunjung selesai, ntah apa yang diperbaiki nya.


"Bagaimana pak?" tanya Elena mendekati pria paruh baya itu


"Sebentar lagi neng tunggu aja didalam mobil" ucap pria itu dengan menyeringai tanpa diketahui oleh Elena.


"Kalau aku jalan ga masalah kek nya" batin Elena menatap jalanan gelap sepi dingin dan yah menakutkan


"Emmm saya jalan saja ya pak, bapak bisa datang ke apartemen yang saya katakan tadi besok"


Saat elena ingin melangkah pria paruh baya itu menahan tangan nya dengan genggaman yang cukup kuat


"Tunggu saja disini neng" ucap pria paruh baya itu dengan nada penuh penekanan


"Lepas, aku gamau" tolak Elena mencoba melepaskan cekalan tangan pria itu.


Beberapa mobil datang dan berhenti tepat didepan mereka, seorang pria tambun turun dan mendekati Elena


"Halo gadis nakal" ucap pria tambun itu menyeringai


"Bayaran saya tuan Martin" ucap pria paruh baya yang membawa Elena tadi


Martin memang memerintahkan beberapa orang untuk mencari keberadaan Elena, Martin juga dengar kalau Elena menghilang.


Pria paruh baya yang menolong Elena adalah orang suruhan Martin, siapa sangka jika berlian itu ditemukan di pinggir jalan.


Mobil itu sebenarnya tidak mogok, pria paruh baya itu diam diam mengirimi Martin pesan agar mengambil Elena dari tangan nya


"Kerja bagus" ucap Martin melempar amplop tebal berisi uang kepada pria paruh baya itu


"Apa mau mu tua bangka" ketus Elena menatap Martin tajam


"Kau kenapa selalu seperti ini kepada ku sayang? kita nikmati beberapa hari kedepan sebelum aku menghabisi mu ya"


Martin memerintahkan anak buah nya untuk membawa Elena, tentu saja Elena tidak tinggal diam gadis itu terus meronta


Pengawal yang kewalahan pun akhirnya memukul bagian belakang Elena hingga gadis itu pingsan dan membawanya pergi.


Di Markas Aron.


Aron sedang mengamuk habis habisan setelah mendengar penjelasan dari pengawalnya


Bahkan dua tubuh yang terbujur lemas tak bernyawa kini ada didekat kaki nya, dua mayat itu adalah dua pengawal yang membawa Elena pergi.


Ralat, mobil mereka yang ditumpangi Elena untuk kabur dari markas Aron sampai tidak diketahui oleh siapa pun.


Aron sudah mengecek jam tangan yang dikhususkan untuk Elena tetapi semua GPS jam tangan itu berada dimarkas pertanda Elena tidak memakainya.


"Cari calon istriku, jika kalian tidak menemukan nya maka nyawa kalian semua yang akan habis!" bentak Aron menatap tajam pengawalnya.


Semua pengawal Aron bergerak cepat mencari keberadaan nona muda mereka, pikiran buruk melayang di kepala setiap pengawal.


Di markas Martin.


Seorang gadis sedang terbaring diatas ranjang, kelopak mata nya mulai bergerak gerak.


"Shhhh aww" lirih Elena menahan nyeri di area belakang kepalanya karena pukulan dari pengawal Martin


"Dimana aku?" gumam Elena menatap sekeliling, Elena melihat kamar mewah yang bernuansa putih gold.


"Martin sialan" umpat Elena saat melihat foto siapa yang sedang terpajang didinding kamar itu.


"Lepaskan aku brengsek!" teriak Elena menggedor pintu kamar Martin


Martin yang mendengar teriakan Elena pun langsung datang dengan seringai mengerikan nya


"Halo sayang, kau sudah bangun?" sapa Martin menatap tubuh Elena dengan tatapan Lapar


"Jaga pandangan mu sialan!" bentak Elena menatap tajam Martin


"AKHHH!!" rambut Elena ditarik kuat oleh Martin hingga beberapa helai pun terlepas dari kepalanya


"Kemana saja kau selama ini he? apa kau tahu jika aku ingin menculik mu sehingga kau melarikan diri?" tanya Martin dengan gigi bergemelatuk


"Lepas brengsek!" teriak Elena menahan nyeri dikepalanya, seakan kulit kepalanya akan terlepas dari tempatnya


"Kita akan bersenang senang" ucap Martin menghempaskan tubuh Elena hingga membentur dinding.


Dimarkas Aron.


Aron semakin gusar karena sudah dua jam anak buah nya tidak juga mendapatkan keberadaan Elena.


Hugo lari dengan tergopoh bersama Zio dan juga Halid menghampiri Aron yang berada di ruang keluarga


"Lapor tuan, Nona muda ada di markas milik Martin" ucap Hugo


Rahang Aron semakin mengeras, emosinya semakin tersulut saat mengetahui dimana wanitanya berada.


"Kita berangkat sekarang, habisi siapapun yang kalian jumpai" ucap Aron dan langsung beralih ke mobil.


Di markas Martin.


Bughhhhh


Martin menendang perut Elena hingga wanita itu memuntahkan darah segar dengan tubuh yang semakin melemah


"Kau berani menolak ku hah?" bentak Martin menjambak rambut Elena dengan kuat hingga gadis itu mendongak


"Heh, tubuh mu itu tidak membuatku bergairah sedikitpun" ucap Elena dengan kekehan.


Selain penolakan Elena, ucapan Elena juga sangat pedas membuat Martin terus tersulut emosi.


Bughhhh


Bughhhh


Brakkkkk


Elena terlempar dan membentur meja hingga pelipis nya mengeluarkan darah segar


"Aron tolong aku Aron, sakit" lirih Elena yang tiba tiba teringat pria yang mengaku sebagai calon suaminya.


Martin menyeret tubuh Elena dan menghempaskan nya keatas Ranjang dengan kasar.


"LEPASSSA!" teriak Elena sekuat tenaga saat tubuh Martin menindih tubuhnya membuat Elena jijik bukan main.


Martin menciumi Elena dengan brutal, bahkan kancing piyama Elena sudah terlepas berceceran dilantai.


Martin tidak menyadari kekacauan yang terjadi diluar, bahkan mayat mayat bergelimpungan memenuhi mansion milik Martin.


Aron terus berjalan sembari melesatkan tembakan kesiapa saja yang ada disana, bahkan pelayan pun tak luput dari serangan mereka.


Aron mempercepat langkahnya menaiki tangga menuju lantai tiga mansion mewah milik Martin yang sudah hancur berantakan.


Aron menyusuri lantai tiga rumah itu, Aron terus mencari keberadaan Elena hingga telinga nya samar samar mendengar teriakan wanita kesayangan nya.


"Lepaskan a..aku" lirih Elena dengan tubuh yang semakin melemah.


"Kita mulai sekarang" ucap Martin hendak membuka semua pakaian Elena


Bughhhhhh


Aron langsung menarik tubuh Martin dan melesatkan bogeman untuk Martin dengan membabi buta.


Samar samar Elena melihat wajah Aron yang dipenuhi amarah sedang menghajar Martin secara brutal.


"Mati kau brengsek!" bentak Aron menendang perut Aron


"Apa apaan kau Aron!" bentak Martin dengan sisa tenaga nya


"Dia calon istriku brengsek!"


Deghhhh


Martin terkejut bukan main, pasalnya dia ingin mengajukan perdamaian pada klan milik Aron tetapi kini Martin semakin membuat Aron murka.


"A...aron tolong a..aku" lirih Elena dengan kesadaran yang hampir habis.


Dorrrr


Dorrrrr


Aron melesatkan timah panas ke kaki Martin agar pria ini tidak bisa melawan lagi.


Aron langsung menghampiri Elena dan menutupi tubuh gadis itu dengan jacket kulit yang dikenakan nya.


"Ma..maaf" lirih Elena menatap sendu Aron


"Tidak sayang, bertahan lah kau akan baik baik saja" ucap Aron menatap sendu Elena dengan mata yang sudah berkaca kaca


Rahang Aron semakin mengeras saat tangan nya mengusap lembut rambut Elena tetapi rambut itu luruh ditangan nya.


"Stttt ter..terimakasih" lirih Elena menahan nyeri di sekujur tubuhnya.


Aron langsung menggendong tubuh Elena tanpa memperdulikan teriakan kesakitan dari Martin


"Bawa Martin ke markas, jangan biarkan dia mati" ucap Aron kepada Hugo.


Halid sudah menunggu Aron, melihat Aron membawa tubuh lemah Elena, Halid langsung membukakan pintu dan melesatkan mobil nya.


Sepanjang perjalanan Aron terus menatap wajah Elena yang sudah kehilangan kesadaran nya.


Beberapa bagian tubuhnya masih mengeluarkan darah segar, bagian kepalanya pun juga seperti nya terbentur sesuatu yang tajam.


"Bertahanlah sayang, aku akan membalas perbuatan nya dengan sakit yang tidak bisa dia bayangkan dan pada saat itu dia akan lebih memilih mati".


.


.


.


Jangan lupa nyengir😁