My Man Is The CEO Of Casanova

My Man Is The CEO Of Casanova
TANPA NAMA



Pesta ulang tahun Elena pun berjalan dengan baik dan meriah, tidak sedikit pula kado yang diterima Elena, baik dari kerabat Aron, rekan kerja Aron dan Jonathan, sahabat mau pun teman Elena, serta kerabat Elena.


Berbagai pula kado yang diterima Elena, dimulai dari mobil, villa, perhiasan, barang branded dan sebagainya yang mewah mewah.


Siang ini Elena sudah berada dirumah karena masuk kuliah hanya satu jam, Elena duduk disofa ruang keluarga sendirian.


Elena memandangi kotak putih berpitakan kain pink yang membuatnya penasaran, bahkan nama pengirim nya saja tidak ada.


FLASHBACK ON:


Elena baru saja keluar dari gedung kampusnya menuju parkiran dimana mobilnya berada, Elena sendiri karena Jessica akan ke Perpustakaan terlebih dahulu.


"Permisi" sapa seorang wanita yang tidak pernah dilihat Elena disekitar universitas ini.


"Apakah anda Elena Gresya Agarandra?'


" Hah? Agarandra? nama ku hanya Elena Gresya tidak ada Agarandra nya" jawab Elena jujur.


"Ada seseorang yang meminta saya memberikan ini kepada Anda nona Agarandra"


"Nona Agarandra? aku bukan nona Agarandra mbak, maaf nama saya hanya Elena Gresya" tegas elena


"Yang penting ini tertuju kepada Anda nona, saya permisi" ucap wanita itu memberikan kotak berwarna putih yang berpitakan kain pink kepada Elena.


"Kok maksa sih? lagian siapa coba yang punya nama belakang Agarandra" gerutu Elena membawa kotak itu pergi.


FLASHBACK OFF:


"Agarandra" ucap Elena mengeja nama itu


"Terdengar familiar tapi siapa? itu pasti seperti nama keluarga besar seperti papi yang memiliki nama belakang Smith" gumam Elena memperhatikan kotak itu.


"Kamu sudah pulang nak?" tanya Jonathan yang baru kembali ntah dari mana


"Papi dari mana?"


"Bertemu klien papi sayang, apa itu?" tanya Jonathan yang duduk disamping Elena.


Elena mengendikkan bahunya karena memang tidak tahu apa isi dari kotak itu, bahkan pengirimnya saja tidak ada.


"Papi, papi tahu nama belakang Agarandra?"


Deghhhhhh


Seketika tubuh Jonathan menegang mendengarkan pertanyaan Elena yang keluar langsung dari bibir wanita ini.


"Papi"


"Ehh? ohh, ehh i..iya apa sayang?"


"Kok gugup?" tanya Elena memicingkan matanya


"Papi hanya teringat dengan ponsel papi yang tertinggal" elak Jonathan


Elena hanya menganggukkan kepalanya percaya, Jonathan pun bernafas dengan leha karena tidak ketahuan oleh menantunya.


"Kamu tanya apa tadi?"


"Agarandra, nama itu pasti sama seperti nama belakang papi dan Aron kan?" tanya Elena


"Memang nya kenapa sayang?" tanya Jonathan lembut


"Dia yang memberikan itu"


Degghhhh


Lagi lagi tubuh Jonathan menegang, melihat Elena menunjuk kearah kotak itu sudah memperjelas segalanya.


"Siapa pengirimnya sayang?"


"Tidak tahu, yang memberikan nya seorang wanita bahkan dia menyebutkan nona Agarandra, nama siapa itu? aku saja tidak kenal" ucap Elena bingung.


"Papi kenal?"


"Heh? e..enggak sayang, papi ga kenal" kilah Jonathan


"Apa itu sayang?" tanya Aron yang tiba tiba datang


"Loh kamu ga ke kantor sayang?"


"Karena aku tahu kamu pulang cepat sebab itu aku ga ke kantor"


"Apa hubungan nya?"


"Tidak ada, hanya ingin menghabiskan waktu dengan calon istriku" ucap Aron menggoda


"Terdengar seperti suara buaya" gumam Jonathan


"Apa itu?" tanya Aron lagi


"Tidak tahu, ada yang memberikan kepada ku dan dia memanggil ku dengan nama nona Agarandra"


Deghhhh


Mata Aron langsung terbelalak, seketika Aron memandang Jonathan yang juga terlihat gusar


"Siapa pengirimnya?"


"Tidak tahu sayang karena disini tidak ada nama pengirimnya, dan juga seorang wanita seumuran Helga yang memberikannya kepada ku"


"Kamu sudah buka?"


Elena menggeleng karena memang belum membuka kotak hadiah yang memang terlihat indah itu.


"Aku buka ya" ucap Elena dan langsung menyambar kotak itu


"Jangan sa...."


"Wahhhh indah sekali" ucap Elena setelah melihat isi di dalamnya.


Elena mengeluarkan sebuah boneka hello kitty berwarna putih yang ukurannya tidak terlalu besar.


"Lihatlah sayang, ini boneka yang dulu pernah aku minta sama almarhum papa tapi tidak langsung dibelikan dan papa berjanji akan membelikan ini saat ulang tahun ku"


Dorrrrr


"Ahhhhhh a..apa, suara apa itu?"


Aron langsung memeluk erat Elena karena suara tembakan yang begitu nyaring dan berasal dari halaman depan.


"Lapor tuan, Albert tiba tiba menyerang dengan membawa pengawal yang banyak" lapor Hugo yang datang dari depan.


Dorrrr


Dorrrr


Dorrrr


"Aaaaahhh papa!" teriak Elena dalam dekapan Aron.


Bik Minah berlari dari arah dapur menuju ruang keluarga saat mendengar suara tembakan yang dibarengi dengan suara teriakan Elena.


"Nona!" panggil bik Minah mengelus kepala Elena.


"Bawa Elena pergi bik" titah Aron mengurai pelukan nya.


"Ti..tidak, tidak mau Aron, ayo pergi bersama jangan tinggalkan aku"


"Sayang dengar aku, ini tidak akan lama sayang aku akan kembali"


"Tidak mau, papi ayo pergi papi mereka membawa senjata papi" rengek Elena menarik jas Jonathan.


Jonathan merasa tidak tega melihat wajah Elena yang berlinang air mata, gadis ini masih memikirkan mereka disaat genting seperti ini.


Dorrrr


Dorrrr


"Keluar kau Aron dan Jonathan, berikan gadis kecil itu kepada ku!" teriak Albert dari luar yang sedang berdiri bersama putranya Lucas.


"Mereka mengincar El, cepat pergi bersama bik Minah sayang"


"Tidak mau, nanti mereka menyakiti mu Aron"


"Tidak akan terjadi apa apa sayang, aku tidak mau kamu terluka jika terus disini" ucap Aron mencoba menenangkan Elena.


"Ayolah nona, tuan akan kembali dengan keadaan yang baik baik saja" ucap bik Minah menggenggam tangan Elena.


Dorrrr


Pyarrrr


Suara pecahan kaca dan tembakan terus Bersahutan, suara perkelahian antara kubu Aron dan Albert pun terus terdengar.


"Pergi nak pergi" desak Jonathan


"Ayo nona" ucap bik Minah menarik Elena.


"Tenang sayang, aku berjanji akan kembali untuk mu"


"Aku menunggu mu Aron, jangan ingkari janjimu terhadap ku!" teriak Elena dan berlalu bersamamu bik Minah dan beberapa pelayan lain nya.


Bik Minah dan pelayan rumah Aron memang sangat lihai dalam ilmu bela diri jadi Aron tidak terlalu khawatir memberikan Elena kepada mereka.


Helga dan Amey menyusul bik Minah yang sudah sampai didepan pintu paviliun belakang rumah Aron yang menjadi tempat menuju ruang bawah tanah.


"Helga, Aron disana Helga" rengek Elena memegang lengang Helga.


"Tenang nona semua akan baik baik saja" ucap Helga membuka handle pintu itu dan mereka semua masuk kedalam sana.


Amey membuka pintu yang menuju ruang bawah tanah, pintu itu terbuat dari bahan baja dan anti peluru.


4 orang pelayan wanita, Bik Minah, Helga, Elena dan Amey langsung masuk kedalam ruang bawah tanah yang cukup gelap.


"Bibik, ini sangat gelap" gumam Elena yang mulai merasa tidak nyaman.


"Sial, aku lupa kalau nona fobia gelap, aku akan mencari penerangan" ucap Helga dan membuka lemari yang ada disana.


Brukkkkk


"Ahh ahh, bik gelap sekali" rintih Elena yang mulai merasakan sesak


Dorrrr


Dorrrr


Suara tembakan terus terdengar hingga ruang bawah tanah, semua wanita itu mulai panik dengan keadaan Elena.


Brakkkkkk


Pintu paviliun didobrak paksa dari luar, beruntung saja Amey sempat menutup pintu ruang bawah tanah dengan karpet tebal.


"Helga apakah dapat?"


"Tunggu sebentar, bersabarlah non"


Helga dibantu oleh Amey dan keempat pelayan lainnya untuk mencari senter maupun lilin yang dapat memberikan cahaya diruangan gelap ini.


Brakkkkkk


Dorrrr


Deghhhh


Helga dan Amey langsung mengalihkan pandangan nya menuju pintu ruang bawah tanah tempat mereka masuk.


.


.


.


Gantung? wkwk.